Pengalaman Keguguran


Ini adalah pengalaman saya di kehamilan pertama. Pada usia 9 minggu, janin dinyatakan tidak berkembang, jadi terpaksa harus dikeluarkan dari rahim saya. Saya sih awalnya biasa saja, tetapi ketika ditanya ini itu lalu tersadar, kok sedih juga ya.. hmm. Kejadiannya begitu cepat dan keputusan untuk kuretase pun cepat diambil oleh saya dan suami. Kami cuma bisa pasrah dan nurut saja apa yang disarankan oleh dokter, yang terbaik lah yang kami inginkan.

***

Pertama kali saya kontrol ke dokter itu pada saat minggu ke-6 masa kehamilan (dihitung dari HPHT). Pada saat di-USG, bakal janinnya belum terlihat, namun kantung kehamilan sudah ada. Belum ada perasaan was-was disini, karena baca-baca dari forum diskusi internet banyak juga yang mengalami hal sama. Yowes jadi jalan ae aja…

Belum sempat kontrol kedua kalinya, ketika memasuki minggu ke-9 kehamilan, saya mendapati bercak darah pada pagi hari. Setelah mandi dan bersih-bersih bercak itu tidak muncul lagi sampai malam harinya. Besoknya adalah hari Senin jadi saya masuk ke kantor seperti biasa. Tidak diduga, pada siang hari saya mendapati bercak lagi. Akhirnya sepulang dari kantor saya memutuskan untuk cek ke dokter terdekat untuk memastikan bahwa kandungan saya baik-baik saja. Jenjreng….namun ternyata hasilnya kurang positif, dokter menyatakan bahwa kemungkinan saya mengalami blighted ovum karena yang terlihat di layar USG hanya kantung kehamilannya saja, sedangkan isinya tidak ada. Dokter sempat menyinggung tentang kuretase, tetapi saya diminta untuk datang lagi 2 minggu kemudian.

Besoknya saya masih penasaran. Akhirnya saya ditemani ibu memutuskan pergi ke dokter kedua untuk dicek. Dokter kedua mengatakan bahwa janin telah terlihat (Alhamdulillah) tetapi…. detak jantungnya tidak ada, dan ukurannya pun lebih kecil dari yang seharusnya usia 9 minggu. Dokter kedua merekomendasikan untuk tindakan kuretase, bahkan saya sampai diberi surat rujukan untuk langsung ke UGD apabila sudah diskusi dengan suami. Sebelum pulang, dokter mempersilakan saya untuk mengecek ke dokter lain sebagai second opinion (wah dokternya tidak tahu kalau saya ngecek lagi berarti sudah third opinion hehe..) Saya pertimbangkan lagi karena dua dokter yang telah didatangi memiliki diagnosa yang berbeda. Walaupun keduanya memiliki diagnosa yang negatif, saya masih berharap ada keajaiban untuk pengecekan selanjutnya.

Saya menelepon suami dan menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter kedua. Suami terus bertanya mengenai banyak hal dan menanyakan apakah dia perlu pulang ke Bandung. Saya pikir kalau mau pulang ya pulang saja, tidak perlu menanyakan persetujuan. Bahkan seharusnya inisiatif pulang (pikiran saya waktu itu.. hehe maaf pak bos). Saya mulai speechless. Saya tutup teleponnya tanpa berkomentar karena saya sudah tidak bisa membendung air mata. Mungkin suami saya semakin khawatir lalu akhirnya dia mengirim pesan bahwa sore ini dia pulang ke Bandung.

Suami sampai di Bandung malam hari. Tangis saya sempat pecah begitu menyambut sambil memeluknya. Malam itu juga kami berdisuksi dan akhirnya diputuskan untuk melakukan pengecekan ke dokter kandungan yang ketiga esok hari. Ternyata dokter ketiga memiliki diagnosa yang sama dengan dokter kedua, yaitu janin tidak berkembang. Di situ saya sudah pasrah. Dokter ketiga menceritakan tentang detail kondisi, kemungkinan penyebab, dan jadwal tindakan apabila mau dikuretase. Ternyata jadwalnya adalah esok hari. Saya tidak menyangka secepat itu, tetapi ya sudah apabila harus dikeluarkan dari rahim, maka saya ikuti saja prosedurnya. Saya diberi surat rujukan untuk kuretase dan pengecekan laboratorium. Pengecekan laboratorium saya lakukan hari itu juga. Selain itu kami juga membereskan peradministrasian, mulai dari pembayaran, tata laksana sampai dengan pemberian informed consent oleh petugas kesehatan disana.

