Seni Bahagia Calon Ibu

Happiness is Contagious
By William Martin
Excerpt from The Parent’s Tao Te Ching

We all want our children to be happy.
Somehow, some way today
Show them something that makes you happy,
Something you truly enjoy.
Your own happiness is contagious.
They learn the art from you.

Sumber: http://www.definingparent.com

Semalam saya merasakan ada letupan di dalam perut saya. Mungkin cegukan atau hentakan. Saya coba menepuk balik sambil berkata “tepuk”. Lama-lama letupan hilang. “Yaah..Cuma sebentar mainnya”, gumam saya di dalam hati.

Menurut buku yang saya baca, ibu hamil akan merasakan gerakan janin mulai usia 16 minggu apabila itu kehamilan kedua dan seterusnya. Sedangkan untuk kehamilan yang baru kali pertama, ibu hamil akan merasakan gerakannya ketika berusia 17-18 minggu. Entah saya merasakan sugesti atau bukan, semalam itu saya mendengar bunyi “lup…lup..lup” beberapa kali dari perut ini. Kalau pun itu hanya bayangan saja, saya cukup merasa senang.

We all want our children to be happy. Ya, kebahagiaan yang sebenarnya dari dalam hati, bukan karena materi atau makhluk. Sekali pun pasti melewati cobaan hidup, kebahagiaan tetap dirasakan dengan caranya yang sesuai. “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Somehow, some way today. Show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Selain ibu dan janin berada dalam satu raga, ternyata keduanya pun berada dalam satu sisi emosi. Katanya sejak di dalam kandungan janin dapat merasakan emosi yang sedang dialami oleh ibunya meliputi emosi sedih, cemas, atau bahagia. Mungkin inilah salah satu faktor yang membentuk nature mereka. Banyak artikel parenting yang menjabarkan cara-cara membentuk anak saleh sejak dalam kandungan. Salah satunya adalah melatih aspek kongnitif mereka dengan cara mengajak ngobrol, memberi rangsang sentuhan, ketukan, suara, dll, termasuk dengan cara menjaga emosi ibu agar anak merasa nyaman. Emosi ibu dapat dijaga dengan melakukan sesuatu yang ibu suka dan tentu dukungan dari pasangan.

Your own happiness is contagious. Silakan baca blog saya di ODOPfor99days day 4 atau klik link ini. Kebahagiaan itu menular sampai 4 lapis kontak sosial! Artinya jika saya bahagia, kemungkinan temannya temannya teman saya menjadi bahagia juga meningkat. Teman yang secara langsung kontak sosial dengan kita yang sedang bahagia akan meningkat juga kemungkinan menjadi bahagianya sebesar 15%. Bayangkan jika teman itu adalah bayi yang ada di perut kita. Itulah sebabnya ibu hamil dianjurkan untuk selalu bahagia atau setidaknya mengontrol emosinya agar tetap stabil. Kesedihan juga katanya menular tetapi lebih kurang efektif dibandingkan dengan kebahagiaan. Masya Allah.

They learn the art from you. Saya mengajarkan kata “ketuk” sambil mengetuk-ngetuk perut dan seolah-olah mengajak bermain. Ketika masih di dalam perut, the art yang bisa diajarkan masih sangat terbatas, tetapi ketika sudah dilahirkan they really learn the art from you how to keep happy in every situation. Thus show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Pertanyaannya adalah apakah sekarang Anda telah memiliki ‘something you truly enjoy’? *retorika* haha.. Menurut Aa Gym, cara terbaik mengajarkan disiplin adalah dengan memberi contoh disiplin dan menerapkannya kepada diri sendiri. Coba hubungkan nasihat tersebut dengan ungkapan they learn the art from you. Kalau istilah populer sekarang they learn about how to be a passionate person from you. Then congratulation! Anda telah menunjukkan seninya dengan baik.

***

Catatan: Tulisan ini ditujukan sebagai bahan introspeksi apakah saya sudah menjalankan apa yang saya tulis di sini. Bukan berarti bahwa saya telah menjalankan ini secara konsisten lhoo 😀

Advertisements

Bahagia Itu Menular

Saya baru membaca artikel menarik yang berjudul Happiness is contagious. Katanya kebahagiaan itu menular! Bahkan lebih menular daripada kesedihan. Penelitian menunjukkan bahwa pesona kebahagiaan dapat menyebar secara viral di dalam jaringan sosial. Ini berarti bahwa kita dapat menjadi penyebab kebahagiaan untuk orang yang belum pernah kita temui.

Para peneliti menemukan hubungan statistikal bukan hanya antara kebahagiaan seseorang dan kebahagaan temannya, tetapi antara kebahagiaan seseorang dengan kebahagiaan temannya temannya teman (ini bukan typo kebanyakan nulis “temannya” lho..).

Mereka berkesimpulan:

  • melakukan kontak langsung dengan orang yang sedang bahagia akan meningkatkan kemungkinan orang kedua menjadi bahagia juga sebesar 15%
  • melakukan kontak dengan orang kedua yang telah mendapatkan pengaruh kebahagiaan dari orang pertama akan meningkatkan kemungkinan orang ketiga menjadi bahagia juga sebesar 10%
  • melakukan kontak dengan orang ketiga yang telah mendapatkan pengaruh kebahagiaan dari orang kedua (atau temannya temannya teman :D) akan meningkatkan kemungkinan kebahagiaan orang keempat juga sebesar 6%

Sayangnya tebar pesona kebahagiaan yang dilakukan oleh orang keempat tidak akan berpengaruh terhadap kebahagiaan orang kelima. Penelitian ini cukup kuat kebenarannya, katanya. Ini berarti apabila kita sedang bad mood berarti kita telah kehilangan kesempatan membahagiakan bukan hanya kepada orang yang kontak dengan kita secara langsung, tetapi juga membahagiakan temannya temannya mereka. Dan para peneliti juga berpesan bahwa “the findings do not mean you should avoid unhappy people, but that you should make an effort whenever you can to spread happiness.”

Sumber: http://www.webmd.com/balance/news/20081204/happiness-is-contagious.