Naik Pesawat Bersama Bayi

Bulan Februari 2017 kami berangkat ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia transit Singapur selama 2 jam. Ini adalah kali pertama Aluna melakukan perjalanan jauh darat dan udara. Kami berangkat dari Bandung sehingga apabila ditotal, lama perjalanan kami seluruhnya Bandung-Belanda adalah 32 jam. Saat itu Aluna berusia 7 bulan. Usia dimana sudah mulai aktif dan reaktif terhadap lingkungan baru.

Pengalaman kami membawa bayi naik pesawat cukup menegangkan karena nampaknya Aluna tidak enjoy naik pesawat. Entah itu karena tidak nyaman, takut karena baru pertama kali, atau mungkin karena capek. Karena tidak enjoy itu jadinya yaaa sering nangis bahkan sampai sulit didiamkan. Saya dan bapaknya sampai bergantian menggendong Aluna sambil berjalan-jalan di lorong kabin untuk mendiamkan Aluna. Yang kami khawatirkan adalah orang sebelah kursi kami terganggu dengan tangisan Aluna yang cukup keras. Terbukti… setelah landing di bandara Schipol, bule yang duduk tepat di samping suami berkomentar, “She’s cute when she slept”. Dag! apa bulenya serius ngomong itu atau nyindir yak? :p

Okee… berdasarkan pengalaman itu, saya akan merangkum beberapa hal mengenai perjalanan naik pesawat dengan bayi:

  1. Pastikan sebelum terbang bayi menggunakan pakaian yang nyaman dan diaper sudah diganti dengan yang baru.
  2. Kalau bisa memilih, pilihlah kursi paling depan karena space di kursi paling depan cukup lebar sehingga mommy bisa meregangkan kaki lebih leluasa, selain itu kita juga bisa request bassinet kepada pramugari sehingga bayi bisa ditidurkan disana. Pengalaman Aluna kemarin, bassinet ini sangat berguna ketika Aluna sedang tidur. Kami bisa beristirahat dengan bebas dan supaya tidak pegal selalu memangku bayi. Kecuali ketika ada turbulence bayi diangkat dari bassinet karena bassinet tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman.
  3. Siapkan makanan kesukaannya baik snack maupun makanan berat, karena siapa tau bayi tidak suka dengan makanan instan yang disiapkan oleh maskapai. Pengalaman Aluna kemarin kejadian, Aluna tidak suka makanan dari maskapai. Beruntung kami membawa bubur homemade yang dibuat sebelum berangkat (kami sempat memasukkannya ke dalam freezer beberapa saat) dan Alhamdulillah rasa dan baunya masih bagus jadi Aluna bisa makan dengan lahap. Untuk air putih panas atau dingin kita bisa minta ke pramugarinya.
  4. Siapkan mainan yang menarik baginya untuk meminimalkan kebosanan pada bayi.
  5. Jika bayi rewel, hadapi dengan tenang. Saya sarankan sih kalau pergi dengan bayi pertama kali naik pesawat perjalanan jauh, ada yang mendampingi untuk bergantian menjaga kalau repot tapi kalau terpaksa pergi sendiri dan percaya diri atau sudah sering bolak-balik naik pesawat ya tidak apa-apa. Cara mendiamkan Aluna kemarin adalah dengan mengajaknya jalan-jalan dan melihat lampu! Maksudnya adalah alihkan perhatiannya ke sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga dia lupa dengan menangisnya dan menjadi lebih tenang. Kalaupun menangis terus sepanjang jalan, harap sabar hee.. yang bisa kita lakukan adalah menjaganya, mencoba meredakan, minimal tidak sampai mengamuk. Mommy pasti punya caranya masing-masing ūüôā
  6. Yang bahaya bagi bayi ketika naik pesawat adalah adanya perbedaan tekanan, terutama pada saat take off dan landing. Coba perhatikan, apakah mommy pernah merasa telinga mommy sakit/tidak nyaman pada saat take off/landing? dan ketidaknyamanan itu  menghilang ketika mommy menelan ludah? Nah, pada orang dewasa saja kadang ketidaknyamanan itu terasa apalagi pada bayi. Jadi jangan lupa membantu bayi untuk menelan untuk menstabilkan dirinya. Kalau saya menyarankan sambil memberinya minum, entah itu direct breastfeeding atau melalui botol, yang penting bayi menelan. Kalau bayi tidur bagaimana? Amati dan siaga siapa tau di tengah-tengah bayi terbangun.

Begitulah sedikit catatan saya ketika membawa Aluna naik pesawat. Mudah-mudahan informasi ini membantu mommy yang sedang bersiap-siap membawa bayinya naik pesawat.

Cheers,

Paspor untuk Bayi

Ceritanya Aluna dan ibunya mau nyusul bapaknya ke Belanda. Udah pasti hal penting yang terlintas adalah: bikin paspor! Ya. Tentu saja. Tanpa dokumen ini mustahil kami bisa pergi ke luar negeri secara legal. Ilegal bisa aja sih, tapi sorry banget kita gak memilih jalan itu hehe..

Oke, ngomongin paspor, kebetulan ibunya pun belum punya dokumen itu jadi sekalian lah kami berdua mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor tersebut. Anw, mungkin sudah banyak sekali informasi yang bisa dicari di google mengenai syarat pembuatan paspor untuk orang dewasa, apalagi sekarang bisa daftar secara online. Nah, oleh karena itu, sekarang di blog ini saya mau cerita tentang syarat pembuatan paspor untuk bayi yang tidak lain adalah pengalaman Aluna yang saat membuat paspor itu masih berusia 4 bulan.

Secara umum, ini lah persyaratan pembuatan paspor untuk bayi (anak di bawah umur). Sederhana bukan? Nah, mari kita bahas satu-satu berdasarkan pengalaman Aluna.

screenshot_2016-11-16-20-44-33

Jadi ini kondisi dokumen Aluna saat membuat paspor:

1. E-KTP Ayah & Ibu. Pada saat akan membuat paspor, e-KTP ayah & ibu Aluna masih dalam proses di DISDUKCAPIL alias e-KTP nya belum jadi. Solusinya? Kami membuat surat keterangan pengganti e-KTP yang menyatakan bahwa e-KTP nya masih dalam proses pencetakan (tahu kan fakta sekarang di berita bahwa blanko e-KTP sedang habis). Tidak perlu waktu lama meminta surat keterangan ini, sehari langsung beres. Fyi, kami termasuk wilayah DISDUKCAPIL Kota Cimahi.

2. Kartu Keluarga. Kartu keluarga Wicaksono (nama belakang bapaknya Aluna) baru jadi setelah bapaknya Aluna pergi ke Belanda. Padahal kartu keluarga tersebut harus ditandatangani oleh sang kepala keluarga. Dipikir-pikir kalau mau dikirim ke Belanda dulu akan membutuhkan waktu yang lama. Solusinya? Kami membuat surat keterangan dari RT/RW yang menyatakan bahwa nama-nama yang tercantum di kartu keluarga tersebut adalah benar warganya dan kepala keluarga tidak bisa menandatangani kartu keluarga karena sedang berada di luar negeri. Jadi kolom tanda tangan masih tetap dikosongkan.

3. Akta Lahir. Ini aman, tidak ada masalah karena setelah Aluna dilahirkan kami cepat mengurus akta lahirnya.

4. Buku Nikah.¬†Ini aman, karena dokumen inilah awal bersatunya Bapak & Ibunya Aluna secara sah ūüôā

5. Pada Saat Wawancara Wajib Didampingi Kedua Orang Tua. Nah, ini juga gak mungkin bagi Aluna soalnya bapaknya sedang berada di Belanda, Solusinya? Ada dua pendapat. Pertama, menurut Kantor Imigrasi Bandung, bapaknya Aluna harus membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa memberikan kuasa kepada ibunya untuk pembuatan paspor Aluna karena beliau sedang ada di luar negeri. Surat kuasa tersebut harus ditandatangani diatas materai. Kemudahannya adalah surat kuasa ini boleh di-email-kan, jadi kami cukup membawa cetakan emailnya saja. Kedua, menurut Kantor Imigrasi Sukabumi (kebetulan mertua sempat membuat paspor di Sukabumi pada tahun ini), kami tidak perlu membuat surat kuasa. Kalau bapaknya tidak bisa hadir dan ada alasannya ya sudah, ibunya saja yang hadir. Fyi, karena kemudahan ini dan waktunya memungkinkan akhirnya kami memutuskan membuat paspor di Sukabumi. Ternyata mengenai ketidakhadiran bapaknya Aluna ini diselesaikan dengan menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa kepala keluarga tidak dapat menandatangani surat apapun untuk pembuatan paspor anaknya (Aluna) karena sedang berada di luar negeri (sudah ada blankonya dari Kantor Imigrasi). Surat tersebut ditandatangani oleh ibunya di atas materai dan ini lebih simple menurut saya.

Tiba lah saatnya Aluna datang ke kantor imigrasi. Akhirnya semua dokumen sudah bisa diterima oleh pihak Kantor Imigrasi dan kami mendapat nomor antrian wawancara+foto. Antrian Aluna sangat bayi friendly karena bayi memiliki nomor antrian sendiri dan tentu antrian bayi sedikit sekali. Aluna mendapat nomor antrian pertama (kategori bayi) sedangkan ibunya mendapat nomor antrian 041 (kategori dewasa). Namun Alhamdulillah nya rezeki anak shalehah, ibunya tertolong oleh Aluna. Pada saat Aluna diwawancara, petugas meminta paspor ibunya namun karena sama-sama baru mengajukan akhirnya kami berdua dilayani secara bersamaan. Jadi ibu tidak perlu mengantri lagi sampai 041 hihi.. terima kasih bu petugas.

