Persalinan Aluna

Saya akan bercerita tentang persalinan anak pertama dari kehamilan kedua saya. Alhamdulillah anak pertama saya adalah seorang perempuan cantik yang kelak mampu menjalani hidup ini dengan baik (InsyaAllah). Oleh karena itu, nama yang saya berikan adalah sebuah doa untuknya, doa untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya.

Aluna, itulah nama depan putri pertama saya.

Persalinan Aluna bisa dibilang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Yang pasti bahwa persalinan spontan telah diupayakan semaksimal mungkin, namun qadarullah, jalan operasi adalah langkah terbaik dan terakhir yang dilakukan.

***

Hari perkiraan lahir telah terlewati namun kontraksi belum juga muncul. Dokter memutuskan akan melakukan induksi persalinan untuk memunculkan kontraksi tersebut. Pada kontrol terakhir itu saya diberi rujukan untuk memesan kamar rawat inap, bila kamar tersedia, malam itu saya langsung diberi tindakan. Namun saya meminta izin kepada dokter untuk mengulur tindakan induksi hingga esok hari dengan alasan menunggu suami pulang. Padahal alasan sebenarnya adalah saya masih ingin memunculkan kontraksi itu secara alami dengan melakukan jalan kaki di sisa hari. Kebetulan pada saat itu saya hanya ditemani ibu sedangkan suami masih bekerja di luar kota.

Saya jalan kaki sampai menjelang malam. Kontraksi masih belum juga muncul. Bahkan keesokan harinya saya menari-nari dan melakukan gerakan apa pun untuk memicunya. Kontraksi masih belum juga muncul.

Saat suami telah pulang, saya bertanya, apakah masih mau menunggu kontraksi sampai maksimal seminggu ke depan atau induksi saja? Suami bilang, “Sudah nurut saja apa kata dokter”. Ya sudah, akhirnya sore hari kami langsung check-in rumah sakit.

Katanya persalinan yang diinduksi itu sakitnya lebih parah. Belum lagi resiko bayi akan stress karena dipaksa keluar. Ibu saja sakit, apalagi bayinya yang lebih sensitif daripada ibunya.

Hmm.. keputusan telah diambil. Malam itu saya dijelaskan induksi yang akan dilakukan. Pertama induksi menggunakan balon kateter. Cara kerjanya adalah balon dimasukkan ke dalam vagina, lalu balon tersebut diisi dengan air. Balon akan membantu mulut rahim untuk membuka sehingga memicu yang namanya bukaan. Kalau sukses, biasanya akan sampai bukaan ke-5 atau 6. Namun bila gagal di tengah jalan, balon akan terlepas sendiri dari tempatnya. Lama kerja balon kateter ini adalah 4-6 jam. Apabila setelah dipasang balon kateter ini kontraksi telah muncul dan kekuatannya bagus, maka persalinan dan bukaan selanjutnya akan ditunggu tanpa induksi apa-apa. Namun apabila hasilnya belum memuaskan maka induksi akan dilanjutkan dengan langkah kedua, yaitu induksi menggunakan oksitosin melalui intravena (infus).

Sesaat setelah dipasang balon kateter, kontraksi itu muncul dan saya baru merasakan yang namanya mules sebelum melahirkan. Sebelumnya saya bingung jawab apa kalau ditanya, gimana udah mules belum? Akhirnya saat itu saya berucap.. oh gini toh yang namanya mules. Rasanya? Subhanallah. Memang sakit sekali mulesnya. Saya kira bukaannya sudah besar. Ketika dicek hanya sampai bukaan 4 dan balon kateter terlepas.

Sudah pasti induksi kedua harus dilakukan. Singkat cerita saya dipasang infus berisi oksitosin. Labu pertama, saya masih bisa ketawa-ketawa. Ditanya mules tidak, Bu? saya bilang sedikit. Masih lebih sakit waktu saya dipasang balon kateter. Sampai labu pertama habis saya dicek bukaan. Wah masih bukaan 4 Bu. Yo wis, mau tidak mau labu kedua dipasang, dosis oksitosin lebih tinggi. Saya khawatir ini akan menghasilkan mules yang luar biasa. Setelah jam demi jam mules itu muncul, bahkan lebih intens. Lima menit sekali, meningkat menjadi tiga menit sekali, lalu dua menit sekali. Setiap mules itu muncul saya menyenggol tangan suami saya. “Sakit?”, tanya dia dan saya hanya menganggukkan kepala.

