Bawa Perasaan: Long Distance Marriage

Sejak usia 2.5 bulan, Aluna ditinggal bapaknya sekolah jauuh sekali. Pulang seminggu sekali itu cerita lama yang gak mungkin terulang beberapa bulan ini. Sebenernya bukan Aluna aja yang ditinggal, tapi saya, ibunya, juga ditinggal. Bedanya, saya sudah paham apa rasanya senang, sedih, dan rindu. Andai saya seperti Aluna mungkin tidak ada yang namanya bawa perasaan, tapi saya tidak mau, karena saya sehat.

Meskipun banyak keluarga disini tapi ada saatnya saya merindukan pasangan. Meskipun setiap minggu video call dan bertatap muka tapi ada saatnya saya membutuhkan pasangan secara nyata. There’s a technology that can’t buy.

Ditinggal pasangan dengan seorang bayi yang masih merah itu sesuatu sekali. Intinya adalah saya harus bisa apapun. Saya harus tahan di segala kondisi karena tidak ada second player yang setara yang bisa menggantikan peran. Contohnya ketika bepergian, ketika saya diharuskan berangkat berdua tapi melihat yang lain bertiga rasanya itu sesuatu sekali, bawa perasaan. Bersyukur Aluna paham ibunya hanya sendiri jadi dia jarang rewel bila jauh dari rumah. Tidur pun tidak sulit jadi ibunya tidak perlu menggendong lama. Meskipun begitu saya sering membisikkan sesuatu kepada Aluna, “Bantu Ibu ya (untuk tidak rewel)”. It works. Alhamdulillah.

Masa-masa usia Aluna ini adalah masa dia mengidentifikasi orang di sekitarnya. Saya sayang Aluna dan nampaknya Aluna pun sudah menunjukkan rasa sayangnya kepada saya. Saya sudah dan sedang menjalani rasanya menjadi ibu. Saya harap nanti bapaknya pun memiliki frekuensi yang sama dengan saya walaupun telah kehilangan masa 2.5 bulan – 6 bulannya Aluna. And viceversa, mudah-mudahan Aluna pun memiliki rasa sayang yang sama untuk bapaknya seperti kepada ibunya.

Untungnya ada yang menguatkan saya kalau saya baper, yaitu Sang MahaBijaksana. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk menyesali kondisi atau terus-terusan baper (baper sesekali mah wajar lah ya hehe), karena saya pasti sudah ditempatkan-Nya di kondisi yang sebijaksana mungkin. Dengan demikian saya juga yakin ketika ada hal yang tidak bijaksana percayalah itu adalah suatu kebijaksanaan juga, karena semua telah diatur oleh Sang MahaBijaksana, iya kan? Tinggal kita sendiri, bisa kah kita mengambil hikmahnya?

Semoga, insyaAllah.

20160825_164158.jpg

Sebelum berpisah

Advertisements

Paspor untuk Bayi

Ceritanya Aluna dan ibunya mau nyusul bapaknya ke Belanda. Udah pasti hal penting yang terlintas adalah: bikin paspor! Ya. Tentu saja. Tanpa dokumen ini mustahil kami bisa pergi ke luar negeri secara legal. Ilegal bisa aja sih, tapi sorry banget kita gak memilih jalan itu hehe..

Oke, ngomongin paspor, kebetulan ibunya pun belum punya dokumen itu jadi sekalian lah kami berdua mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor tersebut. Anw, mungkin sudah banyak sekali informasi yang bisa dicari di google mengenai syarat pembuatan paspor untuk orang dewasa, apalagi sekarang bisa daftar secara online. Nah, oleh karena itu, sekarang di blog ini saya mau cerita tentang syarat pembuatan paspor untuk bayi yang tidak lain adalah pengalaman Aluna yang saat membuat paspor itu masih berusia 4 bulan.

