Mengatasi Marah Pada Anak

Subyek judul tersebut menitikberatkan kepada sang anak, jadi anaknya yang marah. Berbeda maknanya jika judulnya diganti dengan “Mengatasi Marah Kepada Anak”. Hal ini sangat jelas bahwa sang anak berfungsi sebagai objek dalam kalimat, dengan kata lain orang lain lah yang marah kepada anak. Begitu lah pendahuluan yang disampaikan oleh pembicara di acara seminar parenting pada  minggu lalu. Sampai-sampai saya sempat tidak mengerti maksudnya hehe.. ga fokus.

Jadi ceritanya pada hari minggu kemarin saya dan suami datang ke seminar parenting yang bertempat di daerah dago. Saat itu kami berangkat dari daerah gedebage. Seminar akan dimulai pada pukul 8, otomatis kami harus berangkat lebih pagi untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Betapa paginya dan betapa rajinnya kami bukan! 😀 Tetapi yang hebat bukan lah saya, melainkan pak suami lah yang harus banget saya apresiasi. Terima kasih lho pak udah mau diajak datang ke acara seserius dan sepagi itu 😀

Yak, tema seminarnya menarik menurut saya. Ditambah pembicara yang mumpuni. Kata beliau mengatasi marah tidak lah mudah. Pada awalnya beliau menjelaskan tentang mengapa anak marah. Pada umumnya marah merupakan efek dari kekecewaan, keinginan yang tidak terpenuhi, tidak diikuti, tidak dihiraukan, atau karena tersakiti. Tetapi sebenarnya tahu kah wahai ibu bapak apa akar masalahnya… yaitu emosi yang tidak tersalurkan! Sederhananya dia tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia rasa. Ujung-ujungnya nangis. Ujung-ujungnya marah. Pada saat marah, komunikasi yang baik tidak terbentuk. Para orang tua cenderung membiarkan sang anak ketika marah, dengan alasan membuat jera dan supaya dia berpikir atau malah langsung memborbardir dengan kata-kata keras yang sebenarnya ingin tegas padahal tidak. Ketika masih anak-anak, mana tau anak itu salah atau benar, baik atau buruk. Orang tua beranggapan apabila anak menangis atau marah lalu diikuti kemauannya, itu akan membentuk sifat manja yang akan menjadi senjatanya. Ya, memang benar. Tetapi tidak seharusnya juga membiarkannya agar diam. Menurut pembicara itu, yang benar adalah memberi tuntunan, dengan cara mengarahkan agar dia mampu bercerita apa yang dia rasa dan dia mau. Apabila apa yang dia mau tidak baik menurut orang tua, maka orang tua membuat keputusan yang komunikatif dengan sang anak.

Jika saya rangkum menggunakan format CAPA *mentang-mentang kerjaannya bikin CAPA :D*, inti pesan yang saya tangkap dari nasihat beliau adalah sebagai berikut:

Problem: Anak marah

Root cause analysis:

  • Emosi tidak tersalurkan
  • Anak tidak mampu menyampaikan perasaannya
  • Anak tidak tahu cara berkomunikasi

Corrective Action & Preventive Action to be completed:

  • Melatih anak agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar
  • Olah rasa anak mengenai perasaan sedih, senang, marah, malu dll dan ajarkan penyampaian perasaan tersebut melalui kata-kata komunikasi yang baik dan benar
  • Beri tuntunan
  • Beri aturan
  • Orang tua harus bekerja ekstra menangani kondisi ini, jangan sama-sama panas

Implementation: Lakukan CAPA sejak anak masih kecil untuk menguatkan proses pembentukan karakter.

Verification: verifikasi bahwa ketika ada suatu kebutuhan anak tidak terpancing untuk marah/ tidak didahului marah.

Jika berhasil, CAPA closed.

Fyi, narasumber yang menjadi pembicara di seminar itu adalah Ust. Mohammad Fauzil Adhim.Saya tahu beliau dari facebook dan saya sering mengikuti tulisannya.

