Ketika Ibu Hamil Pergi Sendirian

Masyarakat Indonesia memang ramah. Setidaknya saya diingatkan kembali bahwa pernyataan itu benar adanya. Saya bersyukur tinggal di Indonesia yang masyarakatnya ramah. Kata siapa keramahan orang Indonesia sudah tidak ada? No. Masih kok. Cuma kadang kita tidak bisa melihatnya secara jelas, karena kebiasaan kita yang menganggap “sudah sewajarnya begitu”.

Tidak ada yang tidak menyapa ketika saya pergi ke pusat keramaian. Dengan keadaan perut saya yang besar dan jalan saya sudah seperti penguin, banyak yang mendoakan saya. Ada yang mengelus perut saya lalu bertanya; sudah berapa bulan, anak ke berapa, kontrol sama dokter siapa, dll. Alhamdulillah saya masih dipertemukn dengan orang-orang yang perhatian di negeri ini.

Namun memang tidak dipungkiri, kebanyakan orang yang menyapa saya adalah para wanita berumur. Lalu kemana para wanita mudanya? ada. Saya merasakan perhatian mereka dengan cara yang berbeda. Mereka menatap saya lebih dari 3 detik. Mungkin di dalam pikirannya “wah, kasian yah mbak itu keberatan, saya juga akan seperti dia nanti”. Tidak apa, bagi saya tatapan itu adalah bentuk perhatian yang malu untuk diungkapkan. Karena ketika kamu sudah tidak dihiraukan keberadaannya, baru di situlah kamu harus merasa tersinggung.

Saya ceritakan hal yang menyenangkan ini pada pak suami. Suami saya malah menggoda saya, “Oh mungkin karena yang hamilnya masih muda banget, kayak bocah. Mungkin mereka takjub, wah kecil-kecil udah mau punya anak lagi ya”. Errr…

Hmm.. mungkin suami saya ada benarnya. Apabila ada seseorang yang “sudah sepantasnya” hamil berada di pusat keramaian, bisa jadi orang-orang akan menganggap “sudah sewajarnya dia begitu (hamil)”. Mengerti kan maksud ku? Lho kok jadinya orang Indonesia terkesan memilih-milih keramahan ya. Haha.. Enggak kok, saya yakin tidak begitu. Karena….

Ternyata inilah yang membuat kehidupan menarik: never take anything for granted. Termasuk kenangan yang berkesan dari kejadian sehari-hari. Saya bisa saja mengacuhkan perhatian mereka, tidak menyimpannya di dalam memori, dan tidak menceritakan hal menyenangkan menurut saya ini pada suami. Tetapi tidak. Saya bersyukur dengan penyambutan ini. Alhamdulillah.

Advertisements

Tegur Sapa

Jumat kemarin saya diajak buka puasa bersama oleh adik angkatan, mantan teman kantor saya yang akan pindah ke kota Jember mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Hari itu adalah hari kedua bulan ramadhan namun saya tidak berpuasa karena keringanan dari Allah yang Maha Bijaksana membolehkan tidak berpuasa bagi ibu hamil. Walaupun begitu saya mengiyakan untuk bertemu dengannya di waktu berbuka, sekalian menunggu suami pulang, saya pikir. Sebelum bertemu, kita sempat whatsapp-an untuk menentukan dimana kita akan bertemu. Dia menyerahkan pemilihan tempat kepada saya karena ternyata dia pun sedang tidak berpuasa. Sedang datang bulan ujarnya. Diam-diam saya terharu.. jadi esensi kita bertemu pada saat itu adalah murni dia ingin bertatap muka dan bersilaturahim dengan saya sebelum dia pergi ke Jember. Ternyata bukan hanya sekedar ingin berbuka puasa bersama.

Dia memang memiliki pribadi yang supel, ramah, dan senang bercerita. Saya sering kagum dengan pribadi seperti itu karena mereka selalu menghidupkan suasana. Singkat cerita akhirnya kita bertemu di suatu cafe yang bertempat di Dayang Sumbi. Setelah bercerita agak lama saya pun tahu bahwa besok di rumahnya akan diadakan buka bersama angkatannya dan dia yang menginisiasi, alasannya pun serupa, dia ingin bertemu teman-temannya di Bandung sebelum berangkat ke Jember.