Secara umum, ini lah persyaratan pembuatan paspor untuk bayi (anak di bawah umur). Sederhana bukan? Nah, mari kita bahas satu-satu berdasarkan pengalaman Aluna.

screenshot_2016-11-16-20-44-33

Jadi ini kondisi dokumen Aluna saat membuat paspor:

1. E-KTP Ayah & Ibu. Pada saat akan membuat paspor, e-KTP ayah & ibu Aluna masih dalam proses di DISDUKCAPIL alias e-KTP nya belum jadi. Solusinya? Kami membuat surat keterangan pengganti e-KTP yang menyatakan bahwa e-KTP nya masih dalam proses pencetakan (tahu kan fakta sekarang di berita bahwa blanko e-KTP sedang habis). Tidak perlu waktu lama meminta surat keterangan ini, sehari langsung beres. Fyi, kami termasuk wilayah DISDUKCAPIL Kota Cimahi.

2. Kartu Keluarga. Kartu keluarga Wicaksono (nama belakang bapaknya Aluna) baru jadi setelah bapaknya Aluna pergi ke Belanda. Padahal kartu keluarga tersebut harus ditandatangani oleh sang kepala keluarga. Dipikir-pikir kalau mau dikirim ke Belanda dulu akan membutuhkan waktu yang lama. Solusinya? Kami membuat surat keterangan dari RT/RW yang menyatakan bahwa nama-nama yang tercantum di kartu keluarga tersebut adalah benar warganya dan kepala keluarga tidak bisa menandatangani kartu keluarga karena sedang berada di luar negeri. Jadi kolom tanda tangan masih tetap dikosongkan.

3. Akta Lahir. Ini aman, tidak ada masalah karena setelah Aluna dilahirkan kami cepat mengurus akta lahirnya.

4. Buku Nikah. Ini aman, karena dokumen inilah awal bersatunya Bapak & Ibunya Aluna secara sah 🙂

5. Pada Saat Wawancara Wajib Didampingi Kedua Orang Tua. Nah, ini juga gak mungkin bagi Aluna soalnya bapaknya sedang berada di Belanda, Solusinya? Ada dua pendapat. Pertama, menurut Kantor Imigrasi Bandung, bapaknya Aluna harus membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa memberikan kuasa kepada ibunya untuk pembuatan paspor Aluna karena beliau sedang ada di luar negeri. Surat kuasa tersebut harus ditandatangani diatas materai. Kemudahannya adalah surat kuasa ini boleh di-email-kan, jadi kami cukup membawa cetakan emailnya saja. Kedua, menurut Kantor Imigrasi Sukabumi (kebetulan mertua sempat membuat paspor di Sukabumi pada tahun ini), kami tidak perlu membuat surat kuasa. Kalau bapaknya tidak bisa hadir dan ada alasannya ya sudah, ibunya saja yang hadir. Fyi, karena kemudahan ini dan waktunya memungkinkan akhirnya kami memutuskan membuat paspor di Sukabumi. Ternyata mengenai ketidakhadiran bapaknya Aluna ini diselesaikan dengan menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa kepala keluarga tidak dapat menandatangani surat apapun untuk pembuatan paspor anaknya (Aluna) karena sedang berada di luar negeri (sudah ada blankonya dari Kantor Imigrasi). Surat tersebut ditandatangani oleh ibunya di atas materai dan ini lebih simple menurut saya.

Tiba lah saatnya Aluna datang ke kantor imigrasi. Akhirnya semua dokumen sudah bisa diterima oleh pihak Kantor Imigrasi dan kami mendapat nomor antrian wawancara+foto. Antrian Aluna sangat bayi friendly karena bayi memiliki nomor antrian sendiri dan tentu antrian bayi sedikit sekali. Aluna mendapat nomor antrian pertama (kategori bayi) sedangkan ibunya mendapat nomor antrian 041 (kategori dewasa). Namun Alhamdulillah nya rezeki anak shalehah, ibunya tertolong oleh Aluna. Pada saat Aluna diwawancara, petugas meminta paspor ibunya namun karena sama-sama baru mengajukan akhirnya kami berdua dilayani secara bersamaan. Jadi ibu tidak perlu mengantri lagi sampai 041 hihi.. terima kasih bu petugas.