Thanks ilmunya pak. Semoga bermanfaat bagi ibu bapak jugaa 😀

Salam,

Advertisements

Pemulihan Pasca Keguguran/ Kuret

Keguguran di awal kehamilan ternyata bukanlah sesuatu yang langka bagi seorang wanita. Berdasarkan beberapa informasi yang saya baca, satu dari lima orang wanita akan mengalami keguguran di masa kehamilannya. Dengan kata lain peluang terjadinya keguguran bagi setiap wanita adalah 20%, dan 80% diantaranya terjadi di awal kehamilan. Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya keguguran di awal kehamilan, namun kemungkinan terbesar adalah terjadinya misscombination chromosom yang menyebabkan janin tidak berkembang. Mengapa bisa terjadi? ada banyak faktor. Mulai dari ketidakstabilan hormonal, gaya hidup, virus, atau paparan radiasi dan bahan berbahaya.

Saya termasuk 20% kelompok wanita yang mengalami keguguran di awal kehamilan. Bercak darah muncul seminggu sebelum kontrol kedua dengan usia janin sekitar 9 minggu dan akhirnya kondisi saya berakhir dengan tindakan kuretase yang telah saya ceritakan di sini. Minggu keempat setelah kuretase adalah waktunya saya kontrol. Alhamdulillah, dokter menginfokan rahim saya sudah bersih, artinya tidak ada sisa jaringan kuretase yang tertinggal. Namun rahim saya perlu “diistirahatkan” dulu sampai 2 kali siklus menstruasi. Terakhir, saya diberi vitamin prenatal vitamin E dan asam folat + DHA untuk dikonsumsi apabila saya telah  mengalami 2 kali siklus menstruasi. Siklus menstruasi pertama berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Di siklus kedua, saya mengalami keterlambatan hampir seminggu lebih. Saya khawatir, di-test pack beberapa kali hasilnya negatif tetapi kok tidak menstruasi juga.. Sampai saya berpikir, pantas saja dokter tidak mengatakan rahim “diistirahatkan” dalam hitungan bulan karena bisa saja waktu mestruasi setelah kuretase menjadi acak-acakan. Dan ternyata benar, setelah saya searching di internet, ketidakstabilan hormonal masih terjadi sesaat setelah mengalami kuretase. Jadi jangan khawatir ya moms!

Menurut artikel yang saya baca, sebenarnya tidak ada jeda berapa lama mommy bisa hamil lagi setelah kuretase, yang pasti selama mommy dan partner telah siap maka tidak ada halangan untuk langsung hamil kembali. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kesiapan itu bukanlah fisik semata, tetapi faktor lain seperti mental dan perasaan.

Dari pengalaman yang telah saya lalui (walaupun singkat) saya ingin sedikit berbagi beberapa hal kepada moms-to-be untuk tetap ceria dan siap apabila telah/ belum mengalami keguguran.

  1. Berdoa untuk segala kondisi, ya mommy.
  2. Tidak usah khawatir mommy, keguguran di awal kehamilan bukanlah masalah yang besar because you’re not alone. Lebih jauh lagi apabila mommy terbesit rasa bersalah, “apa saya tidak menjaganya dengan baik ya”, no! tentu saja bukan.
  3. Prenatal preparation? Why not! Bahkan beberapa orang yang saya kenal sudah mempersiapkan baik mental dan fisiknya sejak beberapa bulan sebelum pernikahan. Persiapan bisa dilakukan melalui olahraga teratur, makan makanan bergizi, menjauhi junk food, pengawet dan MSG, membaca artikel-artikel mengenai kehamilan, minum susu prenatal, atau konsultasi ke dokter.
  4. Ajak partner melakukan prenatal preparation juga. Mungkin waktu memulainya tidak perlu bersamaan namun ajak lah untuk membangun benteng bersama-sama. Yang bertanggung jawab atas kesehatan janin bukanlah mommy saja, tetapi partner juga, logis bukan?
  5. Pastikan kondisi badan sedang fit ketika sedang bertemu partner, tidak stress dan selalu berbahagia.