Sudah hampir hari kedua di rumah sakit. Labu kedua pun habis. Saya dicek bukaan. Dan you know… bukaan masih sama! What?! Saya disuruh menunggu keputusan dokter. Akhirnya hanya menunggu beberapa menit, suster bilang bahwa dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Saya disuruh puasa malam itu juga. Keputusan untuk SC itu sekitar jam 11 malam dan saya tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.

Jam 8 pagi saya melakukan persiapan SC. Kateter urine dipasang, dan itu sakit. Sebelum masuk ruang operasi saya menangis. Sebenarnya bukan menangis karena akhirnya SC, tapi saya menangis karena kateter itu. Rasanya… huah.. linu, iya, sakit, iya. Sampai dipindahkan ke ruang operasi pun saya masih kelihatan menangis. Saya melewati ruang tunggu dan melihat orang tua khawatir. Mungkin mereka pikir saya sedih atau takut dioperasi. Tidak Bu, Pak. Saya menangis karena kateter itu. Hiks.

Kurang lebih jam 9.30 operasi dimulai. Ruang operasi dingin sekali, saya sampai menggigil. Saya dibius setengah badan, disuntik di bagian tulang belakang. Saya pikir akan sakit sekali, ternyata tidak. Operasi pun dimulai. Saya masih bisa menengar percakapan para caregiver. Bahkan dokter anestesi yang sejak awal membuat saya sangat rileks berucap, “Tuh perutnya lagi dibelek”.

Ketika bayi akan dikeluarkan, para caregiver itu memerlukan sedikit usaha sehingga saya merasa agak sesak. Tidak lama tangisan bayi pecah. Saya mengucap hamdallah dan sangat penasaran apakah bayinya sehat dan sempurna. Orang-orang hanya bilang bayinya besar dan perempuan, tapi apakah sehat?

Operasi pun selesai. Saya diobservasi dulu selama kurang lebih sejam. Bayi saya pun sama. Saya belum melihat bayi saya. Orang pertama yang melihat bayi saya adalah pak suami, karena sekaligus dia yang mengazani.

Akhirnya saya keluar dari kamar operasi. Saya melihat suami saya tersenyum. Dan bilang dedenya sehat dan sempurna. Alhamdulillah. Saya bersyukur dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang saya inginkan pada saat itu hanylah melihat bayi saya dan mendekapnya.

***

Saya bukan penulis handal. Kata-kata yang saya tulis ini belum mampu melukiskan kejadian persalian Aluna yang sebenarnya lebih penuh rasa. Maha Besar Allah atas penciptaan-Nya. Maha luas rezeki-Nya. Maha Bijaksana atas keputusan-Nya. Mohon doaya semoga Aluna menjadi puteri yang shalehah dan kami bisa menjadi orang tua yang shaleh pula. Semoga yang sedang hamil dimudahkan persalinannya dan yang belum hamil dibukakan jalannya. Alhamdulillah..

Ketika Ibu Hamil Pergi Sendirian

Masyarakat Indonesia memang ramah. Setidaknya saya diingatkan kembali bahwa pernyataan itu benar adanya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang masyarakatnya ramah. Kata siapa keramahan orang Indonesia sudah tidak ada? No. Masih kok. Cuma kadang kita tidak bisa melihatnya secara jelas, karena kebiasaan kita yang menganggap “sudah sewajarnya begitu”.

Tidak ada yang tidak menyapa ketika saya pergi ke pusat keramaian. Dengan keadaan perut saya yang besar dan jalan saya sudah seperti penguin, banyak yang mendoakan saya. Ada yang mengelus perut saya lalu bertanya; sudah berapa bulan, anak ke berapa, kontrol sama dokter siapa, dll. Alhamdulillah saya masih dipertemukn dengan orang-orang yang perhatian di negeri ini.

Namun memang tidak dipungkiri, kebanyakan orang yang menyapa saya adalah para wanita berumur. Lalu kemana para wanita mudanya? ada. Saya merasakan perhatian mereka dengan cara yang berbeda. Mereka menatap saya lebih dari 3 detik. Mungkin di dalam pikirannya “wah, kasian yah mbak itu keberatan, saya juga akan seperti dia nanti”. Tidak apa, bagi saya tatapan itu adalah bentuk perhatian yang malu untuk diungkapkan. Karena ketika kamu sudah tidak dihiraukan keberadaannya, baru di situlah kamu harus merasa tersinggung.