Secara umum saya cukup puas dengan pelayanan Kantor Imigrasi tempat saya mengajukan pembuatan paspor, yaitu Kantor Imigrasi Sukabumi. Oh ya, tambahan lagi, paspor yang diajukan sudah bisa diambil 3 hari kemudian cepat sekali bukan? Saya berharap semoga semua instansi pemerintah memiliki kinerja yang sama baiknya, memiliki rencana kerja yang efektif, efisien serta tidak membuat prosedur yang menyusahkan dan bertele-tele. Kalau bisa mudah kenapa dipersulit, kalau bisa cepat kenapa diperlama hehe.. Apapun.. sekian yang ingin saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi bapak-ibu yang sedang mengurus paspor bayinya. Cheers!

Persalinan Aluna

Saya akan bercerita tentang persalinan anak pertama dari kehamilan kedua saya. Alhamdulillah anak pertama saya adalah seorang perempuan cantik yang kelak mampu menjalani hidup ini dengan baik (InsyaAllah). Oleh karena itu, nama yang saya berikan adalah sebuah doa untuknya, doa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.

Aluna, itulah nama depan putri pertama saya.

Persalinan Aluna bisa dibilang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Yang pasti bahwa persalinan spontan telah diupayakan semaksimal mungkin, namun qadarullah, jalan operasi adalah langkah terbaik dan terakhir yang dilakukan.

***

Hari perkiraan lahir telah terlewati namun kontraksi belum juga muncul. Dokter memutuskan akan melakukan induksi persalinan untuk memunculkan kontraksi tersebut. Pada kontrol terakhir itu saya diberi rujukan untuk memesan kamar rawat inap, bila kamar tersedia, malam itu saya langsung diberi tindakan. Namun saya meminta izin kepada dokter untuk mengulur tindakan induksi hingga esok hari dengan alasan menunggu suami pulang. Padahal alasan sebenarnya adalah saya masih ingin memunculkan kontraksi itu secara alami dengan melakukan jalan kaki di sisa hari. Kebetulan pada saat itu saya hanya ditemani ibu sedangkan suami masih bekerja di luar kota.

Saya jalan kaki sampai menjelang malam. Kontraksi masih belum juga muncul. Bahkan keesokan harinya saya menari-nari dan melakukan gerakan apa pun untuk memicunya. Kontraksi masih belum juga muncul.

Saat suami telah pulang, saya bertanya, apakah masih mau menunggu kontraksi sampai maksimal seminggu ke depan atau induksi saja? Suami bilang, “Sudah nurut saja apa kata dokter”. Ya sudah, akhirnya sore hari kami langsung check-in rumah sakit.

Katanya persalinan yang diinduksi itu sakitnya lebih parah. Belum lagi resiko bayi akan stress karena dipaksa keluar. Ibu saja sakit, apalagi bayinya yang lebih sensitif daripada ibunya.

Hmm.. keputusan telah diambil. Malam itu saya dijelaskan induksi yang akan dilakukan. Pertama induksi menggunakan balon kateter. Cara kerjanya adalah balon dimasukkan ke dalam vagina, lalu balon tersebut diisi dengan air. Balon akan membantu mulut rahim untuk membuka sehingga memicu yang namanya bukaan. Kalau sukses, biasanya akan sampai bukaan ke-5 atau 6. Namun bila gagal di tengah jalan, balon akan terlepas sendiri dari tempatnya. Lama kerja balon kateter ini adalah 4-6 jam. Apabila setelah dipasang balon kateter ini kontraksi telah muncul dan kekuatannya bagus, maka persalinan dan bukaan selanjutnya akan ditunggu tanpa induksi apa-apa. Namun apabila hasilnya belum memuaskan maka induksi akan dilanjutkan dengan langkah kedua, yaitu induksi menggunakan oksitosin melalui intravena (infus).

Sesaat setelah dipasang balon kateter, kontraksi itu muncul dan saya baru merasakan yang namanya mules sebelum melahirkan. Sebelumnya saya bingung jawab apa kalau ditanya, gimana udah mules belum? Akhirnya saat itu saya berucap.. oh gini toh yang namanya mules. Rasanya? Subhanallah. Memang sakit sekali mulesnya. Saya kira bukaannya sudah besar. Ketika dicek hanya sampai bukaan 4 dan balon kateter terlepas.