Dan masih banyak lagi saran-saran lain yang tidak tertulis di blog ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi mommy semua. Mommy harus tetap semangat dan mengontrol emosi agar semua aktivitas berjalan dengan lancar. Menurut dokter SpOG saya, tidak ada penanganan khusus terkait medis pasca keguguran pertama, pun saat kedua kalinya terulang. Nah, jika keguguran ketiga terjadi berturut-turut, ini lah yang perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dan penanganan lebih lanjut oleh dokter. Semoga sehat selalu ya moms 🙂

Mulai Berbisnis Lagi

Setelah kurang lebih 3 bulan vakum menjalankan bisnis online shop, hari ini saya resmi membukanya lagi. Teringat banyak sekali customer yang menghubungi saya via Line, WhatsApp dan BBM yang tidak saya respon. Suami sampai mengingatkan, “Jangan dicuekin lho, gak sopan”, tetapi tetap saja bila saya sudah malas maka saya bisa tidak menghiraukan satu hal atau banyak hal 😀

Teringat bahwa saya beralasan untuk vakum sebelumnya karena saya sedang mengalami morning sickness trimester pertama. Saya juga beralasan kalau ternyata berjualan itu bukan sesuatu yang saya enjoy menjalaninya. Alasan lainnya adalah saya capek harus terhubung terus dengan handphone sehingga mata dan otak saya lelah karena setiap waktu harus siap bila ada order-an. Lalu saya beralasan kalau saya gak nyaman menjual barang orang karena stok tidak dapat dipastikan, kadang hari ini ada eh tapi ketika ada order-an barang itu kosong, saya sampaikan ke customer. Eh tiba-tiba beberapa hari kemudian barang itu tersedia di supplier. Yah, rasanya seperti dimain-mainkan saja dengan sesuatu yang tidak pasti. Saya beralasan kalau barang sendiri kan saya bisa bisa memperkirakan kapan barang itu ready, kapan nyetok ulang, dll. Tetapi nyatanya menjual barang sendiri itu entah kapan direalisasikan haha… karena masih banyak alasan-alasan juga.

Wah kok banyak alasannya ya? Haha.. Jadi kalau di dalam berpidato grogi adalah musuh utama, nah dalam bertindak,  alasan-alasan lah yang menjadi musuh utamanya *ngomong sama kaca*.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang terlalu terorganisir. Saya senang dengan kejutan-kejutan bahkan untuk beberapa hal saya langsung terjun spontan tanpa berpikir risk and benefit. Tetapi, saya juga sangat bisa serius dan melakukan pemikiran panjang mengenai masa depan terkait sesuatu yang akan dipilih atau dihadapi. Seperti bisnis online shop ini, dulu saya spontan buat akun di instagram lalu langsung memasang foto-foto. Tidak terpikir harus dapat untung berapa dan nanti bagaimana, yang pasti saya ingin membiasakan berbisnis. Seiring perjalanannya, banyak alasan (tadi) yang menghambat konsistensi. Sampai akhirnya sekarang saya buka lapak lagi meneruskan sisa-sisa perjuangan (lebay) hehe..

And the show must go on! Sama seperti ODOP for 99 days yang terus berjalan untuk membentuk kebiasaan, saya mulai bisnis ini lagi dari awal. Bikin komitmen baru dengan diri sendiri. Mikir-mikir lagi strategi apa yang oke. Membuka peluang bisnis baru. Dan lain-lain. HEHE.

Hal yang Tidak Perlu Diperdebatkan

Imagine all the doubt, worry, and confusion that we would eliminate if we quit thinking about parenting in terms of right and wrong. The mommy wars would go away entirely. Inilah yang sedang terjadi akhir-akhir ini di media sosial Indonesia atau bahkan di daerah belahan lain di dunia. Dimulai dari cuap-cuap monolog yang menyulut twitwar, sampai dengan debat kusir yang tiada berakhir. Kelompok pertama berkata inilah pilihan terbaik, kelompok lain berkata salah, dan kelompok terakhir mencoba untuk netral. Saya termasuk yang sensitif juga dong kalau gitu hehe.. soalnya sampai menyinggung topik ini di blog pribadi. Tapi jika saya memberikan opini juga artinya saya hanya menambah beban pikiran, kecemasan dan kegalauan mengenai benar atau salahnya parenting things dong ya. Ah capek dong..:D

