Merantau

Merantau. Bagi keluarga saya, terutama dari garis keturunan ibu, merantau adalah sesuatu yang dihindari. Nenek saya bercerita.. dulu ibu saya dan adik-adiknya memang diminta untuk tdak pergi merantau. Alasannya adalah biaya… nanti kalau merantau ada biaya kos, ada biaya  transport, biaya makan, dll. Kalau merantau biaya akan semakin besar, katanya. Mungkin alasan itu logis mengingat kakek saya hanya seorang PNS yang gajinya tidak seberapa yang harus cukup untuk menghidupi istri dan ketujuh anaknya. Prinsipnya, anak-anaknya harus sekolah, bergelar, dan bekerja. Namun syaratnya tidak usahlah merantau. Katanya kurang lebih seperti itu.

Sampai akhirnya di generasi berikutnya, yaitu ibu saya, pada awalnya memang secara halus meminta saya untuk tidak merantau. Tidak dinyatakan, tetapi terlihat dari kekhawatirannya bila saya pergi jauh. Kalau ini mungkin bukan alasan ekonomi tetapi lebih karena rasa sayang beliau terhadap kami bila kami jauh dari keluarga. Nyatanya saya dan adik saya setidaknya pernah merantau ke kota lain. Adik saya karena melanjutkan sekolahnya ke kota Bogor, dan saya karena bekerja di Jakarta. Apakah ada masalah dengan merantau kami kali itu? Tidak. Karena setiap minggu kami masih bisa pulang ke Bandung, tidak perlu khawatir dengan ongkos pulang-perginya.

Nah, cerita merantau jadi berbeda ketika saya sudah menikah. Ini adalah merantau yang sebenar-benarnya. Jauh dari keluarga, jauh dari saudara, jauh dari sahabat karib, jauh dari kolega, dan jauh dari Indonesia. Dimana kamu menjadi sadar bahwa merantau ini adalah suatu proses pendewasaan diri. Dimana kamu menjadi sadar bahwa tiada tempat bergantung selain kepada Allah SWT. Dimana kamu menjadi sadar bahwa memang sebaiknya setelah menikah itu suami istri tinggal bersama dan mandiri supaya bisa tumbuh dan berkembang bersama, tidak tumbuh sendiri-sendiri. Dimana kamu menjadi sadar bahwa kamu sedang menjalani hidup dengan tanggung jawab. Dimana kamu menjadi sadar bahwa inilah peran yang sedang kamu jalani. Dimana kamu menjadi sadar bagaimana caranya bertahan dan menjalani hidup. Dan masih banyak kesadaran-kesadaran lain yang pasti akan saya temukan selama proses merantau ini.

Dengan demikian feeling merantau di keluarga saya berubah karena sudah ada generasi yang merantau dengan sebenar-benarnya. Pengalaman merantau sudah pecah telor di keluarga kami. Akankah generasi berikutnya menjadi lebih berani dan lebih siap untuk merantau? We’ll see…

Thanks Allah.

Spring Trip 2017: Travelling Seminggu ke 3 Negara

Dalam rangka menemani ibu dan bapak mertua yang datang ke Eropa, jadilah kami mengikuti jadwal beliau jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa. Sebenarnya ibu bapak akan berada di Eropa selama 2 minggu dengan jadwal travelling yang padat sekali. Kalau saya tidak salah, destinasi travelling beliau di Eropa adalah ke Perancis, Belgia, Belanda, Jerman dan Austria. Tetapi kami hanya ikut jalan-jalan bersama beliau selama 1 minggu (6 hari 5 malam) dengan tujuan Perancis, Belgia dan Belanda.

Di Perancis kami menginap 2 malam, di Belgia 1 malam, dan di Belanda 2 malam. Fiuuh.. rasanya capek dan jujur saya kurang puas. Saya bertekad bersama suami jika ada rezeki kami ingin mengunjungi negara-negara ini sekali lagi dengan santai. Aamiin..