Saya ceritakan hal yang menyenangkan ini pada pak suami. Suami saya malah menggoda saya, “Oh mungkin karena yang hamilnya masih muda banget, kayak bocah. Mungkin mereka takjub, wah kecil-kecil udah mau punya anak lagi ya”. Errr…

Hmm.. mungkin suami saya ada benarnya. Apabila ada seseorang yang “sudah sepantasnya” hamil berada di pusat keramaian, bisa jadi orang-orang akan menganggap “sudah sewajarnya dia begitu (hamil)”. Mengerti kan maksud ku? Lho kok jadinya orang Indonesia terkesan memilih-milih keramahan ya. Haha.. Enggak kok, saya yakin tidak begitu. Karena….

Ternyata inilah yang membuat kehidupan menarik: never take anything for granted. Termasuk kenangan yang berkesan dari kejadian sehari-hari. Saya bisa saja mengacuhkan perhatian mereka, tidak menyimpannya di dalam memori, dan tidak menceritakan hal menyenangkan menurut saya ini pada suami. Tetapi tidak. Saya bersyukur dengan penyambutan ini. Alhamdulillah.

Pemulihan Pasca Keguguran/ Kuret

Keguguran di awal kehamilan ternyata bukanlah sesuatu yang langka bagi seorang wanita. Berdasarkan beberapa informasi yang saya baca, satu dari lima orang wanita akan mengalami keguguran di masa kehamilannya. Dengan kata lain peluang terjadinya keguguran bagi setiap wanita adalah 20%, dan 80% diantaranya terjadi di awal kehamilan. Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya keguguran di awal kehamilan, namun kemungkinan terbesar adalah terjadinya misscombination chromosom yang menyebabkan janin tidak berkembang. Mengapa bisa terjadi? ada banyak faktor. Mulai dari ketidakstabilan hormonal, gaya hidup, virus, atau paparan radiasi dan bahan berbahaya.

Saya termasuk 20% kelompok wanita yang mengalami keguguran di awal kehamilan. Bercak darah muncul seminggu sebelum kontrol kedua dengan usia janin sekitar 9 minggu dan akhirnya kondisi saya berakhir dengan tindakan kuretase yang telah saya ceritakan di sini. Minggu keempat setelah kuretase adalah waktunya saya kontrol. Alhamdulillah, dokter menginfokan rahim saya sudah bersih, artinya tidak ada sisa jaringan kuretase yang tertinggal. Namun rahim saya perlu “diistirahatkan” dulu sampai 2 kali siklus menstruasi. Terakhir, saya diberi vitamin prenatal vitamin E dan asam folat + DHA untuk dikonsumsi apabila saya telah  mengalami 2 kali siklus menstruasi. Siklus menstruasi pertama berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Di siklus kedua, saya mengalami keterlambatan hampir seminggu lebih. Saya khawatir, di-test pack beberapa kali hasilnya negatif tetapi kok tidak menstruasi juga.. Sampai saya berpikir, pantas saja dokter tidak mengatakan rahim “diistirahatkan” dalam hitungan bulan karena bisa saja waktu mestruasi setelah kuretase menjadi acak-acakan. Dan ternyata benar, setelah saya searching di internet, ketidakstabilan hormonal masih terjadi sesaat setelah mengalami kuretase. Jadi jangan khawatir ya moms!

Menurut artikel yang saya baca, sebenarnya tidak ada jeda berapa lama mommy bisa hamil lagi setelah kuretase, yang pasti selama mommy dan partner telah siap maka tidak ada halangan untuk langsung hamil kembali. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesiapan itu bukanlah fisik semata, tetapi faktor lain seperti mental dan perasaan.

Dari pengalaman yang telah saya lalui (walaupun singkat) saya ingin sedikit berbagi beberapa hal kepada moms-to-be untuk tetap ceria dan siap apabila telah/ belum mengalami keguguran.

