Mengatasi Marah Pada Anak

Subyek judul tersebut menitikberatkan kepada sang anak, jadi anaknya yang marah. Berbeda maknanya jika judulnya diganti dengan “Mengatasi Marah Kepada Anak”. Hal ini sangat jelas bahwa sang anak berfungsi sebagai objek dalam kalimat, dengan kata lain orang lain lah yang marah kepada anak. Begitu lah pendahuluan yang disampaikan oleh pembicara di acara seminar parenting pada  minggu lalu. Sampai-sampai saya sempat tidak mengerti maksudnya hehe.. ga fokus.

Jadi ceritanya pada hari minggu kemarin saya dan suami datang ke seminar parenting yang bertempat di daerah dago. Saat itu kami berangkat dari daerah gedebage. Seminar akan dimulai pada pukul 8, otomatis kami harus berangkat lebih pagi untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Betapa paginya dan betapa rajinnya kami bukan! 😀 Tetapi yang hebat bukan lah saya, melainkan pak suami lah yang harus banget saya apresiasi. Terima kasih lho pak udah mau diajak datang ke acara seserius dan sepagi itu 😀

Yak, tema seminarnya menarik menurut saya. Ditambah pembicara yang mumpuni. Kata beliau mengatasi marah tidak lah mudah. Pada awalnya beliau menjelaskan tentang mengapa anak marah. Pada umumnya marah merupakan efek dari kekecewaan, keinginan yang tidak terpenuhi, tidak diikuti, tidak dihiraukan, atau karena tersakiti. Tetapi sebenarnya tahu kah wahai ibu bapak apa akar masalahnya… yaitu emosi yang tidak tersalurkan! Sederhananya dia tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia rasa. Ujung-ujungnya nangis. Ujung-ujungnya marah. Pada saat marah, komunikasi yang baik tidak terbentuk. Para orang tua cenderung membiarkan sang anak ketika marah, dengan alasan membuat jera dan supaya dia berpikir atau malah langsung memborbardir dengan kata-kata keras yang sebenarnya ingin tegas padahal tidak. Ketika masih anak-anak, mana tau anak itu salah atau benar, baik atau buruk. Orang tua beranggapan apabila anak menangis atau marah lalu diikuti kemauannya, itu akan membentuk sifat manja yang akan menjadi senjatanya. Ya, memang benar. Tetapi tidak seharusnya juga membiarkannya agar diam. Menurut pembicara itu, yang benar adalah memberi tuntunan, dengan cara mengarahkan agar dia mampu bercerita apa yang dia rasa dan dia mau. Apabila apa yang dia mau tidak baik menurut orang tua, maka orang tua membuat keputusan yang komunikatif dengan sang anak.

Jika saya rangkum menggunakan format CAPA *mentang-mentang kerjaannya bikin CAPA :D*, inti pesan yang saya tangkap dari nasihat beliau adalah sebagai berikut:

Problem: Anak marah

Root cause analysis:

  • Emosi tidak tersalurkan
  • Anak tidak mampu menyampaikan perasaannya
  • Anak tidak tahu cara berkomunikasi

Corrective Action & Preventive Action to be completed:

  • Melatih anak agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar
  • Olah rasa anak mengenai perasaan sedih, senang, marah, malu dll dan ajarkan penyampaian perasaan tersebut melalui kata-kata komunikasi yang baik dan benar
  • Beri tuntunan
  • Beri aturan
  • Orang tua harus bekerja ekstra menangani kondisi ini, jangan sama-sama panas

Implementation: Lakukan CAPA sejak anak masih kecil untuk menguatkan proses pembentukan karakter.

Verification: verifikasi bahwa ketika ada suatu kebutuhan anak tidak terpancing untuk marah/ tidak didahului marah.

Jika berhasil, CAPA closed.

Fyi, narasumber yang menjadi pembicara di seminar itu adalah Ust. Mohammad Fauzil Adhim.Saya tahu beliau dari facebook dan saya sering mengikuti tulisannya.

Thanks ilmunya pak. Semoga bermanfaat bagi ibu bapak jugaa 😀

Salam,

Advertisements

Hal yang Tidak Perlu Diperdebatkan

Imagine all the doubt, worry, and confusion that we would eliminate if we quit thinking about parenting in terms of right and wrong. The mommy wars would go away entirely. Inilah yang sedang terjadi akhir-akhir ini di media sosial Indonesia atau bahkan di daerah belahan lain di dunia. Dimulai dari cuap-cuap monolog yang menyulut twitwar, sampai dengan debat kusir yang tiada berakhir. Kelompok pertama berkata inilah pilihan terbaik, kelompok lain berkata salah, dan kelompok terakhir mencoba untuk netral. Saya termasuk yang sensitif juga dong kalau gitu hehe.. soalnya sampai menyinggung topik ini di blog pribadi. Tapi jika saya memberikan opini juga artinya saya hanya menambah beban pikiran, kecemasan dan kegalauan mengenai benar atau salahnya parenting things dong ya. Ah capek dong..:D