Namun saya sangat bersyukur. Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di tanah Eropa, bahkan bisa mengunjungi tempat-tempat yang dulu saya lihat hanya di televisi. Perancis dengan menara Eiffelnya, Belgia dengan cokelatnya, dan Belanda dengan tulipnya.

Baiklah.. bermaksud sharing informasi mengenai travelling kami kemarin, berikut adalah rekam jejak kami:

Perancis

Dari Amsterdam Belanda, kami menuju stasiun kereta karena kami akan pergi ke Paris menggunakan kereta Thalys. Kereta Thalys ini adalah kereta cepat yang menempuh jarak Amsterdam-Paris hanya dalam waktu 4 jam saja. Di Paris kami menginap di aparthotel Adagio yang berada di daerah Buttes Chaumont. Kami mengambil yang tipe apartemen karena kami menginap sekeluarga. Di Paris kami membeli tiket bus hop on hop off untuk seharian. Bus ini adalah bus wisata khusus untuk city sightseeing dan kita bisa turun di bus stopnya lalu lanjut lagi ke itenary berikutnya menggunakan bus ini juga. Busnya 2 tingkat, kalo di Bandung yaa semacam bandros sama kayak gitu. Di tengah kota Paris ini kami mengunjungi Arc de Trumph, Menara Eiffel, Katedral Notre Dane, dan Musse de Luvre. Karena ini termasuk travelling irit, kami menggunakan fasilitas yang free saja hehe.. jadi ga ada itu kami naik ke menara atau masuk ke museum Luvre untuk melihat mona lisa. Oya tambahan itenary kami di Paris yaitu ke Istana Versailes. Cukup jauh dari pusat kota, karena kami harus naik kereta lagi.

20170403_115731

Bis Hop On-Hop Off untuk city sightseeing

Belgia

Dari Paris kami balik lagi ke Belgia menggunakan Thalys. Jadi Belgia ini ada di antara Belanda-Perancis. Kami turun di Brussel Zuid. Di Belgia kami tinggal di hotel Slina. Tidak banyak yang kami explore di Belgia. Kami hanya pergi ke pabrik cokelat Neuhause (shop nya) dan Atomium.  Namun saya cukup puas ketika berada di Neuhause karena saya bisa mencicipi cokelat all you can eat hehe..

20170404_131001

Toko cokelat Neuhause dimana kita bisa icip-icip cokelat all we can eat! hihi

Belanda

Tiga hari terakhir kami main-main di Belanda. Hari pertama kami habiskan di Rotterdam. Di Rotterdam kami pergi ke pusat perbelanjaan, tidak ada yang spesial. Di Belanda kami menginap di daerah Alphen a/d Rhein, tepatnya di Hotel Avifauna. Hari kedua kami pergi ke Amsterdam. Oya, sebelum kami ke Amsterdam, kami mampir ke Den Haag untuk mengunjungi Japanese Garden. Saya suka sekali dengan kota Den Haag karena suasananya nyaman, tenang, dan halaman rumahnya luas. Tidak lama kami di Den Haag lalu kami lanjut ke Amsterdam.

Di Amsterdam kami makan makanan Vietnam, tepatnya di restoran Little Sagoon.Saya pernah ke restoran ini sebelumnya dan saya merekomendasikannya ke orang tua karena makanannya enak dan porsinya besar! Taraaa ternyata orang tua juga bilang makanannya enak hehe..

20170304_123515

Salah satu menu yang kami pesan, ini menu ayam

Alhamdulillah. Btw selama perjalanan sebelumnya kami belum pernah makan enak di restoran cantik, demi menghemat biaya haha. Palingan kami makan di restoran cepat saji semacam Burger King dan McD.