Sudah pasti induksi kedua harus dilakukan. Singkat cerita saya dipasang infus berisi oksitosin. Labu pertama, saya masih bisa ketawa-ketawa. Ditanya mules tidak, Bu? saya bilang sedikit. Masih lebih sakit waktu saya dipasang balon kateter. Sampai labu pertama habis saya dicek bukaan. Wah masih bukaan 4 Bu. Yo wis, mau tidak mau labu kedua dipasang, dosis oksitosin lebih tinggi. Saya khawatir ini akan menghasilkan mules yang luar biasa. Setelah jam demi jam mules itu muncul, bahkan lebih intens. Lima menit sekali, meningkat menjadi tiga menit sekali, lalu dua menit sekali. Setiap mules itu muncul saya menyenggol tangan suami saya. “Sakit?”, tanya dia dan saya hanya menganggukkan kepala.

Sudah hampir hari kedua di rumah sakit. Labu kedua pun habis. Saya dicek bukaan. Dan you know… bukaan masih sama! What?! Saya disuruh menunggu keputusan dokter. Akhirnya hanya menunggu beberapa menit, suster bilang bahwa dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Saya disuruh puasa malam itu juga. Keputusan untuk SC itu sekitar jam 11 malam dan saya tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.

Jam 8 pagi saya melakukan persiapan SC. Kateter urine dipasang, dan itu sakit. Sebelum masuk ruang operasi saya menangis. Sebenarnya bukan menangis karena akhirnya SC, tapi saya menangis karena kateter itu. Rasanya… huah.. linu, iya, sakit, iya. Sampai dipindahkan ke ruang operasi pun saya masih kelihatan menangis. Saya melewati ruang tunggu dan melihat orang tua khawatir. Mungkin mereka pikir saya sedih atau takut dioperasi. Tidak Bu, Pak. Saya menangis karena kateter itu. Hiks.

Kurang lebih jam 9.30 operasi dimulai. Ruang operasi dingin sekali, saya sampai menggigil. Saya dibius setengah badan, disuntik di bagian tulang belakang. Saya pikir akan sakit sekali, ternyata tidak. Operasi pun dimulai. Saya masih bisa menengar percakapan para caregiver. Bahkan dokter anestesi yang sejak awal membuat saya sangat rileks berucap, “Tuh perutnya lagi dibelek”.

Ketika bayi akan dikeluarkan, para caregiver itu memerlukan sedikit usaha sehingga saya merasa agak sesak. Tidak lama tangisan bayi pecah. Saya mengucap hamdallah dan sangat penasaran apakah bayinya sehat dan sempurna. Orang-orang hanya bilang bayinya besar dan perempuan, tapi apakah sehat?

Operasi pun selesai. Saya diobservasi dulu selama kurang lebih sejam. Bayi saya pun sama. Saya belum melihat bayi saya. Orang pertama yang melihat bayi saya adalah pak suami, karena sekaligus dia yang mengazani.

Akhirnya saya keluar dari kamar operasi. Saya melihat suami saya tersenyum. Dan bilang dedenya sehat dan sempurna. Alhamdulillah. Saya bersyukur dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang saya inginkan pada saat itu hanylah melihat bayi saya dan mendekapnya.

***

Saya bukan penulis handal. Kata-kata yang saya tulis ini belum mampu melukiskan kejadian persalian Aluna yang sebenarnya lebih penuh rasa. Maha Besar Allah atas penciptaan-Nya. Maha luas rezeki-Nya. Maha Bijaksana atas keputusan-Nya. Mohon doaya semoga Aluna menjadi puteri yang shalehah dan kami bisa menjadi orang tua yang shaleh pula. Semoga yang sedang hamil dimudahkan persalinannya dan yang belum hamil dibukakan jalannya. Alhamdulillah..

