Pemulihan Pasca Keguguran/ Kuret

Keguguran di awal kehamilan ternyata bukanlah sesuatu yang langka bagi seorang wanita. Berdasarkan beberapa informasi yang saya baca, satu dari lima orang wanita akan mengalami keguguran di masa kehamilannya. Dengan kata lain peluang terjadinya keguguran bagi setiap wanita adalah 20%, dan 80% diantaranya terjadi di awal kehamilan. Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya keguguran di awal kehamilan, namun kemungkinan terbesar adalah terjadinya misscombination chromosom yang menyebabkan janin tidak berkembang. Mengapa bisa terjadi? ada banyak faktor. Mulai dari ketidakstabilan hormonal, gaya hidup, virus, atau paparan radiasi dan bahan berbahaya.

Saya termasuk 20% kelompok wanita yang mengalami keguguran di awal kehamilan. Bercak darah muncul seminggu sebelum kontrol kedua dengan usia janin sekitar 9 minggu dan akhirnya kondisi saya berakhir dengan tindakan kuretase yang telah saya ceritakan di sini. Minggu keempat setelah kuretase adalah waktunya saya kontrol. Alhamdulillah, dokter menginfokan rahim saya sudah bersih, artinya tidak ada sisa jaringan kuretase yang tertinggal. Namun rahim saya perlu “diistirahatkan” dulu sampai 2 kali siklus menstruasi. Terakhir, saya diberi vitamin prenatal vitamin E dan asam folat + DHA untuk dikonsumsi apabila saya telah  mengalami 2 kali siklus menstruasi. Siklus menstruasi pertama berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Di siklus kedua, saya mengalami keterlambatan hampir seminggu lebih. Saya khawatir, di-test pack beberapa kali hasilnya negatif tetapi kok tidak menstruasi juga.. Sampai saya berpikir, pantas saja dokter tidak mengatakan rahim “diistirahatkan” dalam hitungan bulan karena bisa saja waktu mestruasi setelah kuretase menjadi acak-acakan. Dan ternyata benar, setelah saya searching di internet, ketidakstabilan hormonal masih terjadi sesaat setelah mengalami kuretase. Jadi jangan khawatir ya moms!

Menurut artikel yang saya baca, sebenarnya tidak ada jeda berapa lama mommy bisa hamil lagi setelah kuretase, yang pasti selama mommy dan partner telah siap maka tidak ada halangan untuk langsung hamil kembali. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesiapan itu bukanlah fisik semata, tetapi faktor lain seperti mental dan perasaan.

Dari pengalaman yang telah saya lalui (walaupun singkat) saya ingin sedikit berbagi beberapa hal kepada moms-to-be untuk tetap ceria dan siap apabila telah/ belum mengalami keguguran.

  1. Berdoa untuk segala kondisi, ya mommy.
  2. Tidak usah khawatir mommy, keguguran di awal kehamilan bukanlah masalah yang besar because you’re not alone. Lebih jauh lagi apabila mommy terbesit rasa bersalah, “apa saya tidak menjaganya dengan baik ya”, no! tentu saja bukan.
  3. Prenatal preparation? Why not! Bahkan beberapa orang yang saya kenal sudah mempersiapkan baik mental dan fisiknya sejak beberapa bulan sebelum pernikahan. Persiapan bisa dilakukan melalui olahraga teratur, makan makanan bergizi, menjauhi junk food, pengawet dan MSG, membaca artikel-artikel mengenai kehamilan, minum susu prenatal, atau konsultasi ke dokter.
  4. Ajak partner melakukan prenatal preparation juga. Mungkin waktu memulainya tidak perlu bersamaan namun ajak lah untuk membangun benteng bersama-sama. Yang bertanggung jawab atas kesehatan janin bukanlah mommy saja, tetapi partner juga, logis bukan?
  5. Pastikan kondisi badan sedang fit ketika sedang bertemu partner, tidak stress dan selalu berbahagia.