Secara umum saya cukup puas dengan pelayanan Kantor Imigrasi tempat saya mengajukan pembuatan paspor, yaitu Kantor Imigrasi Sukabumi. Oh ya, tambahan lagi, paspor yang diajukan sudah bisa diambil 3 hari kemudian cepat sekali bukan? Saya berharap semoga semua instansi pemerintah memiliki kinerja yang sama baiknya, memiliki rencana kerja yang efektif, efisien serta tidak membuat prosedur yang menyusahkan dan bertele-tele. Kalau bisa mudah kenapa dipersulit, kalau bisa cepat kenapa diperlama hehe.. Apapun.. sekian yang ingin saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi bapak-ibu yang sedang mengurus paspor bayinya. Cheers!

GREAT ESCAPE! eksotisme Kidang Pananjung

Oke, wedew baru kesampean mau nulis great escape Kidang pananjung! Berjalan ke bumi kidang pananjung. Suatu desa di lereng gunung, tepatnya di daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini terpilih sebagai lokasi Farmasi pedesaaan XIII.Semoga kita dimudahkan ke desa ini dan apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak (warga desa dan panitia Fardes) bisa terlaksana.

Inilah eksotisme Desa Kidang Pananjung:

  • Masalah yang paling utama berdasarkan musyawarah adalah pendidikan. Walaupun pendidikan sudah gratis, untuk SD, SMP dan SMA, tetapi warga merasa berat untuk masalah transportasi. Jarak yang cukup jauh antara tempat sekolah dan desa bisa membuat warga perhari mengeluarkan uang Rp 20.000 untuk membiayai pergi kesekolah. Sedangkan pernghasilan rata2 perkapita perhari adalah hanya sebesar Rp 8360. Emang daerahnya jauh dari pusat masa, jalan rusak dan menanjak.

jalan yang bagus. tapi menanjak meen..

  • Masalah kedua menurut warga adalah masalah kesehatan. Sebenernya pemerintah sudah mengadakan jamkesmas untuk warga desa KP ini, sehingga mereka bias gratis ke puskesmas. Tetapi yang jadi masalah adalah tempat puskesmas yang sangat jauh dari desa bahkan sampai memakan biaya rp 300.000 untuk ongkos perjalanan. Karena hal ini masyarakat cenderung malas untuk pergi ke puskesmas, dan memilih untuk menahan penyakitnya atau mengobati sendiri.
  • Masalah MCK, masih banyak RW yang belum dilengkapi MCK disetiap rumahnya. Seperti RT03, RW 02 & 01. Masih banyak warga yang sudah mempunyai rumah dari batu bata, tapi tidak membuat MCK karena sudah terbiasa di ‚Äėluar‚Äô.
  • Masalah kesehatan air. Hamper seluruh warga desa KP mengambil air dari sumber mata air. Tapi masalahnya pada saat hujan air nya yang biasanya bening berubah menjadi putih keruh. Mereka bertanya apakah ini berbahaya untuk dikonsumsi atau tidak. Apakah butuh filter ato bgmn baiknya. Karena ada seorang¬† warga yang menggunakan sumur yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air, tetapi pada saat musim hujan tidak mengalami kekeruhan seperti sumber mata air itu.

MCK-nya kayak geneee.. menurut lo?

Nah lhoo kesadarannya juga kan. Ayo ayo!


  • Masalah ketiga adalah mengenai ekonomi. Karena menurut mereka perekonomian tidak merata. Komoditas utama dari desa KP adalah singkong, yang biasa mereka buat menjadi tape. Tapi ada banyak kendalanya karena dalam 3 hari saja tape itu sudah busuk. Juga mereka mengeluhkan kurangnya pemasaran karena mereka tidak terlalu mengerti bagaimana caranya.

Peyeum bandung asik!

Ini teh kayak chiki aja dijual pelastikan. Oh My GOD! *rokok lho itu*

  • Masalah keempat adalah mengenai sarana. Banyak jalan yang longsor dan rusak berat. Maka dari itu desa KP sulit dijangkau.

Yaah begitulah sekilas tentang Desa Kidang Pananjung. Di samping masalah mereka ada juga keeksotisan masyarakat dan kondisi alam di sana. Ketika pertama kali datang kesana,¬† kamu akan melihat daerah hijau di sekeliling, really really green. Bahkan gak ada sifat komparatif atau superlatif tentang hijau di sana karena kehijauan adalah milik mereka semua. That’s why I mean it’s great escapes! Kalo kamu stress datang deh ke sana liat yang ijo-ijo. Tapi miris memang, kebersihan dari masyarakatnya kurang.

cocok buat kontemplasi

Can you do this everyday?

Foto-foto yang lain ada di saya.. kalo mau liat hubungin saya kawan! ūüôā