Ketika Ibu Hamil Pergi Sendirian

Masyarakat Indonesia memang ramah. Setidaknya saya diingatkan kembali bahwa pernyataan itu benar adanya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang masyarakatnya ramah. Kata siapa keramahan orang Indonesia sudah tidak ada? No. Masih kok. Cuma kadang kita tidak bisa melihatnya secara jelas, karena kebiasaan kita yang menganggap “sudah sewajarnya begitu”.

Tidak ada yang tidak menyapa ketika saya pergi ke pusat keramaian. Dengan keadaan perut saya yang besar dan jalan saya sudah seperti penguin, banyak yang mendoakan saya. Ada yang mengelus perut saya lalu bertanya; sudah berapa bulan, anak ke berapa, kontrol sama dokter siapa, dll. Alhamdulillah saya masih dipertemukn dengan orang-orang yang perhatian di negeri ini.

Namun memang tidak dipungkiri, kebanyakan orang yang menyapa saya adalah para wanita berumur. Lalu kemana para wanita mudanya? ada. Saya merasakan perhatian mereka dengan cara yang berbeda. Mereka menatap saya lebih dari 3 detik. Mungkin di dalam pikirannya “wah, kasian yah mbak itu keberatan, saya juga akan seperti dia nanti”. Tidak apa, bagi saya tatapan itu adalah bentuk perhatian yang malu untuk diungkapkan. Karena ketika kamu sudah tidak dihiraukan keberadaannya, baru di situlah kamu harus merasa tersinggung.

Saya ceritakan hal yang menyenangkan ini pada pak suami. Suami saya malah menggoda saya, “Oh mungkin karena yang hamilnya masih muda banget, kayak bocah. Mungkin mereka takjub, wah kecil-kecil udah mau punya anak lagi ya”. Errr…

Hmm.. mungkin suami saya ada benarnya. Apabila ada seseorang yang “sudah sepantasnya” hamil berada di pusat keramaian, bisa jadi orang-orang akan menganggap “sudah sewajarnya dia begitu (hamil)”. Mengerti kan maksud ku? Lho kok jadinya orang Indonesia terkesan memilih-milih keramahan ya. Haha.. Enggak kok, saya yakin tidak begitu. Karena….

Ternyata inilah yang membuat kehidupan menarik: never take anything for granted. Termasuk kenangan yang berkesan dari kejadian sehari-hari. Saya bisa saja mengacuhkan perhatian mereka, tidak menyimpannya di dalam memori, dan tidak menceritakan hal menyenangkan menurut saya ini pada suami. Tetapi tidak. Saya bersyukur dengan penyambutan ini. Alhamdulillah.

Ketika…

Ketika peran menjadi human doing telah dilaksanakan…. lalu yang tersisa adalah peran menjadi human being; tawakal, sabar, dan ikhlas.

“Wahai Allah, bahwasanya aku mohon pilihan oleh-Mu dengan ilmu-Mu, dan mohon kepastian-Mu dengan kekuasaan-Mu, serta mohon kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, karena Engkaulah Dzat yang berkuasa, sedang aku tiada kuasa, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui, sedang aku tiada mengetahui, dan Engkaulah Dzat yang mengetahui yang ghoib. Wahai Allah, jika adanya, Engkau ketahui bahwa urusan ini adalah baik bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibat urusanku untuk masa sekarang maupun besoknya, maka kuasakanlah bagiku dan permudahkanlah untukku, kemudian berkahilah dalam urusan itu bagiku. Namun jikalau adanya, Engkau ketahui bahwa urusan itu menjadi buruk bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibatnya persoalanku pada masa sekarang maupun besoknya, maka hindarkanlah aku dari padanya, lalu tetapkanlah bagiku kepada kebaikan, bagaimanapun adanya kemudian ridhoilah aku dengan kebaikan itu.”

-Doa Istikharah-

Mengatasi Marah Pada Anak

Subyek judul tersebut menitikberatkan kepada sang anak, jadi anaknya yang marah. Berbeda maknanya jika judulnya diganti dengan “Mengatasi Marah Kepada Anak”. Hal ini sangat jelas bahwa sang anak berfungsi sebagai objek dalam kalimat, dengan kata lain orang lain lah yang marah kepada anak. Begitu lah pendahuluan yang disampaikan oleh pembicara di acara seminar parenting pada  minggu lalu. Sampai-sampai saya sempat tidak mengerti maksudnya hehe.. ga fokus.

Jadi ceritanya pada hari minggu kemarin saya dan suami datang ke seminar parenting yang bertempat di daerah dago. Saat itu kami berangkat dari daerah gedebage. Seminar akan dimulai pada pukul 8, otomatis kami harus berangkat lebih pagi untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Betapa paginya dan betapa rajinnya kami bukan! 😀 Tetapi yang hebat bukan lah saya, melainkan pak suami lah yang harus banget saya apresiasi. Terima kasih lho pak udah mau diajak datang ke acara seserius dan sepagi itu 😀

Yak, tema seminarnya menarik menurut saya. Ditambah pembicara yang mumpuni. Kata beliau mengatasi marah tidak lah mudah. Pada awalnya beliau menjelaskan tentang mengapa anak marah. Pada umumnya marah merupakan efek dari kekecewaan, keinginan yang tidak terpenuhi, tidak diikuti, tidak dihiraukan, atau karena tersakiti. Tetapi sebenarnya tahu kah wahai ibu bapak apa akar masalahnya… yaitu emosi yang tidak tersalurkan! Sederhananya dia tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia rasa. Ujung-ujungnya nangis. Ujung-ujungnya marah. Pada saat marah, komunikasi yang baik tidak terbentuk. Para orang tua cenderung membiarkan sang anak ketika marah, dengan alasan membuat jera dan supaya dia berpikir atau malah langsung memborbardir dengan kata-kata keras yang sebenarnya ingin tegas padahal tidak. Ketika masih anak-anak, mana tau anak itu salah atau benar, baik atau buruk. Orang tua beranggapan apabila anak menangis atau marah lalu diikuti kemauannya, itu akan membentuk sifat manja yang akan menjadi senjatanya. Ya, memang benar. Tetapi tidak seharusnya juga membiarkannya agar diam. Menurut pembicara itu, yang benar adalah memberi tuntunan, dengan cara mengarahkan agar dia mampu bercerita apa yang dia rasa dan dia mau. Apabila apa yang dia mau tidak baik menurut orang tua, maka orang tua membuat keputusan yang komunikatif dengan sang anak.

Jika saya rangkum menggunakan format CAPA *mentang-mentang kerjaannya bikin CAPA :D*, inti pesan yang saya tangkap dari nasihat beliau adalah sebagai berikut:

Problem: Anak marah

Root cause analysis:

  • Emosi tidak tersalurkan
  • Anak tidak mampu menyampaikan perasaannya
  • Anak tidak tahu cara berkomunikasi

Corrective Action & Preventive Action to be completed:

  • Melatih anak agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar
  • Olah rasa anak mengenai perasaan sedih, senang, marah, malu dll dan ajarkan penyampaian perasaan tersebut melalui kata-kata komunikasi yang baik dan benar
  • Beri tuntunan
  • Beri aturan
  • Orang tua harus bekerja ekstra menangani kondisi ini, jangan sama-sama panas

Implementation: Lakukan CAPA sejak anak masih kecil untuk menguatkan proses pembentukan karakter.

Verification: verifikasi bahwa ketika ada suatu kebutuhan anak tidak terpancing untuk marah/ tidak didahului marah.

Jika berhasil, CAPA closed.

Fyi, narasumber yang menjadi pembicara di seminar itu adalah Ust. Mohammad Fauzil Adhim.Saya tahu beliau dari facebook dan saya sering mengikuti tulisannya.

Thanks ilmunya pak. Semoga bermanfaat bagi ibu bapak jugaa 😀

Salam,

Pemulihan Pasca Keguguran/ Kuret

Keguguran di awal kehamilan ternyata bukanlah sesuatu yang langka bagi seorang wanita. Berdasarkan beberapa informasi yang saya baca, satu dari lima orang wanita akan mengalami keguguran di masa kehamilannya. Dengan kata lain peluang terjadinya keguguran bagi setiap wanita adalah 20%, dan 80% diantaranya terjadi di awal kehamilan. Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya keguguran di awal kehamilan, namun kemungkinan terbesar adalah terjadinya misscombination chromosom yang menyebabkan janin tidak berkembang. Mengapa bisa terjadi? ada banyak faktor. Mulai dari ketidakstabilan hormonal, gaya hidup, virus, atau paparan radiasi dan bahan berbahaya.

Saya termasuk 20% kelompok wanita yang mengalami keguguran di awal kehamilan. Bercak darah muncul seminggu sebelum kontrol kedua dengan usia janin sekitar 9 minggu dan akhirnya kondisi saya berakhir dengan tindakan kuretase yang telah saya ceritakan di sini. Minggu keempat setelah kuretase adalah waktunya saya kontrol. Alhamdulillah, dokter menginfokan rahim saya sudah bersih, artinya tidak ada sisa jaringan kuretase yang tertinggal. Namun rahim saya perlu “diistirahatkan” dulu sampai 2 kali siklus menstruasi. Terakhir, saya diberi vitamin prenatal vitamin E dan asam folat + DHA untuk dikonsumsi apabila saya telah  mengalami 2 kali siklus menstruasi. Siklus menstruasi pertama berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Di siklus kedua, saya mengalami keterlambatan hampir seminggu lebih. Saya khawatir, di-test pack beberapa kali hasilnya negatif tetapi kok tidak menstruasi juga.. Sampai saya berpikir, pantas saja dokter tidak mengatakan rahim “diistirahatkan” dalam hitungan bulan karena bisa saja waktu mestruasi setelah kuretase menjadi acak-acakan. Dan ternyata benar, setelah saya searching di internet, ketidakstabilan hormonal masih terjadi sesaat setelah mengalami kuretase. Jadi jangan khawatir ya moms!

Menurut artikel yang saya baca, sebenarnya tidak ada jeda berapa lama mommy bisa hamil lagi setelah kuretase, yang pasti selama mommy dan partner telah siap maka tidak ada halangan untuk langsung hamil kembali. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesiapan itu bukanlah fisik semata, tetapi faktor lain seperti mental dan perasaan.

Dari pengalaman yang telah saya lalui (walaupun singkat) saya ingin sedikit berbagi beberapa hal kepada moms-to-be untuk tetap ceria dan siap apabila telah/ belum mengalami keguguran.

  1. Berdoa untuk segala kondisi, ya mommy.
  2. Tidak usah khawatir mommy, keguguran di awal kehamilan bukanlah masalah yang besar because you’re not alone. Lebih jauh lagi apabila mommy terbesit rasa bersalah, “apa saya tidak menjaganya dengan baik ya”, no! tentu saja bukan.
  3. Prenatal preparation? Why not! Bahkan beberapa orang yang saya kenal sudah mempersiapkan baik mental dan fisiknya sejak beberapa bulan sebelum pernikahan. Persiapan bisa dilakukan melalui olahraga teratur, makan makanan bergizi, menjauhi junk food, pengawet dan MSG, membaca artikel-artikel mengenai kehamilan, minum susu prenatal, atau konsultasi ke dokter.
  4. Ajak partner melakukan prenatal preparation juga. Mungkin waktu memulainya tidak perlu bersamaan namun ajak lah untuk membangun benteng bersama-sama. Yang bertanggung jawab atas kesehatan janin bukanlah mommy saja, tetapi partner juga, logis bukan?
  5. Pastikan kondisi badan sedang fit ketika sedang bertemu partner, tidak stress dan selalu berbahagia.

Dan masih banyak lagi saran-saran lain yang tidak tertulis di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi mommy semua. Mommy harus tetap semangat dan mengontrol emosi agar semua aktivitas berjalan dengan lancar. Menurut dokter SpOG saya, tidak ada penanganan khusus terkait medis pasca keguguran pertama, pun saat kedua kalinya terulang. Nah, jika keguguran ketiga terjadi berturut-turut, ini lah yang perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dan penanganan lebih lanjut oleh dokter. Semoga sehat selalu ya moms 🙂