Tapi.. saya gak tahan pengen share opini seseorang di blog pribadi (bilang aja ga punya bahan tulisan hehe). Yah apa pun, monggo diresapi kalimat per kalimat yang penuh makna ini, semoga bermanfaat 😀

Imagine all the doubt, worry, and confusion that we would eliminate if we quit thinking about parenting in terms of right and wrong. The mommy wars would go away entirely. In reality, there is only a right way and a wrong way for your family. Part of being a successful mother is learning through experience what works in you unique situation and with your unique kids. No two families need or want the same things, so we’ve got to let go of the notion that some mythical, perfect parenting tactic works. –Heather Hale

Anw, bagi saya membahas topik ini adalah lagu lama. Lagu lama yang akan selalu menjadi kenangan untuk dibahas lagi di masa depan pada lain waktu oleh beda generasi.

Sumber: http://www.familyshare.com/parenting/5-motherhood-myths-that-are-dragging-you-down

Seni Bahagia Calon Ibu

Happiness is Contagious
By William Martin
Excerpt from The Parent’s Tao Te Ching

We all want our children to be happy.
Somehow, some way today
Show them something that makes you happy,
Something you truly enjoy.
Your own happiness is contagious.
They learn the art from you.

Sumber: http://www.definingparent.com

Semalam saya merasakan ada letupan di dalam perut saya. Mungkin cegukan atau hentakan. Saya coba menepuk balik sambil berkata “tepuk”. Lama-lama letupan hilang. “Yaah..Cuma sebentar mainnya”, gumam saya di dalam hati.

Menurut buku yang saya baca, ibu hamil akan merasakan gerakan janin mulai usia 16 minggu apabila itu kehamilan kedua dan seterusnya. Sedangkan untuk kehamilan yang baru kali pertama, ibu hamil akan merasakan gerakannya ketika berusia 17-18 minggu. Entah saya merasakan sugesti atau bukan, semalam itu saya mendengar bunyi “lup…lup..lup” beberapa kali dari perut ini. Kalau pun itu hanya bayangan saja, saya cukup merasa senang.

We all want our children to be happy. Ya, kebahagiaan yang sebenarnya dari dalam hati, bukan karena materi atau makhluk. Sekali pun pasti melewati cobaan hidup, kebahagiaan tetap dirasakan dengan caranya yang sesuai. “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Somehow, some way today. Show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Selain ibu dan janin berada dalam satu raga, ternyata keduanya pun berada dalam satu sisi emosi. Katanya sejak di dalam kandungan janin dapat merasakan emosi yang sedang dialami oleh ibunya meliputi emosi sedih, cemas, atau bahagia. Mungkin inilah salah satu faktor yang membentuk nature mereka. Banyak artikel parenting yang menjabarkan cara-cara membentuk anak saleh sejak dalam kandungan. Salah satunya adalah melatih aspek kongnitif mereka dengan cara mengajak ngobrol, memberi rangsang sentuhan, ketukan, suara, dll, termasuk dengan cara menjaga emosi ibu agar anak merasa nyaman. Emosi ibu dapat dijaga dengan melakukan sesuatu yang ibu suka dan tentu dukungan dari pasangan.

Your own happiness is contagious. Silakan baca blog saya di ODOPfor99days day 4 atau klik link ini. Kebahagiaan itu menular sampai 4 lapis kontak sosial! Artinya jika saya bahagia, kemungkinan temannya temannya teman saya menjadi bahagia juga meningkat. Teman yang secara langsung kontak sosial dengan kita yang sedang bahagia akan meningkat juga kemungkinan menjadi bahagianya sebesar 15%. Bayangkan jika teman itu adalah bayi yang ada di perut kita. Itulah sebabnya ibu hamil dianjurkan untuk selalu bahagia atau setidaknya mengontrol emosinya agar tetap stabil. Kesedihan juga katanya menular tetapi lebih kurang efektif dibandingkan dengan kebahagiaan. Masya Allah.

They learn the art from you. Saya mengajarkan kata “ketuk” sambil mengetuk-ngetuk perut dan seolah-olah mengajak bermain. Ketika masih di dalam perut, the art yang bisa diajarkan masih sangat terbatas, tetapi ketika sudah dilahirkan they really learn the art from you how to keep happy in every situation. Thus show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Pertanyaannya adalah apakah sekarang Anda telah memiliki ‘something you truly enjoy’? *retorika* haha.. Menurut Aa Gym, cara terbaik mengajarkan disiplin adalah dengan memberi contoh disiplin dan menerapkannya kepada diri sendiri. Coba hubungkan nasihat tersebut dengan ungkapan they learn the art from you. Kalau istilah populer sekarang they learn about how to be a passionate person from you. Then congratulation! Anda telah menunjukkan seninya dengan baik.

***

Catatan: Tulisan ini ditujukan sebagai bahan introspeksi apakah saya sudah menjalankan apa yang saya tulis di sini. Bukan berarti bahwa saya telah menjalankan ini secara konsisten lhoo 😀