Nah, hari ketiga di Belanda inilah yang kami tunggu-tunggu, karena kami akan ke Keukenhoff! Horee! Kami naik kereta menuju Leiden dan sesampainya di Leiden ternyata ada bus khusus yang lanjut ke Keukenhoff. Keukenhoff ternyata sangat luaaaas sekali. Selain ada tamannya, ada juga yang bentuknya (kalau saya sebutnya) sawah bunga. Sayangnya pada saat kami kesana, yaitu minggu pertama April, bunga-bunganya banyak yang belum mekar terutama yang berada di kebun dan sawah bunga. Awalnya kami kecewa tapi akhirnya terobati karena di tengah kebun ada rumah kaca dimana bunga-bunga yang berada di sana sudah berbunga dan berwarna-warni. Tidak salah lagi deh disana kita foto-foto 🙂 dan selesailah destinasi liburan kami sore itu. Kami kembali lagi ke Enschede, Belanda.

Itulah rangkuman liburan Spring 2017 kami. Ingin rasanya saya menceritakan kembali dengan lebih detail untuk tiap negara di postingan yang berbeda. Semoga di lain waktu saya semangat menulis lagi haha. Ini pun saya tulis supaya saya bisa #tbt hihi… berhubung yang tersisa dari liburan kemarin hanyalah foto-foto dan tulisan ini karena saya tidak jamin memori yang ada di otak bisa tersimpan lama (emak2 udah mulai rungsing banyak pikiran) :p

20170407_133341

Rumah kaca di Keukenhoff 🙂

Okee see you in another trip, maybe Summer Trip or Autumn Trip or Winter Trip hehe. Aamiin..

Cheers,

Naik Pesawat Bersama Bayi

Bulan Februari 2017 kami berangkat ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia transit Singapur selama 2 jam. Ini adalah kali pertama Aluna melakukan perjalanan jauh darat dan udara. Kami berangkat dari Bandung sehingga apabila ditotal, lama perjalanan kami seluruhnya Bandung-Belanda adalah 32 jam. Saat itu Aluna berusia 7 bulan. Usia dimana sudah mulai aktif dan reaktif terhadap lingkungan baru.

Pengalaman kami membawa bayi naik pesawat cukup menegangkan karena nampaknya Aluna tidak enjoy naik pesawat. Entah itu karena tidak nyaman, takut karena baru pertama kali, atau mungkin karena capek. Karena tidak enjoy itu jadinya yaaa sering nangis bahkan sampai sulit didiamkan. Saya dan bapaknya sampai bergantian menggendong Aluna sambil berjalan-jalan di lorong kabin untuk mendiamkan Aluna. Yang kami khawatirkan adalah orang sebelah kursi kami terganggu dengan tangisan Aluna yang cukup keras. Terbukti… setelah landing di bandara Schipol, bule yang duduk tepat di samping suami berkomentar, “She’s cute when she slept”. Dag! apa bulenya serius ngomong itu atau nyindir yak? :p

Okee… berdasarkan pengalaman itu, saya akan merangkum beberapa hal mengenai perjalanan naik pesawat dengan bayi:

  1. Pastikan sebelum terbang bayi menggunakan pakaian yang nyaman dan diaper sudah diganti dengan yang baru.
  2. Kalau bisa memilih, pilihlah kursi paling depan karena space di kursi paling depan cukup lebar sehingga mommy bisa meregangkan kaki lebih leluasa, selain itu kita juga bisa request bassinet kepada pramugari sehingga bayi bisa ditidurkan disana. Pengalaman Aluna kemarin, bassinet ini sangat berguna ketika Aluna sedang tidur. Kami bisa beristirahat dengan bebas dan supaya tidak pegal selalu memangku bayi. Kecuali ketika ada turbulence bayi diangkat dari bassinet karena bassinet tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman.
  3. Siapkan makanan kesukaannya baik snack maupun makanan berat, karena siapa tau bayi tidak suka dengan makanan instan yang disiapkan oleh maskapai. Pengalaman Aluna kemarin kejadian, Aluna tidak suka makanan dari maskapai. Beruntung kami membawa bubur homemade yang dibuat sebelum berangkat (kami sempat memasukkannya ke dalam freezer beberapa saat) dan Alhamdulillah rasa dan baunya masih bagus jadi Aluna bisa makan dengan lahap. Untuk air putih panas atau dingin kita bisa minta ke pramugarinya.
  4. Siapkan mainan yang menarik baginya untuk meminimalkan kebosanan pada bayi.
  5. Jika bayi rewel, hadapi dengan tenang. Saya sarankan sih kalau pergi dengan bayi pertama kali naik pesawat perjalanan jauh, ada yang mendampingi untuk bergantian menjaga kalau repot tapi kalau terpaksa pergi sendiri dan percaya diri atau sudah sering bolak-balik naik pesawat ya tidak apa-apa. Cara mendiamkan Aluna kemarin adalah dengan mengajaknya jalan-jalan dan melihat lampu! Maksudnya adalah alihkan perhatiannya ke sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga dia lupa dengan menangisnya dan menjadi lebih tenang. Kalaupun menangis terus sepanjang jalan, harap sabar hee.. yang bisa kita lakukan adalah menjaganya, mencoba meredakan, minimal tidak sampai mengamuk. Mommy pasti punya caranya masing-masing 🙂
  6. Yang bahaya bagi bayi ketika naik pesawat adalah adanya perbedaan tekanan, terutama pada saat take off dan landing. Coba perhatikan, apakah mommy pernah merasa telinga mommy sakit/tidak nyaman pada saat take off/landing? dan ketidaknyamanan itu  menghilang ketika mommy menelan ludah? Nah, pada orang dewasa saja kadang ketidaknyamanan itu terasa apalagi pada bayi. Jadi jangan lupa membantu bayi untuk menelan untuk menstabilkan dirinya. Kalau saya menyarankan sambil memberinya minum, entah itu direct breastfeeding atau melalui botol, yang penting bayi menelan. Kalau bayi tidur bagaimana? Amati dan siaga siapa tau di tengah-tengah bayi terbangun.

Begitulah sedikit catatan saya ketika membawa Aluna naik pesawat. Mudah-mudahan informasi ini membantu mommy yang sedang bersiap-siap membawa bayinya naik pesawat.

Cheers,

Ibu Rumah Tangga

Ternyata oh ternyata menjadi ibu rumah tangga itu luar biasa sibuknya. Pekerjaan tiada henti selama 24 jam. Seputar anak, seputar suami, seputar dapur, seputar kamar tidur, seputar kamar tamu, seputar kamar mandi…. oh oh pantas saja ibu jadi mbah google di rumah. Coba saja perhatikan, “Bu, kaos kaki Bapak dimana?”, “Bu, lihat kunci motor aku nggak?”, “Bu, jam tangan aku dimana yaa aku lupa nyimpen”, “Bu, masak apa?” dll… Wahhhh segudang pertanyaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga ibu pasti tahu (biasanya). HEBAT YAAA IBU-IBU!

Setiap hari ibu rumah tangga selalu dapat kejutan. Pekerjaan memang berulang, itu lagi-itu lagi dengan tujuan akhir sama: RAPI, BERES, KENYANG, HEMAT, tapi prosesnya yang beda. Banyak distraksinya sis! Tapi mungkin beda cerita sih kalau anaknya sudah besar dan mandiri, oh ya, saya juga ga bermaksud men-generalisir ibu rumah tangga seperti yang saya ceritakan disini. Maksud saya adalah saya menceritakan tentang diri sendiri dan mencoba mengejawantahkannya melalui tulisan ini. Maklum, saya newbie jadi ibu rumah tangga, udah gitu baru punya bayi dan hebohnya lagi adalah sekarang saya sedang merantau di negara lain yang jauh dari keluarga #curcolkan haha.

Okaay but the show must go on! Alhamdulillah nya saya menetap di negara maju. Dimana kemudahan di segala bidang kerasa banget, tinggal pinter-pinternya saya beradaptasi dan bersosialisasi. Adaptasi dengan lingkungan yang heterogen, dengan cuaca yang ekstrim, dengan kehidupan mandiri yang (sebaiknya) tidak bergantung pada orang lain, dan dengan kehidupan dimana bayi bergantung pada saya.

