Menjadi Orang Tua

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya. Pekerjaan rumah calon orang tua sebelum memiliki anak adalah bagaimana membekali diri agar ketika sudah dinyatakan pantas, bekal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dari hari ke harinya. Tidak ada yang sempurna. Walaupun sudah mengalami asam manis kehidupan, akan ada kalanya kesalahan itu terjadi. Bukan salah yang sebenarnya, mungkin.

Saya adalah produk didikan orang tua saya. Waktu saya jauh lebih muda, mungkin tidak terpikir oleh saya bahwa didikan orang tua yang begini dan begitu akan berdampak sesuatu pada diri saya nantinya atau menyadari bahwa didikan itu akan membentuk saya yang seperti sekarang ini.

Pada awal pernikahan adalah masa-masa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga suami. Saya mengenal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di tahun ke-5, saya mulai dekat dengannya (kalau istilah sekarang mah pacaran). Di tahun ke-8 kami berpisah dan di tahun ke-9 kami balikan lagi ha ha.. Sampai akhirnya pada tahun ke-10 kami menikah. Waktu 10 tahun cukup untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya bukan? Ya, tentu. Lalu setelah menikah apakah semuanya sudah cukup? Tentu tidak.

Pernikahan membuat saya lebih memahami akan dirinya. Saya menjadi lebih mengerti kenapa sifatnya seperti itu setelah saya mengenal lebih jauh kedua orang tuanya… Oh ternyata sisi dia yang ini mirip ibunya, dan sisi dia yang itu mirip bapaknya. Hingga pada akhirnya saya pun menganalisa diri saya sendiri dan darimana sifat saya ini bersumber.

Inilah salah satu proses pembekalan diri saya untuk calon anak saya nanti. Setelah membedah sifat dan sumbernya saya menemukan kesyukuran, kegembiraan bahkan kekecewaan. Untuk sifat yang baik akan selalu dijaga dan dijunjung sedangkan untuk sifat yang belum sempurna, ada keinginan untuk menghindari sifat itu dan membuatnya jauh lebih baik. Agak naïf memang, bagaimana kalau sifat itu sudah tertanam dalam alam bawah sadar saya, dan bukankah tindakan kita sebagian besar dipengaruhi oleh alam bawah sadar?

Role mode. Saya juga mempelajari role mode orang tua yang baik menurut saya. Catat, bukan berarti orang tua saya bukanlah role mode ya, beliau adalah orang tua terbaik yang saya miliki dan saya semakin menyadarinya setelah saya akan menjadi orang tua. Saya banyak membaca referensi tentang orang tua yang sukses membimbing anaknya, yang terbaru adalah saya menelusur sosok orang tua di era modern, yaitu orang tua dari Isyana Sarasvati, dimana beliau ternyata orang hebat yang mampu mengarahkan bakat kedua anaknya, salah satunya bakat bermusik Isyana. Intermezzo, kenapa coba saya berhenti dan menelusur sosok Isyana Sarasvati? Ha.. ha.. sudah pasti karena sekarang Isyana sedang menjadi godaan para pria… saya masih geli membaca joke ini bahwa godaan pria sekarang ada 4, yaitu harta, tahta, Raisa, dan Isyana 😀

Pada akhirnya setiap orang pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat saya untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik. Setiap saya merasakan ketidaknyamanan ketika sedang hamil, saya langsung ingat bahwa saya sedang diberi karunia yang luar biasa oleh Allah. Inilah titik dimana saya sadar bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah dan sungguh membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keihklasan sejak awal.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14)

Melankolis

Semoga aku tidak memandang baik apa yang ku kerjakan (padahal buruk). Yang Mulia, wahai yang kekayaannya tidak pernah berkurang, kewajibanku adalah menerima apa yang menjadi hak Yang Mulia. Yang Mulia adalah Yang Kuasa. Yang Mulia tahu kami malas berfikir, sehingga Yang Mulia meminta kami untuk berfikir.

Semoga aku tidak gede rasa. Terima kasih telah mengangkat kami wahai Yang Mulia, walaupun sepertinya keterbukaan itu masih berupa celah. Jaminan Yang Mulia, bahwa kami tidak akan ditinggalkan dan tidak pula dibenci, syaratnya kami harus teruji. Aku tiada memiliki daya dan upaya melainkan karena pertolongan Yang Mulia.

Perumpamaan Persegi Panjang

Subhanallah Alhamdulillah…. Maha Suci Allah dari segala prasangka hamba-Mu. Hati yang suci, cenderung menghasilkan pemikiran yang jernih. Hati yang kotor, cenderung menimbulkan kesesakkan di dada.