  1. Berdoa untuk segala kondisi, ya mommy.
  2. Tidak usah khawatir mommy, keguguran di awal kehamilan bukanlah masalah yang besar because you’re not alone. Lebih jauh lagi apabila mommy terbesit rasa bersalah, “apa saya tidak menjaganya dengan baik ya”, no! tentu saja bukan.
  3. Prenatal preparation? Why not! Bahkan beberapa orang yang saya kenal sudah mempersiapkan baik mental dan fisiknya sejak beberapa bulan sebelum pernikahan. Persiapan bisa dilakukan melalui olahraga teratur, makan makanan bergizi, menjauhi junk food, pengawet dan MSG, membaca artikel-artikel mengenai kehamilan, minum susu prenatal, atau konsultasi ke dokter.
  4. Ajak partner melakukan prenatal preparation juga. Mungkin waktu memulainya tidak perlu bersamaan namun ajak lah untuk membangun benteng bersama-sama. Yang bertanggung jawab atas kesehatan janin bukanlah mommy saja, tetapi partner juga, logis bukan?
  5. Pastikan kondisi badan sedang fit ketika sedang bertemu partner, tidak stress dan selalu berbahagia.

Dan masih banyak lagi saran-saran lain yang tidak tertulis di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi mommy semua. Mommy harus tetap semangat dan mengontrol emosi agar semua aktivitas berjalan dengan lancar. Menurut dokter SpOG saya, tidak ada penanganan khusus terkait medis pasca keguguran pertama, pun saat kedua kalinya terulang. Nah, jika keguguran ketiga terjadi berturut-turut, ini lah yang perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dan penanganan lebih lanjut oleh dokter. Semoga sehat selalu ya moms 🙂

Seni Bahagia Calon Ibu

Happiness is Contagious
By William Martin
Excerpt from The Parent’s Tao Te Ching

We all want our children to be happy.
Somehow, some way today
Show them something that makes you happy,
Something you truly enjoy.
Your own happiness is contagious.
They learn the art from you.

Sumber: http://www.definingparent.com

Semalam saya merasakan ada letupan di dalam perut saya. Mungkin cegukan atau hentakan. Saya coba menepuk balik sambil berkata “tepuk”. Lama-lama letupan hilang. “Yaah..Cuma sebentar mainnya”, gumam saya di dalam hati.

Menurut buku yang saya baca, ibu hamil akan merasakan gerakan janin mulai usia 16 minggu apabila itu kehamilan kedua dan seterusnya. Sedangkan untuk kehamilan yang baru kali pertama, ibu hamil akan merasakan gerakannya ketika berusia 17-18 minggu. Entah saya merasakan sugesti atau bukan, semalam itu saya mendengar bunyi “lup…lup..lup” beberapa kali dari perut ini. Kalau pun itu hanya bayangan saja, saya cukup merasa senang.

We all want our children to be happy. Ya, kebahagiaan yang sebenarnya dari dalam hati, bukan karena materi atau makhluk. Sekali pun pasti melewati cobaan hidup, kebahagiaan tetap dirasakan dengan caranya yang sesuai. “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Somehow, some way today. Show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Selain ibu dan janin berada dalam satu raga, ternyata keduanya pun berada dalam satu sisi emosi. Katanya sejak di dalam kandungan janin dapat merasakan emosi yang sedang dialami oleh ibunya meliputi emosi sedih, cemas, atau bahagia. Mungkin inilah salah satu faktor yang membentuk nature mereka. Banyak artikel parenting yang menjabarkan cara-cara membentuk anak saleh sejak dalam kandungan. Salah satunya adalah melatih aspek kongnitif mereka dengan cara mengajak ngobrol, memberi rangsang sentuhan, ketukan, suara, dll, termasuk dengan cara menjaga emosi ibu agar anak merasa nyaman. Emosi ibu dapat dijaga dengan melakukan sesuatu yang ibu suka dan tentu dukungan dari pasangan.

Your own happiness is contagious. Silakan baca blog saya di ODOPfor99days day 4 atau klik link ini. Kebahagiaan itu menular sampai 4 lapis kontak sosial! Artinya jika saya bahagia, kemungkinan temannya temannya teman saya menjadi bahagia juga meningkat. Teman yang secara langsung kontak sosial dengan kita yang sedang bahagia akan meningkat juga kemungkinan menjadi bahagianya sebesar 15%. Bayangkan jika teman itu adalah bayi yang ada di perut kita. Itulah sebabnya ibu hamil dianjurkan untuk selalu bahagia atau setidaknya mengontrol emosinya agar tetap stabil. Kesedihan juga katanya menular tetapi lebih kurang efektif dibandingkan dengan kebahagiaan. Masya Allah.