Lalu bagaimana cerita saya menjadi ibu rumah tangga? Nano-nano. Saya pernah baca entah dimana bahwa ibu lah yang mengontrol isi rumah, I mean situasi dan kondisi rumah sangat bergantung dengan kondisi emosi ibu. Dan saya jamin itu benar 100%! To be honest saya adalah termasuk pribadi yang mudah emosional. Pada dasarnya sejak dulu saya suka kerapian dan kebersihan tetapi untungnya saya memiliki partner yang tingkat toleransi atas keadaan rumah yang acak-acakan jauh lebih tinggi di atas saya. Jadi kalau menurut saya berantakan, menurut dia belum, itu masih bisa ditoleransi katanya. Jadinya gak menggebu-gebu harus bersih perfect kan? Dan secara natural sejak bersama dia, lambat laun saya mengikuti ritmenya. Saya menjadi lebih toleran dengan yang namanya rumah berantakan. Ini ternyata bekal penting yang harus dimiliki oleh ibu rumah tangga newbie yang tidak memiliki ART, supaya tidak stress melihat rumah kotor, karena pasti akan kotor melulu dan tidak bisa dihindari. Apalagi bahaya kalau sampai memarahi bayi untuk tidak mengacak-acak rumah #ngomongsamakaca.

Lalu masalah me time. Ibu rumah tangga punya me time gak yaa? Saya punya me time gak yaa? Absolutely yes dan harus! Bedanya dengan yang dulu adalah sekarang kebutuhan me time untuk memuaskan saya jauh lebih sederhana. Kalau dulu me time harus ke salon, dipijet, dilulur… nah kalau sekarang dengan mandi dibawah kucuran shower air anget dengan tenang aja sudah lebih dari cukup. Kalau dulu makan steak adalah me time, nah kalau sekarang makan indomie dengan gak terburu-buru aja sudah lebih dari cukup. Kapan me time nya? Gak bisa anytime makanya precious banget. Jadi me time nya adalah pas bayi lagi bobo atau pas partner lagi senggang jadi bisa ganti pemain jaga bayi.

Intinya jadi ibu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Kita lah yang mengatur pekerjaan sendiri, sekaligus mengatur emosi. Ruang lingkup kita adalah suami, anak, dan rumah. Kita boleh banget berharap suami dan anak dapat membantu tapi please ekspektasinya jangan terlalu tinggi haha karena pasti ada aja yang kurang menurut kita.

Akhirnya saya berada di titik apa yang mamah rasakan. Maafkan anakmu yaa , Mah. Semoga besok-besok masih ada waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan jauh lebih baik dari hari kemarin. Aamiin…

Terakhir…. buat para ibu muda newbie, selamat berjuang juga yaaa. Welcome to the real real real world! Buat yang belum jadi ibu muda, selamat membekali diri ya. Semoga dimudahkan semuanyaaa… aamiin.

Regards,

12.27 AM waktu Netherland

 

Bawa Perasaan: Long Distance Marriage

Sejak usia 2.5 bulan, Aluna ditinggal bapaknya sekolah jauuh sekali. Pulang seminggu sekali itu cerita lama yang gak mungkin terulang beberapa bulan ini. Sebenernya bukan Aluna aja yang ditinggal, tapi saya, ibunya, juga ditinggal. Bedanya, saya sudah paham apa rasanya senang, sedih, dan rindu. Andai saya seperti Aluna mungkin tidak ada yang namanya bawa perasaan, tapi saya tidak mau, karena saya sehat.

Meskipun banyak keluarga disini tapi ada saatnya saya merindukan pasangan. Meskipun setiap minggu video call dan bertatap muka tapi ada saatnya saya membutuhkan pasangan secara nyata. There’s a technology that can’t buy.

Ditinggal pasangan dengan seorang bayi yang masih merah itu sesuatu sekali. Intinya adalah saya harus bisa apapun. Saya harus tahan di segala kondisi karena tidak ada second player yang setara yang bisa menggantikan peran. Contohnya ketika bepergian, ketika saya diharuskan berangkat berdua tapi melihat yang lain bertiga rasanya itu sesuatu sekali, bawa perasaan. Bersyukur Aluna paham ibunya hanya sendiri jadi dia jarang rewel bila jauh dari rumah. Tidur pun tidak sulit jadi ibunya tidak perlu menggendong lama. Meskipun begitu saya sering membisikkan sesuatu kepada Aluna, “Bantu Ibu ya (untuk tidak rewel)”. It works. Alhamdulillah.

Masa-masa usia Aluna ini adalah masa dia mengidentifikasi orang di sekitarnya. Saya sayang Aluna dan nampaknya Aluna pun sudah menunjukkan rasa sayangnya kepada saya. Saya sudah dan sedang menjalani rasanya menjadi ibu. Saya harap nanti bapaknya pun memiliki frekuensi yang sama dengan saya walaupun telah kehilangan masa 2.5 bulan – 6 bulannya Aluna. And viceversa, mudah-mudahan Aluna pun memiliki rasa sayang yang sama untuk bapaknya seperti kepada ibunya.

Untungnya ada yang menguatkan saya kalau saya baper, yaitu Sang MahaBijaksana. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk menyesali kondisi atau terus-terusan baper (baper sesekali mah wajar lah ya hehe), karena saya pasti sudah ditempatkan-Nya di kondisi yang sebijaksana mungkin. Dengan demikian saya juga yakin ketika ada hal yang tidak bijaksana percayalah itu adalah suatu kebijaksanaan juga, karena semua telah diatur oleh Sang MahaBijaksana, iya kan? Tinggal kita sendiri, bisa kah kita mengambil hikmahnya?

Semoga, insyaAllah.

20160825_164158.jpg

Sebelum berpisah

Persalinan Aluna

Saya akan bercerita tentang persalinan anak pertama dari kehamilan kedua saya. Alhamdulillah anak pertama saya adalah seorang perempuan cantik yang kelak mampu menjalani hidup ini dengan baik (InsyaAllah). Oleh karena itu, nama yang saya berikan adalah sebuah doa untuknya, doa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.

Aluna, itulah nama depan putri pertama saya.

Persalinan Aluna bisa dibilang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Yang pasti bahwa persalinan spontan telah diupayakan semaksimal mungkin, namun qadarullah, jalan operasi adalah langkah terbaik dan terakhir yang dilakukan.

***

Hari perkiraan lahir telah terlewati namun kontraksi belum juga muncul. Dokter memutuskan akan melakukan induksi persalinan untuk memunculkan kontraksi tersebut. Pada kontrol terakhir itu saya diberi rujukan untuk memesan kamar rawat inap, bila kamar tersedia, malam itu saya langsung diberi tindakan. Namun saya meminta izin kepada dokter untuk mengulur tindakan induksi hingga esok hari dengan alasan menunggu suami pulang. Padahal alasan sebenarnya adalah saya masih ingin memunculkan kontraksi itu secara alami dengan melakukan jalan kaki di sisa hari. Kebetulan pada saat itu saya hanya ditemani ibu sedangkan suami masih bekerja di luar kota.

Saya jalan kaki sampai menjelang malam. Kontraksi masih belum juga muncul. Bahkan keesokan harinya saya menari-nari dan melakukan gerakan apa pun untuk memicunya. Kontraksi masih belum juga muncul.

Saat suami telah pulang, saya bertanya, apakah masih mau menunggu kontraksi sampai maksimal seminggu ke depan atau induksi saja? Suami bilang, “Sudah nurut saja apa kata dokter”. Ya sudah, akhirnya sore hari kami langsung check-in rumah sakit.

Katanya persalinan yang diinduksi itu sakitnya lebih parah. Belum lagi resiko bayi akan stress karena dipaksa keluar. Ibu saja sakit, apalagi bayinya yang lebih sensitif daripada ibunya.

Hmm.. keputusan telah diambil. Malam itu saya dijelaskan induksi yang akan dilakukan. Pertama induksi menggunakan balon kateter. Cara kerjanya adalah balon dimasukkan ke dalam vagina, lalu balon tersebut diisi dengan air. Balon akan membantu mulut rahim untuk membuka sehingga memicu yang namanya bukaan. Kalau sukses, biasanya akan sampai bukaan ke-5 atau 6. Namun bila gagal di tengah jalan, balon akan terlepas sendiri dari tempatnya. Lama kerja balon kateter ini adalah 4-6 jam. Apabila setelah dipasang balon kateter ini kontraksi telah muncul dan kekuatannya bagus, maka persalinan dan bukaan selanjutnya akan ditunggu tanpa induksi apa-apa. Namun apabila hasilnya belum memuaskan maka induksi akan dilanjutkan dengan langkah kedua, yaitu induksi menggunakan oksitosin melalui intravena (infus).

Sesaat setelah dipasang balon kateter, kontraksi itu muncul dan saya baru merasakan yang namanya mules sebelum melahirkan. Sebelumnya saya bingung jawab apa kalau ditanya, gimana udah mules belum? Akhirnya saat itu saya berucap.. oh gini toh yang namanya mules. Rasanya? Subhanallah. Memang sakit sekali mulesnya. Saya kira bukaannya sudah besar. Ketika dicek hanya sampai bukaan 4 dan balon kateter terlepas.

Sudah pasti induksi kedua harus dilakukan. Singkat cerita saya dipasang infus berisi oksitosin. Labu pertama, saya masih bisa ketawa-ketawa. Ditanya mules tidak, Bu? saya bilang sedikit. Masih lebih sakit waktu saya dipasang balon kateter. Sampai labu pertama habis saya dicek bukaan. Wah masih bukaan 4 Bu. Yo wis, mau tidak mau labu kedua dipasang, dosis oksitosin lebih tinggi. Saya khawatir ini akan menghasilkan mules yang luar biasa. Setelah jam demi jam mules itu muncul, bahkan lebih intens. Lima menit sekali, meningkat menjadi tiga menit sekali, lalu dua menit sekali. Setiap mules itu muncul saya menyenggol tangan suami saya. “Sakit?”, tanya dia dan saya hanya menganggukkan kepala.

Sudah hampir hari kedua di rumah sakit. Labu kedua pun habis. Saya dicek bukaan. Dan you know… bukaan masih sama! What?! Saya disuruh menunggu keputusan dokter. Akhirnya hanya menunggu beberapa menit, suster bilang bahwa dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Saya disuruh puasa malam itu juga. Keputusan untuk SC itu sekitar jam 11 malam dan saya tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.

Jam 8 pagi saya melakukan persiapan SC. Kateter urine dipasang, dan itu sakit. Sebelum masuk ruang operasi saya menangis. Sebenarnya bukan menangis karena akhirnya SC, tapi saya menangis karena kateter itu. Rasanya… huah.. linu, iya, sakit, iya. Sampai dipindahkan ke ruang operasi pun saya masih kelihatan menangis. Saya melewati ruang tunggu dan melihat orang tua khawatir. Mungkin mereka pikir saya sedih atau takut dioperasi. Tidak Bu, Pak. Saya menangis karena kateter itu. Hiks.

Kurang lebih jam 9.30 operasi dimulai. Ruang operasi dingin sekali, saya sampai menggigil. Saya dibius setengah badan, disuntik di bagian tulang belakang. Saya pikir akan sakit sekali, ternyata tidak. Operasi pun dimulai. Saya masih bisa menengar percakapan para caregiver. Bahkan dokter anestesi yang sejak awal membuat saya sangat rileks berucap, “Tuh perutnya lagi dibelek”.