Tapi.. saya gak tahan pengen share opini seseorang di blog pribadi (bilang aja ga punya bahan tulisan hehe). Yah apa pun, monggo diresapi kalimat per kalimat yang penuh makna ini, semoga bermanfaat 😀

Imagine all the doubt, worry, and confusion that we would eliminate if we quit thinking about parenting in terms of right and wrong. The mommy wars would go away entirely. In reality, there is only a right way and a wrong way for your family. Part of being a successful mother is learning through experience what works in you unique situation and with your unique kids. No two families need or want the same things, so we’ve got to let go of the notion that some mythical, perfect parenting tactic works. –Heather Hale

Anw, bagi saya membahas topik ini adalah lagu lama. Lagu lama yang akan selalu menjadi kenangan untuk dibahas lagi di masa depan pada lain waktu oleh beda generasi.

Sumber: http://www.familyshare.com/parenting/5-motherhood-myths-that-are-dragging-you-down

Seni Bahagia Calon Ibu

Happiness is Contagious
By William Martin
Excerpt from The Parent’s Tao Te Ching

We all want our children to be happy.
Somehow, some way today
Show them something that makes you happy,
Something you truly enjoy.
Your own happiness is contagious.
They learn the art from you.

Sumber: http://www.definingparent.com

Semalam saya merasakan ada letupan di dalam perut saya. Mungkin cegukan atau hentakan. Saya coba menepuk balik sambil berkata “tepuk”. Lama-lama letupan hilang. “Yaah..Cuma sebentar mainnya”, gumam saya di dalam hati.

Menurut buku yang saya baca, ibu hamil akan merasakan gerakan janin mulai usia 16 minggu apabila itu kehamilan kedua dan seterusnya. Sedangkan untuk kehamilan yang baru kali pertama, ibu hamil akan merasakan gerakannya ketika berusia 17-18 minggu. Entah saya merasakan sugesti atau bukan, semalam itu saya mendengar bunyi “lup…lup..lup” beberapa kali dari perut ini. Kalau pun itu hanya bayangan saja, saya cukup merasa senang.

We all want our children to be happy. Ya, kebahagiaan yang sebenarnya dari dalam hati, bukan karena materi atau makhluk. Sekali pun pasti melewati cobaan hidup, kebahagiaan tetap dirasakan dengan caranya yang sesuai. “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Somehow, some way today. Show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Selain ibu dan janin berada dalam satu raga, ternyata keduanya pun berada dalam satu sisi emosi. Katanya sejak di dalam kandungan janin dapat merasakan emosi yang sedang dialami oleh ibunya meliputi emosi sedih, cemas, atau bahagia. Mungkin inilah salah satu faktor yang membentuk nature mereka. Banyak artikel parenting yang menjabarkan cara-cara membentuk anak saleh sejak dalam kandungan. Salah satunya adalah melatih aspek kongnitif mereka dengan cara mengajak ngobrol, memberi rangsang sentuhan, ketukan, suara, dll, termasuk dengan cara menjaga emosi ibu agar anak merasa nyaman. Emosi ibu dapat dijaga dengan melakukan sesuatu yang ibu suka dan tentu dukungan dari pasangan.

Your own happiness is contagious. Silakan baca blog saya di ODOPfor99days day 4 atau klik link ini. Kebahagiaan itu menular sampai 4 lapis kontak sosial! Artinya jika saya bahagia, kemungkinan temannya temannya teman saya menjadi bahagia juga meningkat. Teman yang secara langsung kontak sosial dengan kita yang sedang bahagia akan meningkat juga kemungkinan menjadi bahagianya sebesar 15%. Bayangkan jika teman itu adalah bayi yang ada di perut kita. Itulah sebabnya ibu hamil dianjurkan untuk selalu bahagia atau setidaknya mengontrol emosinya agar tetap stabil. Kesedihan juga katanya menular tetapi lebih kurang efektif dibandingkan dengan kebahagiaan. Masya Allah.