Saya dijelaskan bahwa kuretase adalah tindakan 1 hari (tidak dirawat inap) dan nanti akan dibius total. Saya dan suami dimintai persutujuan dan menandatangani pernyataan. Saya diberi tahu bahwa besok pukul 6 pagi harus sudah ada di UGD. Saya melihat lokasi ruang operasi tetapi tidak melihat keadaan di dalamnya.

Akhirnya hari H tiba. Ketika jam 6 pagi saya disuruh tiduran dulu di UGD. Tekanan darah diperiksa. Lalu saya dipindahkan ke tempat yang setiap orang masuk kesana harus memakai pakaian berwarna biru muda (seperti pakaian operasi) dan sandal harus dilepas. Tindakan kuretase akan dimulai pukul 9 pagi. Saat itu saya hanya ditemani oleh suami sedangkan orang tua dan mertua akan menyusul siang harinya. Sebelum dipindahkan ke kamar tindakan, saya disuruh mengganti baju dengan baju seperti baju operasi dan  diberi obat vaginal terlebih dahulu yang katanya akan berefek mulas. Sampai mendekati pukul 9 saya tidak merasakan mulas sama sekali. Lalu tangan saya disuntik dan dipasang selang penyambung infus. Ini adalah pertama kalinya saya mengalami tindakan yang berhubungan dengan kesehatan cukup serius. Sebelumnya saya tidak pernah diinfus dan saya tidak pernah dirawat inap.

Jam 9 pun tiba. Saya didorong oleh perawat ke kamar lain, kamar yang diatas pintu masuknya ada satu lampu bohlam  seperti kamar operasi. Saya tidak menyangka bahwa kamar tindakan kuretase itu seserius ini. Hanya ada 1 tempat tidur di dalam ruanagn itu yang di sekitarnya dikelilingi beberapa instrumen dan tepat diatas tempat tidur itu ada lampu-lampu besar seperti difungsikan untuk penerang observasi pada saat operasi. Alat untuk memonitor tekanan darah yang dapat merekam berapa tekanan darah saya dalam setiap 3 menit dipasangkan di lengan. Saya memerhatikan nilai tekanan darah setiap alat itu berbunyi. Lama-lama semakin tinggi. Mungkin saya cemas. Perawat melihat saya tegang dan saya disuruh tenang. Hampir 15 menit saya menunggu dokter anestesi dan dokter kandungan di dalam kamar itu. Mungkin saya sengaja dimasukkan sebelumnya agar saya membiasakan diri.

Akhirnya dokter anestesi datang, ketika obat bius disuntikkan lewat jalur infus yang sebelumnya sudah dibuat, tangan saya terasa dingin. Tidak lama dalam hitungan detik saya langsung tidak sadar total.

Selama 2 jam saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Bangun-bangun saya sudah berada di kamar tunggu sebelum operasi. Di hidung saya terpasang selang oksigen dan ada suami serta orang tua. Beberapa lama kemudian dokter datang dan menanyakan kabar. Perawat membawa sampel hasil kuretase dan menjelaskan bahwa sampel tersebut akan dibawa ke bagian patologi anatomi. Kebetulan mertua saya adalah dokter patologi anatomi, suami saya bertanya kepada ibu apakah nanti hasilnya dapat diketahui penyebab keguguran? Ibu bilang tidak. Kita hanya dapat mengetahui apakah benar itu sampel kehamilan atau bukan. Dan memang benar, setelah beberapa hari hasil PA keluar, kesimpulannya sampel adalah sisa kehamilan.

Setelah beberapa jam semua kembali normal. Saya tidak merasakan apa-apa, malah saya merasa seperti habis bangun tidur yang nyenyak sekali.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Hampir-hampir saya tidak percaya kalau saya telah melewati kejadian emosional yang besar. Saya sedih tetapi tidak berlarut. Sempat ada kekhawatiran apakah saya bisa hamil sehat karena saya pernah baca apabila pernah mengalamai keguguran maka peluang keguguran lagi meningkat. Setelah kejadian itu saya dan suami berusaha hidup sehat dengan memperbaiki asupan nutrisi. Alhamdulillah setelah 2 kali menstruasi, saya kembali positif hamil dan saat ini kandungan saya telah mencapai 17 minggu.

Semoga kita semua selalu sehat. Aamiin.

Advertisements

5 thoughts on “Pengalaman Keguguran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s