Dan masih banyak lagi saran-saran lain yang tidak tertulis di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi mommy semua. Mommy harus tetap semangat dan mengontrol emosi agar semua aktivitas berjalan dengan lancar. Menurut dokter SpOG saya, tidak ada penanganan khusus terkait medis pasca keguguran pertama, pun saat kedua kalinya terulang. Nah, jika keguguran ketiga terjadi berturut-turut, ini lah yang perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dan penanganan lebih lanjut oleh dokter. Semoga sehat selalu ya moms 🙂

Konsultasi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Jeffry

SMS diterima…. (lagu owl city-Fireflies)

Jeffry: “Tata laksana atau penanganan DBD yang dilakukan di sana (rumah sakit.red) gimana ya? Kalau terapi farmolnya gimana? pake quersitrin atau gimana? hehe.. Just my curiosity

Well..your curiosity is so educative, Jef. Firstly, in my opinion I asked my self, “Masa sih Jeffry gak tau?” but then I know you have a comment to replay me. I know the answer by practice and you have known it by the perfect theory. Theory without practice is difficult, in the other case practice without theory is more difficult. Finally, combination between theory and practice make ‘your curiosity’ perfect, Jef. I really appreciate you.

Baiklah.. percakapan dilanjutkan:

Saya: “Penanganan di sini (rumah sakit *peeep*) langsung diinjek analgesik terus dilanjut infus. Obatnya yang dikasih vomitas, paracetamol, omeprazol, suplemen. Sudah tiga hari trombositnya terus turun. Katanya disuruh bedrest total, gak ada pantangan makanan kecuali yang asam-asam”

Jeffry: “Ooh memang, salah satu manifestasi klinik DB itu trombositopenia, selain nyeri terutama pada sendi dan otot. Trombosit bisa turun <100rb mm3, padahal normalnya 150rb-400rb mm3 makanya cenderung dapat mengalami perdarahan di bawah kulit, selaput hidung dan mukosa lambung (so dikasih omeprazol dan pantang makan makanan yang terlalu asam). Tetapi tenang aja, asal gejalanya bisa diatasi, nanti sistem imun tubuh juga bisa mengeliminasi virus dengue dan trombosit bisa normal lagi”

Saya: “Oh gitu ya, virus memang dilawannya oleh sistem imun tubuh kan, gak ada obat yang bisa mengobati karena nanti bisa sembuh sendiri asal daya tahan tubuh kita baik. Iya tho?”

SMS dikirim… (Delivery report: delivered)

Saya lalu mengucapkan terima kasih atas informasi yang telah diceritakan oleh teman saya itu. Saya jadi tahu kenapa orang yang sakit DBD diberi omeprazol.

Tiba-tiba ada balasan SMS lagi…

Jeffry: “Oia, aku juga pernah baca kalau virus dengue itu ada 4 serotipe. Kabar buruknya, antibodi yang dihasilkan tubuh kita spesifik terhadap masing-masing tipe, tidak bisa silang. Jadi maksimal seseorang bisa terkena DB sebanyak 4 kali seumur hidup. Kabar baiknya, di daerah tropis, seperti Indonesia, hanya serotipe 3 yang berjangkit. Diduga quersitrin (golongan flavonoid) bisa sebagai antivirus dengue karena bisa menghambat enzim reverse transcriptase (ada di virus RNA, virus dengue termasuk virus RNA) dan bisa meningkatkan trombosit. Tapi tampaknya belum digunakan untuk pengobatan konvensional”

Saya: “Ooh.. mungkin nanti flavonoidnya tambahan dari makanan yang dimakan. Once more, thanks a lot yaa =)”

SMS dikirim…

 

Sakit Gigi, Ayo Periksa ke Dokter!

Biasanya saya ke dokter gigi buat kontrol kawat gigi, ganti karetnya, dipakemkan lagi ikatannya tapi kemarin ada tambahan request buat pak dokter, yaitu saya minta gigi bolong saya ditambal. Sudah hampir seminggu saya sakit gigi dan selama itu saya cuma mengobatinya dengan asam mefenamat (analgesik) tapi ternyata sakit gigi ini gak sembuh-sembuh malahan semakin kumat tiap malam hari. Karena takut mengganggu lambung kalau makan analgesik sering-sering akhirnya selain mengontrol kawat, saya tambahin keluhan saya itu.

Dokter langsung komentar, kalo tiap malam suka sakit gak, snut-snutan, terus sampai gak bisa tidur, saya mengiyakan dan beliau berkata ini sakitnya udah sampai syaraf dan gak bisa langsung ditambal jadi harus diobatin dulu. Antara bersyukur dan sedih saya mengiyakan. Senang karena tidak perlu dicabut dan sedih karena pada saat diperiksa gigi saya juga lagi snut-snutan.

Jadi rasa sakit dan pengobatan selama sakit gigi tergantung juga lokasi dan sejauh mana lubang yang ada di gigi itu. Kalau kita ingat, gigi itu secara umum terdiri dari tiga lapisa: email, dentin, lalu syaraf (pada gambar dimulai dari ruang pulpa). Kalau lubang masih berda di lapisan email atau dentin, gigi bisa langsung ditambal dan sakitnya gak akan terlalu parah. Tapi kalau didiamkan saja kerusakan itu bisa sampai syarafnya dan sakitnya luar biasa.

Akhirnya kalau pada pengobatan sakit gigi yang sudah sampai syaraf langkah-langkahnya:

  • diberi obat dulu untuk mematikan syaraf
  • syaraf yang mati dibuang
  • diobati lagi supaya tidak jadi gigi busuk
  • lubangnya diisi dengan pasta

Makanya butuh beberapa kali datang ke dokter untuk masalah ini.

Kemudian saya bertanya kepada dokter kenapa kalau sakit gigi kambuhnya sering malam-malam. Ternyata itu menyangkut pembuluh darah yang melewati syaraf yang sakit itu.

Kalau malam dipengaruhi oleh suhu yang dingin, seperti kita tahu tubuh mempunyai termoregulator alami di sistem syaraf pusat sehingga apabila udara di luar tubuh lebih dingin pembuluh darah akan melebar (vasodilatasi) untuk melepaskan panas dan darah akan mengalir cepat dan lancar, salah satunya menuju syaraf gigi itu. Selain itu pada malam hari posisi tubuh kita dipersiapkan untuk tidur dan cenderung kita tidur, posisi tubuh rata dari atas sampai bawah dan darah dapat mengalir dengan lancar. Hal ini pula yang menyebabkan syaraf yang sakit teraliri darah dengan baik.

Oleh karena itu sebelum sakit gigimu bertambah parah, ayo periksakan ke dokter. Sakit gigi gak lebih baik dari sakit hato kok 🙂

Potensi, Kendala dan Upaya Pemanfaatan Tumbuhan Herbal di Indonesia

Perubahan pola pengobatan masyarakat ke obat-obatan yang terbuat dari bahan alami saat ini sudah mengglobal. Tidak hanya masyarakat Indonesia yang mengampanyekan slogan “kembali ke alam”, namun masyarakat dunia pun cenderung  melakukan hal yang demikian. Hal ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk membudidayakan tumbuhan obat, maupun industri pengolahannya dengan skala yang cukup besar.

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversity terbesar di dunia. Indonesia juga dikenal sebagai gudangnya tumbuhan obat (herbal) sehingga mendapat julukan live laboratory. Di Indonesia terdapat sekitar 9.000-an spesies tanaman yang disinyalir memiliki khasiat obat. Baru sekitar 5% yang dimanfaatkan sebagai bahan fitofarmaka sedangkan sekitar 1.000-an jenis tanaman sudah dimanfaatkan untuk bahan baku jamu. Dengan kondisi lahan yang variatif, dari pantai hingga pegunungan, ditambah banyaknya lahan tidur yang belum dimanfaatkan maka potensi Indonesia untuk menjadi sentra pengembangan obat bahan alam yang berorientasi ekspor sangatlah terbuka. Apalagi obat bahan alam merupakan salah satu alternatif untuk pengobatan yang murah, sehingga prospek obat jenis ini ke depan cukup baik.