They learn the art from you. Saya mengajarkan kata “ketuk” sambil mengetuk-ngetuk perut dan seolah-olah mengajak bermain. Ketika masih di dalam perut, the art yang bisa diajarkan masih sangat terbatas, tetapi ketika sudah dilahirkan they really learn the art from you how to keep happy in every situation. Thus show them something that makes you happy, something you truly enjoy. Pertanyaannya adalah apakah sekarang Anda telah memiliki ‘something you truly enjoy’? *retorika* haha.. Menurut Aa Gym, cara terbaik mengajarkan disiplin adalah dengan memberi contoh disiplin dan menerapkannya kepada diri sendiri. Coba hubungkan nasihat tersebut dengan ungkapan they learn the art from you. Kalau istilah populer sekarang they learn about how to be a passionate person from you. Then congratulation! Anda telah menunjukkan seninya dengan baik.

***

Catatan: Tulisan ini ditujukan sebagai bahan introspeksi apakah saya sudah menjalankan apa yang saya tulis di sini. Bukan berarti bahwa saya telah menjalankan ini secara konsisten lhoo 😀

Bahagia Itu Menular

Saya baru membaca artikel menarik yang berjudul Happiness is contagious. Katanya kebahagiaan itu menular! Bahkan lebih menular daripada kesedihan. Penelitian menunjukkan bahwa pesona kebahagiaan dapat menyebar secara viral di dalam jaringan sosial. Ini berarti bahwa kita dapat menjadi penyebab kebahagiaan untuk orang yang belum pernah kita temui.

Para peneliti menemukan hubungan statistikal bukan hanya antara kebahagiaan seseorang dan kebahagaan temannya, tetapi antara kebahagiaan seseorang dengan kebahagiaan temannya temannya teman (ini bukan typo kebanyakan nulis “temannya” lho..).

Mereka berkesimpulan:

  • melakukan kontak langsung dengan orang yang sedang bahagia akan meningkatkan kemungkinan orang kedua menjadi bahagia juga sebesar 15%
  • melakukan kontak dengan orang kedua yang telah mendapatkan pengaruh kebahagiaan dari orang pertama akan meningkatkan kemungkinan orang ketiga menjadi bahagia juga sebesar 10%
  • melakukan kontak dengan orang ketiga yang telah mendapatkan pengaruh kebahagiaan dari orang kedua (atau temannya temannya teman :D) akan meningkatkan kemungkinan kebahagiaan orang keempat juga sebesar 6%

Sayangnya tebar pesona kebahagiaan yang dilakukan oleh orang keempat tidak akan berpengaruh terhadap kebahagiaan orang kelima. Penelitian ini cukup kuat kebenarannya, katanya. Ini berarti apabila kita sedang bad mood berarti kita telah kehilangan kesempatan membahagiakan bukan hanya kepada orang yang kontak dengan kita secara langsung, tetapi juga membahagiakan temannya temannya mereka. Dan para peneliti juga berpesan bahwa “the findings do not mean you should avoid unhappy people, but that you should make an effort whenever you can to spread happiness.”

Sumber: http://www.webmd.com/balance/news/20081204/happiness-is-contagious.

 

Pengalaman Keguguran

Ini adalah pengalaman saya di kehamilan pertama. Pada usia 9 minggu, janin dinyatakan tidak berkembang, jadi terpaksa harus dikeluarkan dari rahim saya. Saya sih awalnya biasa saja, tetapi ketika ditanya ini itu lalu tersadar, kok sedih juga ya.. hmm. Kejadiannya begitu cepat dan keputusan untuk kuretase pun cepat diambil oleh saya dan suami. Kami cuma bisa pasrah dan nurut saja apa yang disarankan oleh dokter, yang terbaik lah yang kami inginkan.

