Ketika…

Ketika peran menjadi human doing telah dilaksanakan…. lalu yang tersisa adalah peran menjadi human being; tawakal, sabar, dan ikhlas.

“Wahai Allah, bahwasanya aku mohon pilihan oleh-Mu dengan ilmu-Mu, dan mohon kepastian-Mu dengan kekuasaan-Mu, serta mohon kepada-Mu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, karena Engkaulah Dzat yang berkuasa, sedang aku tiada kuasa, dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui, sedang aku tiada mengetahui, dan Engkaulah Dzat yang mengetahui yang ghoib. Wahai Allah, jika adanya, Engkau ketahui bahwa urusan ini adalah baik bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibat urusanku untuk masa sekarang maupun besoknya, maka kuasakanlah bagiku dan permudahkanlah untukku, kemudian berkahilah dalam urusan itu bagiku. Namun jikalau adanya, Engkau ketahui bahwa urusan itu menjadi buruk bagiku, untuk duniaku, akhiratku, penghidupanku, dan akibatnya persoalanku pada masa sekarang maupun besoknya, maka hindarkanlah aku dari padanya, lalu tetapkanlah bagiku kepada kebaikan, bagaimanapun adanya kemudian ridhoilah aku dengan kebaikan itu.”

-Doa Istikharah-

Advertisements

Bersyukur Memiliki Mimpi

Mimpi adalah bahan bakar penggerak akal, panca indra, naluri, dan seluruh anggota badan manusia yang diamanahi oleh Allah SWT. Manusia menjadi semakin keras berpikir bagaimana caranya meraih mimpi tersebut, apa yang bisa dilakukan oleh mata dan telinga? Apa yang bisa dilakukan oleh tangan dan kaki? Apa yang bisa dilakukan oleh hati?

Mimpi adalah motivasi untuk memanfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya dan optimis menyambut hari esok. Semakin bertambahnya hari, mimpi akan semakin dekat karena waktu mendekatkan manusia kepada deadline mimpinya. Mimpi dan deadline adalah kombinasi hebat untuk membuat manusia menjadi berusaha sesuai dengan kemampuannya.

Mimpi adalah persiapan menuju ketidakpastian tingkat tinggi karena segala daya upaya pasti banyak yang dikorbankan, tetapi pilihan tetap hanya ada dua, yaitu gagal atau berhasil. Siapa yang tau mimpi akan berhasil bukanlah sang pemimpi, pun yang menentukan berhasil atau tidak bukanlah manusia.

Mimpi adalah proses transformasi menuju pribadi yang berbeda. Bisa menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Setelah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti, manusia akan berpikir langkah selanjutnya. Mimpi berhasil, manusia akan berpikir. Mimpi gagal, manusia pun akan berpikir atau bahkan tidak berpikir sama sekali karena putus asa mimpi tidak teraih. Yang jelas pada titik ini manusia telah berubah karena telah melalui pandangan dan pengalaman baru.

Menjalani hari dengan memiliki mimpi tidak lah sama dengan menjalani hari dengan tidak memiliki mimpi. Mimpi mengharuskan manusia memiliki nilai dan komitmen untuk menjaganya. Nilai dan komitmen ini yang membuat manusia menjadi lebih terjaga dalam laku sehari-hari.

 

Menjadi Orang Tua

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya. Pekerjaan rumah calon orang tua sebelum memiliki anak adalah bagaimana membekali diri agar ketika sudah dinyatakan pantas, bekal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dari hari ke harinya. Tidak ada yang sempurna. Walaupun sudah mengalami asam manis kehidupan, akan ada kalanya kesalahan itu terjadi. Bukan salah yang sebenarnya, mungkin.

Saya adalah produk didikan orang tua saya. Waktu saya jauh lebih muda, mungkin tidak terpikir oleh saya bahwa didikan orang tua yang begini dan begitu akan berdampak sesuatu pada diri saya nantinya atau menyadari bahwa didikan itu akan membentuk saya yang seperti sekarang ini.

Pada awal pernikahan adalah masa-masa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga suami. Saya mengenal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di tahun ke-5, saya mulai dekat dengannya (kalau istilah sekarang mah pacaran). Di tahun ke-8 kami berpisah dan di tahun ke-9 kami balikan lagi ha ha.. Sampai akhirnya pada tahun ke-10 kami menikah. Waktu 10 tahun cukup untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya bukan? Ya, tentu. Lalu setelah menikah apakah semuanya sudah cukup? Tentu tidak.

Pernikahan membuat saya lebih memahami akan dirinya. Saya menjadi lebih mengerti kenapa sifatnya seperti itu setelah saya mengenal lebih jauh kedua orang tuanya… Oh ternyata sisi dia yang ini mirip ibunya, dan sisi dia yang itu mirip bapaknya. Hingga pada akhirnya saya pun menganalisa diri saya sendiri dan darimana sifat saya ini bersumber.

Inilah salah satu proses pembekalan diri saya untuk calon anak saya nanti. Setelah membedah sifat dan sumbernya saya menemukan kesyukuran, kegembiraan bahkan kekecewaan. Untuk sifat yang baik akan selalu dijaga dan dijunjung sedangkan untuk sifat yang belum sempurna, ada keinginan untuk menghindari sifat itu dan membuatnya jauh lebih baik. Agak naïf memang, bagaimana kalau sifat itu sudah tertanam dalam alam bawah sadar saya, dan bukankah tindakan kita sebagian besar dipengaruhi oleh alam bawah sadar?

Role mode. Saya juga mempelajari role mode orang tua yang baik menurut saya. Catat, bukan berarti orang tua saya bukanlah role mode ya, beliau adalah orang tua terbaik yang saya miliki dan saya semakin menyadarinya setelah saya akan menjadi orang tua. Saya banyak membaca referensi tentang orang tua yang sukses membimbing anaknya, yang terbaru adalah saya menelusur sosok orang tua di era modern, yaitu orang tua dari Isyana Sarasvati, dimana beliau ternyata orang hebat yang mampu mengarahkan bakat kedua anaknya, salah satunya bakat bermusik Isyana. Intermezzo, kenapa coba saya berhenti dan menelusur sosok Isyana Sarasvati? Ha.. ha.. sudah pasti karena sekarang Isyana sedang menjadi godaan para pria… saya masih geli membaca joke ini bahwa godaan pria sekarang ada 4, yaitu harta, tahta, Raisa, dan Isyana 😀

Pada akhirnya setiap orang pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat saya untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik. Setiap saya merasakan ketidaknyamanan ketika sedang hamil, saya langsung ingat bahwa saya sedang diberi karunia yang luar biasa oleh Allah. Inilah titik dimana saya sadar bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah dan sungguh membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keihklasan sejak awal.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14)

Euforia

Euforia. Menurut pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia euforia adalah sebuah kata benda yang berarti nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Sudah gembira, berlebihan pula gembiranya. Berkali-kali lipat gembiranya, satu perasaan gembira saja bisa mempertahankan suasana hati tetap bagus dan positif untuk seharian. Lalu ini, euforia, terbayang kan jika berlebihan perasaan gembiranya? untuk berapa lama euforia ini dapat bertahan?

*****

Jawabannya ternyata tergantung pada rasa syukur kami kepada-Nya.

Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzaabi lasyadid. Q.s Ibrahim: 7.