Di Indonesia obat bahan alam digolongkan menjadi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Ketiganya dibedakan berdasarkan tingkatan uji klinisnya. Jamu adalah jenis herbal yang hanya berdasarkan pengalaman masyarakat, sedangkan obat herbal terstandar telah diuji khasiat dan toksisitasnya, namun belum diujicobakan penggunaannya pada pasien. Fitofarmaka adalah obat herbal yang telah lulus uji klinis, layak diresepkan oleh dokter dan dapat beredar di pusat pelayanan kesehatan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lambatnya pemanfaatan sumber daya hayati lokal menjadi obat herbal di Indonesia, yaitu SDM yang menguasai pengobatan tradisional secara menyeluruh masih terbatas, sarana pendukung untuk mengembangkan obat herbal masih kurang, minimnya dukungan untuk perkembangan pengobatan tradisional; belum adanya RS tradisional di Indonesia, belum dimasukkannya pendidikan herba secara khusus dalam kurikulum pendidikan kedokteran dan tanaman obat asli Indonesia kurang didukung oleh penelitian sebagai bukti ilmiah atas khasiat suatu produk, sehingga pemanfaatan obat herbal asli Indonesia di sarana pelayanan kesehatan masih sedikit. Hal ini dikarenakan penelitiannya terbentur pada biaya yang besar, dan waktu yang lama.

Masyarakat Indonesia yang hobi bertani seharusnya semakin memperjelas potensi Indonesia dalam pengembangan obat herbal. Sebagian bahan baku obat herbal masih diambil dari hutan dan dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan jenis tumbuhan obat tertentu. Dengan kebutuhan bahan baku yang terus meningkat, laju pengambilan tumbuhan obat lebih cepat dari kemampuan hutan itu sendiri dalam memulihkan populasinya. Apalagi ditambah dengan eksploitasi dan kerusakan hutan maka kelangkaan dari spesies tumbuhan tertentu tidak bisa dihindari. Oleh karena itu pembudidayaan tumbuhan obat oleh masyarakat, khususnya petani, dapat dijadikan alternatif pengembangan bahan baku tumbuhan obat sekaligus sebagai upaya konservasi untuk pelestarian sumber bahan alam dan ketersediaan bahan baku dari hutan. Pada kenyataannya para petani enggan untuk bertani produk biofarmaka karena kebutuhannya tidak sebesar sayuran atau buah-buahan yang setiap saat dapat diserap pasar. Akibatnya permintaan yang cukup besar, baik dari pasar lokal maupun dunia, selalu tidak bisa dipenuhi. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa pasar domestik bahan baku dan simplisia biofarmaka masih sangat terbuka lebar untuk para pelaku di bidang ini. Dalam hal ini diperlukan tanggung jawab bersama, terutama dari pihak petani dan perusahaan yang bergerak di industri obat herbal atau farmasi yang menggunakan bahan baku alam.

Pemanfaatan obat herbal bertujuan untuk menghasilkan produk herbal yang memenuhi penegakan mutu, khasiat dan keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan melalui penelitian. Potensi Indonesia untuk mendukung hal tersebut memang sangat besar namun ada kendala yang harus dipatahkan melalui upaya yang melibatkan berbagai pihak.

Berdasarkan kendala yang telah dipaparkan maka upaya yang dapat dilakukan tersebut meliputi: a). sosialisasi pemanfaatan herbal sehingga potensi kekayaan alam Indonesia dapat tergali, baik dari segi budidaya maupun pemanfaatannya sebagai sumber pengobatan; b). mendekatkan tumbuhan obat pada pelayanan kesehatan masyarakat; c). usaha budidaya tanaman obat dan produk pengolahan oleh masyarakat; d). pengembangan teknologi budidaya, hasil, dan pengolahan/proses produksi sehingga dihasilkan simplisia dan produk dengan mutu yang terjamin; e). penelitian tumbuhan obat dan aplikasinya untuk menghasilkan obat herbal yang memenuhi syarat mutu/kualitas, aman dan khasiat/kemanfaatan; f). kerjasama dari berbagai pihak, seperti pemerintah, industri obat tradisional dan farmasi, peneliti, peguruan tinggi, peraturan perundang-undangan yang jelas untuk perlindungan terhadap sumber daya alam hayati, khususnya tumbuhan obat.

Pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam mengembangkan tumbuhan obat juga dapat menjadi investasi besar bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan akan terus berlanjut. Hal ini karena  obat herbal merupakan warisan budaya bangsa yang menjadi ciri khas pengobatan tradisional Indonesia. Tentu juga seiring dengan kampanye di seluruh dunia yang meyerukan agar kembali ke alam.