***

Pertama kali saya kontrol ke dokter itu pada saat minggu ke-6 masa kehamilan (dihitung dari HPHT). Pada saat di-USG, bakal janinnya belum terlihat, namun kantung kehamilan sudah ada. Belum ada perasaan was-was disini, karena baca-baca dari forum diskusi internet banyak juga yang mengalami hal sama. Yowes jadi jalan ae aja…

Belum sempat kontrol kedua kalinya, ketika memasuki minggu ke-9 kehamilan, saya mendapati bercak darah pada pagi hari. Setelah mandi dan bersih-bersih bercak itu tidak muncul lagi sampai malam harinya. Besoknya adalah hari Senin jadi saya masuk ke kantor seperti biasa. Tidak diduga, pada siang hari saya mendapati bercak lagi. Akhirnya sepulang dari kantor saya memutuskan untuk cek ke dokter terdekat untuk memastikan bahwa kandungan saya baik-baik saja. Jenjreng….namun ternyata hasilnya kurang positif, dokter menyatakan bahwa kemungkinan saya mengalami blighted ovum karena yang terlihat di layar USG hanya kantung kehamilannya saja, sedangkan isinya tidak ada. Dokter sempat menyinggung tentang kuretase, tetapi saya diminta untuk datang lagi 2 minggu kemudian.

Besoknya saya masih penasaran. Akhirnya saya ditemani ibu memutuskan pergi ke dokter kedua untuk dicek. Dokter kedua mengatakan bahwa janin telah terlihat (Alhamdulillah) tetapi…. detak jantungnya tidak ada, dan ukurannya pun lebih kecil dari yang seharusnya usia 9 minggu. Dokter kedua merekomendasikan untuk tindakan kuretase, bahkan saya sampai diberi surat rujukan untuk langsung ke UGD apabila sudah diskusi dengan suami. Sebelum pulang, dokter mempersilakan saya untuk mengecek ke dokter lain sebagai second opinion (wah dokternya tidak tahu kalau saya ngecek lagi berarti sudah third opinion hehe..) Saya pertimbangkan lagi karena dua dokter yang telah didatangi memiliki diagnosa yang berbeda. Walaupun keduanya memiliki diagnosa yang negatif, saya masih berharap ada keajaiban untuk pengecekan selanjutnya.

Saya menelepon suami dan menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter kedua. Suami terus bertanya mengenai banyak hal dan menanyakan apakah dia perlu pulang ke Bandung. Saya pikir kalau mau pulang ya pulang saja, tidak perlu menanyakan persetujuan. Bahkan seharusnya inisiatif pulang (pikiran saya waktu itu.. hehe maaf pak bos). Saya mulai speechless. Saya tutup teleponnya tanpa berkomentar karena saya sudah tidak bisa membendung air mata. Mungkin suami saya semakin khawatir lalu akhirnya dia mengirim pesan bahwa sore ini dia pulang ke Bandung.

Suami sampai di Bandung malam hari. Tangis saya sempat pecah begitu menyambut sambil memeluknya. Malam itu juga kami berdisuksi dan akhirnya diputuskan untuk melakukan pengecekan ke dokter kandungan yang ketiga esok hari. Ternyata dokter ketiga memiliki diagnosa yang sama dengan dokter kedua, yaitu janin tidak berkembang. Di situ saya sudah pasrah. Dokter ketiga menceritakan tentang detail kondisi, kemungkinan penyebab, dan jadwal tindakan apabila mau dikuretase. Ternyata jadwalnya adalah esok hari. Saya tidak menyangka secepat itu, tetapi ya sudah apabila harus dikeluarkan dari rahim, maka saya ikuti saja prosedurnya. Saya diberi surat rujukan untuk kuretase dan pengecekan laboratorium. Pengecekan laboratorium saya lakukan hari itu juga. Selain itu kami juga membereskan peradministrasian, mulai dari pembayaran, tata laksana sampai dengan pemberian informed consent oleh petugas kesehatan disana.

Saya dijelaskan bahwa kuretase adalah tindakan 1 hari (tidak dirawat inap) dan nanti akan dibius total. Saya dan suami dimintai persutujuan dan menandatangani pernyataan. Saya diberi tahu bahwa besok pukul 6 pagi harus sudah ada di UGD. Saya melihat lokasi ruang operasi tetapi tidak melihat keadaan di dalamnya.

Akhirnya hari H tiba. Ketika jam 6 pagi saya disuruh tiduran dulu di UGD. Tekanan darah diperiksa. Lalu saya dipindahkan ke tempat yang setiap orang masuk kesana harus memakai pakaian berwarna biru muda (seperti pakaian operasi) dan sandal harus dilepas. Tindakan kuretase akan dimulai pukul 9 pagi. Saat itu saya hanya ditemani oleh suami sedangkan orang tua dan mertua akan menyusul siang harinya. Sebelum dipindahkan ke kamar tindakan, saya disuruh mengganti baju dengan baju seperti baju operasi dan  diberi obat vaginal terlebih dahulu yang katanya akan berefek mulas. Sampai mendekati pukul 9 saya tidak merasakan mulas sama sekali. Lalu tangan saya disuntik dan dipasang selang penyambung infus. Ini adalah pertama kalinya saya mengalami tindakan yang berhubungan dengan kesehatan cukup serius. Sebelumnya saya tidak pernah diinfus dan saya tidak pernah dirawat inap.

Jam 9 pun tiba. Saya didorong oleh perawat ke kamar lain, kamar yang diatas pintu masuknya ada satu lampu bohlam  seperti kamar operasi. Saya tidak menyangka bahwa kamar tindakan kuretase itu seserius ini. Hanya ada 1 tempat tidur di dalam ruanagn itu yang di sekitarnya dikelilingi beberapa instrumen dan tepat diatas tempat tidur itu ada lampu-lampu besar seperti difungsikan untuk penerang observasi pada saat operasi. Alat untuk memonitor tekanan darah yang dapat merekam berapa tekanan darah saya dalam setiap 3 menit dipasangkan di lengan. Saya memerhatikan nilai tekanan darah setiap alat itu berbunyi. Lama-lama semakin tinggi. Mungkin saya cemas. Perawat melihat saya tegang dan saya disuruh tenang. Hampir 15 menit saya menunggu dokter anestesi dan dokter kandungan di dalam kamar itu. Mungkin saya sengaja dimasukkan sebelumnya agar saya membiasakan diri.

Akhirnya dokter anestesi datang, ketika obat bius disuntikkan lewat jalur infus yang sebelumnya sudah dibuat, tangan saya terasa dingin. Tidak lama dalam hitungan detik saya langsung tidak sadar total.

Selama 2 jam saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Bangun-bangun saya sudah berada di kamar tunggu sebelum operasi. Di hidung saya terpasang selang oksigen dan ada suami serta orang tua. Beberapa lama kemudian dokter datang dan menanyakan kabar. Perawat membawa sampel hasil kuretase dan menjelaskan bahwa sampel tersebut akan dibawa ke bagian patologi anatomi. Kebetulan mertua saya adalah dokter patologi anatomi, suami saya bertanya kepada ibu apakah nanti hasilnya dapat diketahui penyebab keguguran? Ibu bilang tidak. Kita hanya dapat mengetahui apakah benar itu sampel kehamilan atau bukan. Dan memang benar, setelah beberapa hari hasil PA keluar, kesimpulannya sampel adalah sisa kehamilan.

Setelah beberapa jam semua kembali normal. Saya tidak merasakan apa-apa, malah saya merasa seperti habis bangun tidur yang nyenyak sekali.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Hampir-hampir saya tidak percaya kalau saya telah melewati kejadian emosional yang besar. Saya sedih tetapi tidak berlarut. Sempat ada kekhawatiran apakah saya bisa hamil sehat karena saya pernah baca apabila pernah mengalamai keguguran maka peluang keguguran lagi meningkat. Setelah kejadian itu saya dan suami berusaha hidup sehat dengan memperbaiki asupan nutrisi. Alhamdulillah setelah 2 kali menstruasi, saya kembali positif hamil dan saat ini kandungan saya telah mencapai 17 minggu.

Semoga kita semua selalu sehat. Aamiin.