Beberapa hari ini, Engkau sering mengingatkan aku akan sesuatu hal lebih dari sekali. Seperti kemarin, tiba-tiba aku memikirkan “senggolan” dalam hidup itu seperti garis lurus pendek yang sejajar dengan garis lurus panjang. Garis lurus panjang adalah masa hidupku. Aku sempat mengambil kertas dan pensil untuk menggambar garis lurus tersebut. Namun pikiranku terhenti karena sekaligus merasakan kebingungan, “Lalu sehabis garis lurus ada apa lagi?”.

Sampai bimbingan-Mu itu berlanjut hingga malam ini. Serandom-randomnya hal yang terjadi di dunia ini, tetap saja ada yang mengatur ke-random-an itu. Termasuk ketika aku membuka halaman sebuah buku. Dan mendapatkan hadits sebagai berikut:

“Nabi Saw. Membuat gambar empat persegi panjang dan di tengah –tengahnya ditarik satu garis sampai keluar dan beliau membuat garis pendek-pendek di sebelah garis yang di tengah-tengah itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah manusia. Empat persegi panjang atau yang mengelilinginya ini adalah ajalnya, dan garis yang berada di luar ini adalah cita-citanya, serta garis pendek-pendek ini adalah hambatan-hambatannya. Jika dia luput (dapat mengatasi) hambatan yang ini, dia akan menghadapi hambatan yang ini. Sedang jika dia luput (dapat mengatasi) hambatan yang ini, dia menghadapi hambatan yang ini.’” (HR. Al-Bukhari)

Maka nikmat Tuhan-Mu mana lagi yang kamu dustakan.

Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya”

Sebagian besar orang seusia saya mudah menyerah dalam dunia pekerjaan dengan alasan “Ini bukan passion saya”. Saya tidak menyayangkan karena kita masih muda –dalam artian kita masih kuat melakukan banyak hal yang kita mau, bukan berarti usia kehidupan di dunia masih panjang. Namun yang menggelitik hati saya adalah mereka yang berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga mereka hanya bekerja rata-rata. Tidak pula mengejar apa yang sebenarnya “passion” menurut mereka karena tidak cukup keberanian.

Passion, menurut kamus Bahasa Inggris, artinya adalah gairah, semangat, nafsu, keinginan besar, kegemaran.

Benar menurut buku yang saya baca, bahwa beruntung lah mereka yang bekerja sesuai dengan passion mereka. Tetapi apakah jika pekerjaan itu bukan passion mereka lalu mereka  tidak akan semangat bekerja? Tidak juga, saya pikir.

Setidaknya ada beberapa kondisi yang pada akhirnya seseorang membuka diri dengan pekerjaan yang bukan menjadi passion mereka, menerima dengan penuh kesadaran, bersungguh-sungguh, penuh semangat, sampai mereka menghasilkan produktivitas tinggi namun dengan tetap mengatakan “ini bukan passion saya”. Ya, bukan passion saya, tetapi ini adalah mata pencaharian saya.

Dengan pengalaman menjalani kehidupan yang masih minim, saya mengamati teman-teman saya yang akhirnya mereka bekerja dengan memberikan gairah pada sesuatu yang sedang mereka jalani, yaitu, pertama, mereka yang pernah mengalami kegagalan di pekerjaan sebelumnya yang sama-sama bukan passionnya namun tetap menjalaninya karena belum berani mengejar “passion” yang mereka mau. Kedua, mereka yang memiliki rasa tanggung jawab besar atas keberlangsungan hidup seseorang atau beberapa orang. Dan ketiga, mereka yang senang bekerja keras dan berjuang (karena salah satu cita-citanya adalah mewujudkan passion yang sebenar-benarnya). Bukankah gairah itu membuat mereka tetap hidup?

Menurut saya makna luas passion itu sendiri adalah gairah, semangat, keinginan besar, kegemaran. Pada kondisi tertentu jangan persempit maknanya dengan sesuatu yang hanya kita sukai yang dengan tidak dibayar pun kita sanggup mengerjakan. Masukkan makna luas passion tersebut ke dalam pekerjaan yang bukan “passion” kita. Maka benar adanya beruntunglah mereka yang bekerja sesuai dengan passion mereka, karena mereka tepat berada pada energi aktivasinya.

Namun sekali lagi, jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga produktivitas kita rata-rata. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga menghambat rencana hidup yang lain. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga lambat berproses. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga setiap hari kita menggerutu.

 Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat..