Sumber Inspirasi Tidak Pandang Bulu


Aku termasuk sosok yang dianugerahkan semangat tinggi oleh Tuhan YME. Aku bersyukur, karena dengannya aku menjadi lebih hidup. Setiap waktu aku berdoa semoga Tuhan YME menjaga semangat ini demi terciptanya lingkungan yang bermanfaat, karena aku yakin semangat itu menular.

Hingga pada suatu hari akhirnya aku lolos seleksi Kelas Inspirasi Bandung 2 yang diselenggerakan pada tanggal 19 Februari 2014 kemarin, statusku di acara tersebut adalah seorang “Inspirator”. Bangga membacanya. Namun pada awalnya aku merasakan ketidaklayakan. Menurut pikiran sempitku, seorang inspirator adalah sosok yang sangat hebat dan  layak menjadi panutan. Selama masa tunggu sampai hari inspirasi, kuyakinkan diri siapapun bisa menjadi inspirator, dan aku salah satunya. Apa modalku? kupikir. Semangat! Ya, semangat.

***

Sedikit kuceritakan tentang diriku. Aku adalah seorang Apoteker. Saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan farmasi sebagai Quality Assurance (Pemastian Mutu). Kegiatanku sehari-hari berhubungan dengan dokumen, dalam waktu yang berkala, aku pun melakukan audit dan memastikan bahwa segala kegiatan telah sesuai dengan instruksi kerjanya. Apabila kuceritakan hal ini kepada adik-adik seperti apa yang kutulis, pasti mereka tidak mengerti. Aku sederhanakan bahwa kegiatanku sehari-hari adalah seperti seorang detektif. Ceritaku kurang lebih seperti ini… “Pekerjaanku adalah mengumpulkan bukti-bukti kegiatan yang telah dilaksanakan, apabila tidak ada buktinya berarti kegiatan tersebut tidak dilaksanakan. Selain itu, apabila ada hal yang tidak beres, aku bertugas mencari penyebab masalahnya, memantaunya, dan bersama-sama menyusun tindakan perbaikannya”, dan tentunya aku bercerita dengan bahasa yang dimengerti oleh adik-adik.

Berdasarkan rundingan kelompok dan sekolah, akhirnya aku mendapatkan jadwal untuk “menginspirasi” adik-adik kelas 4, 5, dan 6. Seminggu sebelum hari inspirasi, kupersiapkan segala hal termasuk lesson plan. Aku akan memandu adik-adik membuat kemasan obat. Telah kupersiapkan kerangka dus obat sehingga mereka tinggal menyusun, menulis, dan melengkapi dus obat tersebut dengan nama obat dan manfaatnya sesuai dengan kreativitas mereka. Kegiatan tersebut aku rencanakan untuk adik-adik di kelas 4 dan 5. Sedangkan untuk adik-adik di kelas 6, aku akan memandu mereka untuk memasukkan serbuk garam ke dalam cangkang kapsul sebagai peragaan membuat obat kapsul.

Tidak hanya materi saja yang aku persiapkan, satu hal lain yang sangat penting yaitu ice breaking. Hal ini untuk mengantisipasi kebosanan dan ya! menambah semangat tentunya! Hanya dua ice breaking yang kupersiapkan, yaitu salam WHOOOOS! dan Chicken Dance. Puji syukur it works! J

***

Akhirnya hari inspirasi dimulai. Kelas pertamaku adalah kelas 4. Aku beruntung mendapat kelas ini di awal-awal kegiatan saat masih belum begitu “panas”, karena menurut inspirator yang lain, kelas ini adalah kelas yang paling sulit diatur hehe..

Taraaa… Ku perkenalkan diri. Tidak aku pungkiri bahwa kelas 4 ini adalah kelas yang paling aktif dibandingkan dengan dua kelas lain yang aku ajar. Stok kemasan yang tadinya akan kupakai di kelas 4 dan 5 habis digunakan hanya di kelas 4 ini saja. Setiap langkah dan setiap kalimat yang mereka tulis selalu diiringi dengan pertanyaan, “Bu, ini bagus tidak” atau “Boleh tidak Bu bikin obat X”, lalu mereka akan mengharapkan jawaban “Iya sudah benar” atau “Bagus” dariku. Mereka adik-adik yang sangat kritis dan perfeksionis hehe… Buktinya stok kemasanku habis di kelas ini karena setiap kesalahan sekecil apapun itu mereka ingin menggantinya. Ada kekhawatiran di benakku…. wah mereka takut salah. Tetapi segera ku tenangkan saja bahwa apapun pekerjaan baik yang mereka lakukan itu akan benar jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Kelas ini diakhiri dengan menari bersama diiringi Chicken Dance. Aku berhasil menutup kelas dengan sangat happy!

Kelas kedua yang aku datangi adalah kelas 6. Simpanan materiku masih ada, yaitu membuat kapsul. Untuk materi kelas 5 nanti aku masih mencari kreativitas akan seperti apa, karena alat peragaku sudah hampir habis.

Aura ketika aku memasuki kelas 6 sangat berbeda dengan aura ketika aku masuk kelas 4. Di kelas ini suasana sangat tenang, aku disambut dengan salam yang terasa sangat syahdu membentuk lantunan nada yang seragam dengan tempo yang tidak begitu cepat. Sesaat setelah aku menjawab salam, aku tersenyum menatap setiap penjuru kelas. Aku sedikit grogi pada awalnya, aku berusaha menangkap perhatian mereka.

Adik-adik di kelas 6 sudah bisa diajak berdiskusi. Aku lebih banyak sharing di kelas ini. Aku bercerita tentang seorang apoteker, pekerjaannya, pendidikan yang harus ditempuh, sampai dengan cara membuat obat. Adik-adik di kelas ini pun sangat kritis, mereka bertanya apakah semua penyakit ada obatnya, berasal dari apa cangkang kapsul, sampai kiat-kiat masuk ke universitas favorit. Terjadi adegan haru ketika aku bercerita tentang kiat-kiat masuk ke universitas favorit karena aku bercerita secara detail, sampai mendeskripsikan kebahagiaan orang tuaku. Tanpa terasa air mataku menetes di ruangan itu di hadapan adik-adik. Aku pun melihat ada beberapa adik-adik yang sama terharunya denganku. Ruangan menjadi hening. Ibu Wali Kelas yang juga berada di ruangan tiba-tiba ikut berbicara, “Nah, itu adalah bentuk rasa bangga orang tua terhadap anak. Ibu juga sering nih nangis karena anak-anak, tapi nangisnya karena anak-anak nakal”. Adik-adik tersenyum malu. Suasana mengalir kembali. Dan kelas ini pun diakhiri dengan menari bersama diiringi Chicken Dance. Lagi, aku berhasil menutup kelas dengan sangat happy!

Kelas terakhir yang aku datangi setelah istirahat adalah kelas 5. Di kelas ini sebenarnya aku sudah kehabisan alat peraga. Jadi pada akhirnya aku berkreasi secara spontan. Aku membuat  yel-yel yang berhubungan dengan obat-obatan secara spontan. Walaupun begitu aku sama sekali tidak merasakan grogi di kelas terakhir ini. Mungkin karena semangatku sudah mencapai kadar tertinggi yang telah diisi sejak pagi tadi sehingga mau dibawa kemanapun aku sudah siap. Ibarat baterai handphone yang sudah full charged. Di kelas ini aku bercerita tentang pengembangan obat. Puji syukur anak-anak di kelas ini pun kritis, mereka banyak bertanya sehingga kelas tetap hidup. Untuk terakhir kali, Chicken Dance menutup kegiatan di kelas ini, bahkan kita menari 2 putaran! Terima kasih Chicken Dance, lagi-lagi ice breaker ini sukses menutup kelas dengan sangat happy!

***

Pada akhir acara aku semakin yakin bahwa setiap orang bisa menjadi inspirator. Mengapa? Karena ketika apel pulang di lapangan dan koordinator acara bertanya “Siapa yang cita-citanya mau jadi Apoteker?” Banyak suara yang menjawab saya! Saya! Padahal pada saat apel awal hanya sedikit suara yang tahu siapa itu Apoteker. Jadi bukan masalah tentang siapa kita, tetapi tentang bagaimana kita.

Aku dan adik-adik bertukar inspirasi. Mereka mentransfer inspirasi padaku tentang betapa antusiasnya mereka mengenal hal baru. Lalu cita-cita “sederhana” mereka yang seperti ini “Ingin menjadi masinis dan orang baik”, telah cukup membuatku lebih bersyukur karena sudah berada di jalan “orang baik”.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang telah diberikan. Terima kasih Kelas Inspirasi Bandung. Terima kasih inspirator, dokumentator, guru, adik-adik SDN Neglasari 2 dan 5. Satu lagi yang membekas bagiku, selain berbagi inspirasi, hikmah lain di acara ini adalah sesuai dengan  ungkapan Man proposes, God disposes, mengingat lesson plan­ yang tidak berjalan mulus sesuai dengan rencanaku namun disempurnakan oleh rencana-Nya yang sangat indah.

Semangat saja tidak cukup. Karya adalah perwujudannya. Kelas inspirasi ini adalah bukti nyata bahwa setiap orang bisa menjadi inspirator. Kalau aku bisa, kamu pun pasti bisa. Salam Inspirasi!

21 Maret 2014

Gambar

Advertisements

One thought on “Sumber Inspirasi Tidak Pandang Bulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s