They learn the art from you. Saya mengajarkan kata “ketuk” sambil mengetuk-ngetuk perut dan seolah-olah mengajak bermain. Ketika masih di dalam perut, the art yang bisa diajarkan masih sangat terbatas, tetapi ketika sudah dilahirkan they really learn the art from you how to keep happy in every situation. Thus show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Pertanyaannya adalah apakah sekarang Anda telah memiliki ‘something you truly enjoy’? *retorika* haha.. Menurut Aa Gym, cara terbaik mengajarkan disiplin adalah dengan memberi contoh disiplin dan menerapkannya kepada diri sendiri. Coba hubungkan nasihat tersebut dengan ungkapan they learn the art from you. Kalau istilah populer sekarang they learn about how to be a passionate person from you. Then congratulation! Anda telah menunjukkan seninya dengan baik.

***

Catatan: Tulisan ini ditujukan sebagai bahan introspeksi apakah saya sudah menjalankan apa yang saya tulis di sini. Bukan berarti bahwa saya telah menjalankan ini secara konsisten lhoo 😀

Pengalaman Keguguran

Ini adalah pengalaman saya di kehamilan pertama. Pada usia 9 minggu, janin dinyatakan tidak berkembang, jadi terpaksa harus dikeluarkan dari rahim saya. Saya sih awalnya biasa saja, tetapi ketika ditanya ini itu lalu tersadar, kok sedih juga ya.. hmm. Kejadiannya begitu cepat dan keputusan untuk kuretase pun cepat diambil oleh saya dan suami. Kami cuma bisa pasrah dan nurut saja apa yang disarankan oleh dokter, yang terbaik lah yang kami inginkan.

***

Pertama kali saya kontrol ke dokter itu pada saat minggu ke-6 masa kehamilan (dihitung dari HPHT). Pada saat di-USG, bakal janinnya belum terlihat, namun kantung kehamilan sudah ada. Belum ada perasaan was-was disini, karena baca-baca dari forum diskusi internet banyak juga yang mengalami hal sama. Yowes jadi jalan ae aja…

Belum sempat kontrol kedua kalinya, ketika memasuki minggu ke-9 kehamilan, saya mendapati bercak darah pada pagi hari. Setelah mandi dan bersih-bersih bercak itu tidak muncul lagi sampai malam harinya. Besoknya adalah hari Senin jadi saya masuk ke kantor seperti biasa. Tidak diduga, pada siang hari saya mendapati bercak lagi. Akhirnya sepulang dari kantor saya memutuskan untuk cek ke dokter terdekat untuk memastikan bahwa kandungan saya baik-baik saja. Jenjreng….namun ternyata hasilnya kurang positif, dokter menyatakan bahwa kemungkinan saya mengalami blighted ovum karena yang terlihat di layar USG hanya kantung kehamilannya saja, sedangkan isinya tidak ada. Dokter sempat menyinggung tentang kuretase, tetapi saya diminta untuk datang lagi 2 minggu kemudian.

Besoknya saya masih penasaran. Akhirnya saya ditemani ibu memutuskan pergi ke dokter kedua untuk dicek. Dokter kedua mengatakan bahwa janin telah terlihat (Alhamdulillah) tetapi…. detak jantungnya tidak ada, dan ukurannya pun lebih kecil dari yang seharusnya usia 9 minggu. Dokter kedua merekomendasikan untuk tindakan kuretase, bahkan saya sampai diberi surat rujukan untuk langsung ke UGD apabila sudah diskusi dengan suami. Sebelum pulang, dokter mempersilakan saya untuk mengecek ke dokter lain sebagai second opinion (wah dokternya tidak tahu kalau saya ngecek lagi berarti sudah third opinion hehe..) Saya pertimbangkan lagi karena dua dokter yang telah didatangi memiliki diagnosa yang berbeda. Walaupun keduanya memiliki diagnosa yang negatif, saya masih berharap ada keajaiban untuk pengecekan selanjutnya.

Saya menelepon suami dan menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter kedua. Suami terus bertanya mengenai banyak hal dan menanyakan apakah dia perlu pulang ke Bandung. Saya pikir kalau mau pulang ya pulang saja, tidak perlu menanyakan persetujuan. Bahkan seharusnya inisiatif pulang (pikiran saya waktu itu.. hehe maaf pak bos). Saya mulai speechless. Saya tutup teleponnya tanpa berkomentar karena saya sudah tidak bisa membendung air mata. Mungkin suami saya semakin khawatir lalu akhirnya dia mengirim pesan bahwa sore ini dia pulang ke Bandung.