Ketika bayi akan dikeluarkan, para caregiver itu memerlukan sedikit usaha sehingga saya merasa agak sesak. Tidak lama tangisan bayi pecah. Saya mengucap hamdallah dan sangat penasaran apakah bayinya sehat dan sempurna. Orang-orang hanya bilang bayinya besar dan perempuan, tapi apakah sehat?

Operasi pun selesai. Saya diobservasi dulu selama kurang lebih sejam. Bayi saya pun sama. Saya belum melihat bayi saya. Orang pertama yang melihat bayi saya adalah pak suami, karena sekaligus dia yang mengazani.

Akhirnya saya keluar dari kamar operasi. Saya melihat suami saya tersenyum. Dan bilang dedenya sehat dan sempurna. Alhamdulillah. Saya bersyukur dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang saya inginkan pada saat itu hanylah melihat bayi saya dan mendekapnya.

***

Saya bukan penulis handal. Kata-kata yang saya tulis ini belum mampu melukiskan kejadian persalian Aluna yang sebenarnya lebih penuh rasa. Maha Besar Allah atas penciptaan-Nya. Maha luas rezeki-Nya. Maha Bijaksana atas keputusan-Nya. Mohon doaya semoga Aluna menjadi puteri yang shalehah dan kami bisa menjadi orang tua yang shaleh pula. Semoga yang sedang hamil dimudahkan persalinannya dan yang belum hamil dibukakan jalannya. Alhamdulillah..

Ketika Ibu Hamil Pergi Sendirian

Masyarakat Indonesia memang ramah. Setidaknya saya diingatkan kembali bahwa pernyataan itu benar adanya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang masyarakatnya ramah. Kata siapa keramahan orang Indonesia sudah tidak ada? No. Masih kok. Cuma kadang kita tidak bisa melihatnya secara jelas, karena kebiasaan kita yang menganggap “sudah sewajarnya begitu”.

Tidak ada yang tidak menyapa ketika saya pergi ke pusat keramaian. Dengan keadaan perut saya yang besar dan jalan saya sudah seperti penguin, banyak yang mendoakan saya. Ada yang mengelus perut saya lalu bertanya; sudah berapa bulan, anak ke berapa, kontrol sama dokter siapa, dll. Alhamdulillah saya masih dipertemukn dengan orang-orang yang perhatian di negeri ini.

Namun memang tidak dipungkiri, kebanyakan orang yang menyapa saya adalah para wanita berumur. Lalu kemana para wanita mudanya? ada. Saya merasakan perhatian mereka dengan cara yang berbeda. Mereka menatap saya lebih dari 3 detik. Mungkin di dalam pikirannya “wah, kasian yah mbak itu keberatan, saya juga akan seperti dia nanti”. Tidak apa, bagi saya tatapan itu adalah bentuk perhatian yang malu untuk diungkapkan. Karena ketika kamu sudah tidak dihiraukan keberadaannya, baru di situlah kamu harus merasa tersinggung.

Saya ceritakan hal yang menyenangkan ini pada pak suami. Suami saya malah menggoda saya, “Oh mungkin karena yang hamilnya masih muda banget, kayak bocah. Mungkin mereka takjub, wah kecil-kecil udah mau punya anak lagi ya”. Errr…

Hmm.. mungkin suami saya ada benarnya. Apabila ada seseorang yang “sudah sepantasnya” hamil berada di pusat keramaian, bisa jadi orang-orang akan menganggap “sudah sewajarnya dia begitu (hamil)”. Mengerti kan maksud ku? Lho kok jadinya orang Indonesia terkesan memilih-milih keramahan ya. Haha.. Enggak kok, saya yakin tidak begitu. Karena….

Ternyata inilah yang membuat kehidupan menarik: never take anything for granted. Termasuk kenangan yang berkesan dari kejadian sehari-hari. Saya bisa saja mengacuhkan perhatian mereka, tidak menyimpannya di dalam memori, dan tidak menceritakan hal menyenangkan menurut saya ini pada suami. Tetapi tidak. Saya bersyukur dengan penyambutan ini. Alhamdulillah.