***

Pagi tadi saya menerima pesan melalui whatsapp dari nomor yang tidak ada di phone book saya. Isi pesan awalnya seperti ini… ” Assalamualaikum Purwa, apa kabar?” Sesaat saya tidak menjawab, beruntung foto profil beliau terpampang jelas di informasinya… oh ibu itu. Ketika saya tahu dan yakin, saya langsung menjawab pesannya tanpa bertanya maaf ini dengan siapa.

Ibu tersebut adalah wanita hebat penggerak kegiatan sosial yang berhubungan dengan bidangnya, yaitu kesehatan. Kami sama-sama seorang apoteker. Beliau merupakan pengurus organisasi dan saya sempat menjadi anggota organisasi tersebut, namun sudah lama saya tidak mengikuti kegiatannya. Di dalam hati saya bertanya-tanya, waduh.. malu ditanya duluan, kira-kira ada apa ya.. obrolan terus berlanjut namun beliau sama sekali tidak menyinggung tentang sesuatu yang serius. Beliau hanya bertanya kabar, tinggal dimana setelah menikah, lalu obrolan ringan lainnya. Lama-lama saya penasaran, akhirnya saya bertanya tentang tumben. Hehe.. tahu lah ya maksudnya apa.. “kok tumben”. Dan, ibu itu hanya menjawab dengan simple.. “Biasa kalau ramdhan suka inget sama orang-orang yang udah lama gak disapa”.

Gotcha! saya dapat dua jackpot.

***

Pertama, saya bersyukur masih ada orang yang ingat dan perhatian sama saya. Kedua, saya kok sombong sekali ya… saya sering membuka social media tapi saya hanya mengamati saja tanpa niat berkomunikasi dengan orang lain, dunia maya saja begitu, apalagi dunia nyata. Lama tidak bertemu dengan orang-orang baru dan kembali bertegur sapa dengan orang-orang lama membuat dunia menjadi sempit. Pantas saja begitu.

Perumpamaan Persegi Panjang

Subhanallah Alhamdulillah…. Maha Suci Allah dari segala prasangka hamba-Mu. Hati yang suci, cenderung menghasilkan pemikiran yang jernih. Hati yang kotor, cenderung menimbulkan kesesakkan di dada.

Beberapa hari ini, Engkau sering mengingatkan aku akan sesuatu hal lebih dari sekali. Seperti kemarin, tiba-tiba aku memikirkan “senggolan” dalam hidup itu seperti garis lurus pendek yang sejajar dengan garis lurus panjang. Garis lurus panjang adalah masa hidupku. Aku sempat mengambil kertas dan pensil untuk menggambar garis lurus tersebut. Namun pikiranku terhenti karena sekaligus merasakan kebingungan, “Lalu sehabis garis lurus ada apa lagi?”.

Sampai bimbingan-Mu itu berlanjut hingga malam ini. Serandom-randomnya hal yang terjadi di dunia ini, tetap saja ada yang mengatur ke-random-an itu. Termasuk ketika aku membuka halaman sebuah buku. Dan mendapatkan hadits sebagai berikut:

“Nabi Saw. Membuat gambar empat persegi panjang dan di tengah –tengahnya ditarik satu garis sampai keluar dan beliau membuat garis pendek-pendek di sebelah garis yang di tengah-tengah itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah manusia. Empat persegi panjang atau yang mengelilinginya ini adalah ajalnya, dan garis yang berada di luar ini adalah cita-citanya, serta garis pendek-pendek ini adalah hambatan-hambatannya. Jika dia luput (dapat mengatasi) hambatan yang ini, dia akan menghadapi hambatan yang ini. Sedang jika dia luput (dapat mengatasi) hambatan yang ini, dia menghadapi hambatan yang ini.’” (HR. Al-Bukhari)

Maka nikmat Tuhan-Mu mana lagi yang kamu dustakan.