Fardes!

Pengalaman menarik ketika kamu tinggal selama seminggu bersama orang-orang yang tidak kamu kenal, berusaha untuk bersikap ramah dengan tuan rumah, bekerja sama dengan teman serumah karena hidup ditemani kekurangan dan keterbatasan. Fardes, acara ini lah yang memperkenalkan saya pada itu semua.

Di sana saya mengalami susahnya buang air kecil karena tidak ada kamar mandi tertutup. Harus menunggu malam, atau menumpang ke rumah orang yang punya jamban sendiri walaupun tidak berpintu. Di sana saya mengalami bagaimana susahnya memasak dengan suluh, tidak menggunakan minyak tanah, meniup untuk memberikan oksigen bukan karbon dioksida, sehingga badan menjadi bau, tangan menjadi hitam, semua karena asap. Di sana saya mengalami jauhnya perjalanan untuk mendapatkan pengajaran di Sekolah Dasar. Jalan mendaki, menggunung, melewati lembah. Jauh! dan Adit, anak kecil yang tinggal di rumah yang saya tinggali, setiap hari bolak-balik menempuh perjalanan tersebut untuk sekolah.

Saya melihat bagaimana para bapak sengaja mengumpulkan daun kelapa kering (janur) untuk dilinting menjadi rokok. Saya juga melihat bagaimana setiap hari mereka makan dengan mie instan seperti layaknya makanan pokok. Saya melihat seorang anak yang muntah karena kami beri dia makan sarden, mungkin karena dia tidak biasa.  Saya melihat banyaknya perhiasan yang mereka punya padahal kamar mandi tidak mereka punyai. Bahkan saya melihat santainya mereka mengobrol ini-itu tidak jelas setiap hari.

Warna-warni sebuah pedesaan.

Bersama dengan seratus orang teman melakukan kerja sama dengan para warga. Melakukan penyuluhan, mengadakan pelatihan di bidang kesehatan. Entah parameter materi tersampaikan atau tidak. Ada hal lain yang juga penting, seratus orang ini yang dibagi ke dalam 6 RW, penghuni masing-masing RW menjadi kenal, menjadi merasakan, menjadi berkeluarga. Kesusahan membuat saling bergantung. Menjadi ingin terus berbagi.

Thanks fardes, mungkin saya tidak bisa memberikan yang terbaik.

RW 4. Dani, Fika, Nene, Qisti, Sul, Dipta,Anil, Umar, Purwa, Malin, Wiwik, Dini, Ratna, Fitri, Rani, Naida

GREAT ESCAPE! eksotisme Kidang Pananjung

Oke, wedew baru kesampean mau nulis great escape Kidang pananjung! Berjalan ke bumi kidang pananjung. Suatu desa di lereng gunung, tepatnya di daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini terpilih sebagai lokasi Farmasi pedesaaan XIII.Semoga kita dimudahkan ke desa ini dan apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak (warga desa dan panitia Fardes) bisa terlaksana.

Inilah eksotisme Desa Kidang Pananjung:

  • Masalah yang paling utama berdasarkan musyawarah adalah pendidikan. Walaupun pendidikan sudah gratis, untuk SD, SMP dan SMA, tetapi warga merasa berat untuk masalah transportasi. Jarak yang cukup jauh antara tempat sekolah dan desa bisa membuat warga perhari mengeluarkan uang Rp 20.000 untuk membiayai pergi kesekolah. Sedangkan pernghasilan rata2 perkapita perhari adalah hanya sebesar Rp 8360. Emang daerahnya jauh dari pusat masa, jalan rusak dan menanjak.

jalan yang bagus. tapi menanjak meen..

  • Masalah kedua menurut warga adalah masalah kesehatan. Sebenernya pemerintah sudah mengadakan jamkesmas untuk warga desa KP ini, sehingga mereka bias gratis ke puskesmas. Tetapi yang jadi masalah adalah tempat puskesmas yang sangat jauh dari desa bahkan sampai memakan biaya rp 300.000 untuk ongkos perjalanan. Karena hal ini masyarakat cenderung malas untuk pergi ke puskesmas, dan memilih untuk menahan penyakitnya atau mengobati sendiri.
  • Masalah MCK, masih banyak RW yang belum dilengkapi MCK disetiap rumahnya. Seperti RT03, RW 02 & 01. Masih banyak warga yang sudah mempunyai rumah dari batu bata, tapi tidak membuat MCK karena sudah terbiasa di ‘luar’.
  • Masalah kesehatan air. Hamper seluruh warga desa KP mengambil air dari sumber mata air. Tapi masalahnya pada saat hujan air nya yang biasanya bening berubah menjadi putih keruh. Mereka bertanya apakah ini berbahaya untuk dikonsumsi atau tidak. Apakah butuh filter ato bgmn baiknya. Karena ada seorang  warga yang menggunakan sumur yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air, tetapi pada saat musim hujan tidak mengalami kekeruhan seperti sumber mata air itu.

MCK-nya kayak geneee.. menurut lo?

Nah lhoo kesadarannya juga kan. Ayo ayo!


  • Masalah ketiga adalah mengenai ekonomi. Karena menurut mereka perekonomian tidak merata. Komoditas utama dari desa KP adalah singkong, yang biasa mereka buat menjadi tape. Tapi ada banyak kendalanya karena dalam 3 hari saja tape itu sudah busuk. Juga mereka mengeluhkan kurangnya pemasaran karena mereka tidak terlalu mengerti bagaimana caranya.

Peyeum bandung asik!

Ini teh kayak chiki aja dijual pelastikan. Oh My GOD! *rokok lho itu*

  • Masalah keempat adalah mengenai sarana. Banyak jalan yang longsor dan rusak berat. Maka dari itu desa KP sulit dijangkau.

Yaah begitulah sekilas tentang Desa Kidang Pananjung. Di samping masalah mereka ada juga keeksotisan masyarakat dan kondisi alam di sana. Ketika pertama kali datang kesana,  kamu akan melihat daerah hijau di sekeliling, really really green. Bahkan gak ada sifat komparatif atau superlatif tentang hijau di sana karena kehijauan adalah milik mereka semua. That’s why I mean it’s great escapes! Kalo kamu stress datang deh ke sana liat yang ijo-ijo. Tapi miris memang, kebersihan dari masyarakatnya kurang.

cocok buat kontemplasi

Can you do this everyday?

Foto-foto yang lain ada di saya.. kalo mau liat hubungin saya kawan! 🙂