Suami sampai di Bandung malam hari. Tangis saya sempat pecah begitu menyambut sambil memeluknya. Malam itu juga kami berdisuksi dan akhirnya diputuskan untuk melakukan pengecekan ke dokter kandungan yang ketiga esok hari. Ternyata dokter ketiga memiliki diagnosa yang sama dengan dokter kedua, yaitu janin tidak berkembang. Di situ saya sudah pasrah. Dokter ketiga menceritakan tentang detail kondisi, kemungkinan penyebab, dan jadwal tindakan apabila mau dikuretase. Ternyata jadwalnya adalah esok hari. Saya tidak menyangka secepat itu, tetapi ya sudah apabila harus dikeluarkan dari rahim, maka saya ikuti saja prosedurnya. Saya diberi surat rujukan untuk kuretase dan pengecekan laboratorium. Pengecekan laboratorium saya lakukan hari itu juga. Selain itu kami juga membereskan peradministrasian, mulai dari pembayaran, tata laksana sampai dengan pemberian informed consent oleh petugas kesehatan disana.

Saya dijelaskan bahwa kuretase adalah tindakan 1 hari (tidak dirawat inap) dan nanti akan dibius total. Saya dan suami dimintai persutujuan dan menandatangani pernyataan. Saya diberi tahu bahwa besok pukul 6 pagi harus sudah ada di UGD. Saya melihat lokasi ruang operasi tetapi tidak melihat keadaan di dalamnya.

Akhirnya hari H tiba. Ketika jam 6 pagi saya disuruh tiduran dulu di UGD. Tekanan darah diperiksa. Lalu saya dipindahkan ke tempat yang setiap orang masuk kesana harus memakai pakaian berwarna biru muda (seperti pakaian operasi) dan sandal harus dilepas. Tindakan kuretase akan dimulai pukul 9 pagi. Saat itu saya hanya ditemani oleh suami sedangkan orang tua dan mertua akan menyusul siang harinya. Sebelum dipindahkan ke kamar tindakan, saya disuruh mengganti baju dengan baju seperti baju operasi dan  diberi obat vaginal terlebih dahulu yang katanya akan berefek mulas. Sampai mendekati pukul 9 saya tidak merasakan mulas sama sekali. Lalu tangan saya disuntik dan dipasang selang penyambung infus. Ini adalah pertama kalinya saya mengalami tindakan yang berhubungan dengan kesehatan cukup serius. Sebelumnya saya tidak pernah diinfus dan saya tidak pernah dirawat inap.

Jam 9 pun tiba. Saya didorong oleh perawat ke kamar lain, kamar yang diatas pintu masuknya ada satu lampu bohlam  seperti kamar operasi. Saya tidak menyangka bahwa kamar tindakan kuretase itu seserius ini. Hanya ada 1 tempat tidur di dalam ruanagn itu yang di sekitarnya dikelilingi beberapa instrumen dan tepat diatas tempat tidur itu ada lampu-lampu besar seperti difungsikan untuk penerang observasi pada saat operasi. Alat untuk memonitor tekanan darah yang dapat merekam berapa tekanan darah saya dalam setiap 3 menit dipasangkan di lengan. Saya memerhatikan nilai tekanan darah setiap alat itu berbunyi. Lama-lama semakin tinggi. Mungkin saya cemas. Perawat melihat saya tegang dan saya disuruh tenang. Hampir 15 menit saya menunggu dokter anestesi dan dokter kandungan di dalam kamar itu. Mungkin saya sengaja dimasukkan sebelumnya agar saya membiasakan diri.

Akhirnya dokter anestesi datang, ketika obat bius disuntikkan lewat jalur infus yang sebelumnya sudah dibuat, tangan saya terasa dingin. Tidak lama dalam hitungan detik saya langsung tidak sadar total.

Selama 2 jam saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Bangun-bangun saya sudah berada di kamar tunggu sebelum operasi. Di hidung saya terpasang selang oksigen dan ada suami serta orang tua. Beberapa lama kemudian dokter datang dan menanyakan kabar. Perawat membawa sampel hasil kuretase dan menjelaskan bahwa sampel tersebut akan dibawa ke bagian patologi anatomi. Kebetulan mertua saya adalah dokter patologi anatomi, suami saya bertanya kepada ibu apakah nanti hasilnya dapat diketahui penyebab keguguran? Ibu bilang tidak. Kita hanya dapat mengetahui apakah benar itu sampel kehamilan atau bukan. Dan memang benar, setelah beberapa hari hasil PA keluar, kesimpulannya sampel adalah sisa kehamilan.

Setelah beberapa jam semua kembali normal. Saya tidak merasakan apa-apa, malah saya merasa seperti habis bangun tidur yang nyenyak sekali.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Hampir-hampir saya tidak percaya kalau saya telah melewati kejadian emosional yang besar. Saya sedih tetapi tidak berlarut. Sempat ada kekhawatiran apakah saya bisa hamil sehat karena saya pernah baca apabila pernah mengalamai keguguran maka peluang keguguran lagi meningkat. Setelah kejadian itu saya dan suami berusaha hidup sehat dengan memperbaiki asupan nutrisi. Alhamdulillah setelah 2 kali menstruasi, saya kembali positif hamil dan saat ini kandungan saya telah mencapai 17 minggu.

Semoga kita semua selalu sehat. Aamiin.

Menjadi Orang Tua

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya. Pekerjaan rumah calon orang tua sebelum memiliki anak adalah bagaimana membekali diri agar ketika sudah dinyatakan pantas, bekal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dari hari ke harinya. Tidak ada yang sempurna. Walaupun sudah mengalami asam manis kehidupan, akan ada kalanya kesalahan itu terjadi. Bukan salah yang sebenarnya, mungkin.

Saya adalah produk didikan orang tua saya. Waktu saya jauh lebih muda, mungkin tidak terpikir oleh saya bahwa didikan orang tua yang begini dan begitu akan berdampak sesuatu pada diri saya nantinya atau menyadari bahwa didikan itu akan membentuk saya yang seperti sekarang ini.

Pada awal pernikahan adalah masa-masa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga suami. Saya mengenal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di tahun ke-5, saya mulai dekat dengannya (kalau istilah sekarang mah pacaran). Di tahun ke-8 kami berpisah dan di tahun ke-9 kami balikan lagi ha ha.. Sampai akhirnya pada tahun ke-10 kami menikah. Waktu 10 tahun cukup untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya bukan? Ya, tentu. Lalu setelah menikah apakah semuanya sudah cukup? Tentu tidak.

Pernikahan membuat saya lebih memahami akan dirinya. Saya menjadi lebih mengerti kenapa sifatnya seperti itu setelah saya mengenal lebih jauh kedua orang tuanya… Oh ternyata sisi dia yang ini mirip ibunya, dan sisi dia yang itu mirip bapaknya. Hingga pada akhirnya saya pun menganalisa diri saya sendiri dan darimana sifat saya ini bersumber.

Inilah salah satu proses pembekalan diri saya untuk calon anak saya nanti. Setelah membedah sifat dan sumbernya saya menemukan kesyukuran, kegembiraan bahkan kekecewaan. Untuk sifat yang baik akan selalu dijaga dan dijunjung sedangkan untuk sifat yang belum sempurna, ada keinginan untuk menghindari sifat itu dan membuatnya jauh lebih baik. Agak naïf memang, bagaimana kalau sifat itu sudah tertanam dalam alam bawah sadar saya, dan bukankah tindakan kita sebagian besar dipengaruhi oleh alam bawah sadar?

Role mode. Saya juga mempelajari role mode orang tua yang baik menurut saya. Catat, bukan berarti orang tua saya bukanlah role mode ya, beliau adalah orang tua terbaik yang saya miliki dan saya semakin menyadarinya setelah saya akan menjadi orang tua. Saya banyak membaca referensi tentang orang tua yang sukses membimbing anaknya, yang terbaru adalah saya menelusur sosok orang tua di era modern, yaitu orang tua dari Isyana Sarasvati, dimana beliau ternyata orang hebat yang mampu mengarahkan bakat kedua anaknya, salah satunya bakat bermusik Isyana. Intermezzo, kenapa coba saya berhenti dan menelusur sosok Isyana Sarasvati? Ha.. ha.. sudah pasti karena sekarang Isyana sedang menjadi godaan para pria… saya masih geli membaca joke ini bahwa godaan pria sekarang ada 4, yaitu harta, tahta, Raisa, dan Isyana 😀

Pada akhirnya setiap orang pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat saya untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik. Setiap saya merasakan ketidaknyamanan ketika sedang hamil, saya langsung ingat bahwa saya sedang diberi karunia yang luar biasa oleh Allah. Inilah titik dimana saya sadar bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah dan sungguh membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keihklasan sejak awal.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14)