Bawa Perasaan: Long Distance Marriage

Sejak usia 2.5 bulan, Aluna ditinggal bapaknya sekolah jauuh sekali. Pulang seminggu sekali itu cerita lama yang gak mungkin terulang beberapa bulan ini. Sebenernya bukan Aluna aja yang ditinggal, tapi saya, ibunya, juga ditinggal. Bedanya, saya sudah paham apa rasanya senang, sedih, dan rindu. Andai saya seperti Aluna mungkin tidak ada yang namanya bawa perasaan, tapi saya tidak mau, karena saya sehat.

Meskipun banyak keluarga disini tapi ada saatnya saya merindukan pasangan. Meskipun setiap minggu video call dan bertatap muka tapi ada saatnya saya membutuhkan pasangan secara nyata. There’s a technology that can’t buy.

Ditinggal pasangan dengan seorang bayi yang masih merah itu sesuatu sekali. Intinya adalah saya harus bisa apapun. Saya harus tahan di segala kondisi karena tidak ada second player yang setara yang bisa menggantikan peran. Contohnya ketika bepergian, ketika saya diharuskan berangkat berdua tapi melihat yang lain bertiga rasanya itu sesuatu sekali, bawa perasaan. Bersyukur Aluna paham ibunya hanya sendiri jadi dia jarang rewel bila jauh dari rumah. Tidur pun tidak sulit jadi ibunya tidak perlu menggendong lama. Meskipun begitu saya sering membisikkan sesuatu kepada Aluna, “Bantu Ibu ya (untuk tidak rewel)”. It works. Alhamdulillah.

Masa-masa usia Aluna ini adalah masa dia mengidentifikasi orang di sekitarnya. Saya sayang Aluna dan nampaknya Aluna pun sudah menunjukkan rasa sayangnya kepada saya. Saya sudah dan sedang menjalani rasanya menjadi ibu. Saya harap nanti bapaknya pun memiliki frekuensi yang sama dengan saya walaupun telah kehilangan masa 2.5 bulan – 6 bulannya Aluna. And viceversa, mudah-mudahan Aluna pun memiliki rasa sayang yang sama untuk bapaknya seperti kepada ibunya.

Untungnya ada yang menguatkan saya kalau saya baper, yaitu Sang MahaBijaksana. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk menyesali kondisi atau terus-terusan baper (baper sesekali mah wajar lah ya hehe), karena saya pasti sudah ditempatkan-Nya di kondisi yang sebijaksana mungkin. Dengan demikian saya juga yakin ketika ada hal yang tidak bijaksana percayalah itu adalah suatu kebijaksanaan juga, karena semua telah diatur oleh Sang MahaBijaksana, iya kan? Tinggal kita sendiri, bisa kah kita mengambil hikmahnya?

Semoga, insyaAllah.

20160825_164158.jpg

Sebelum berpisah

Mengatasi Marah Pada Anak

Subyek judul tersebut menitikberatkan kepada sang anak, jadi anaknya yang marah. Berbeda maknanya jika judulnya diganti dengan “Mengatasi Marah Kepada Anak”. Hal ini sangat jelas bahwa sang anak berfungsi sebagai objek dalam kalimat, dengan kata lain orang lain lah yang marah kepada anak. Begitu lah pendahuluan yang disampaikan oleh pembicara di acara seminar parenting pada  minggu lalu. Sampai-sampai saya sempat tidak mengerti maksudnya hehe.. ga fokus.

Jadi ceritanya pada hari minggu kemarin saya dan suami datang ke seminar parenting yang bertempat di daerah dago. Saat itu kami berangkat dari daerah gedebage. Seminar akan dimulai pada pukul 8, otomatis kami harus berangkat lebih pagi untuk menempuh jarak yang cukup jauh. Betapa paginya dan betapa rajinnya kami bukan! 😀 Tetapi yang hebat bukan lah saya, melainkan pak suami lah yang harus banget saya apresiasi. Terima kasih lho pak udah mau diajak datang ke acara seserius dan sepagi itu 😀

Yak, tema seminarnya menarik menurut saya. Ditambah pembicara yang mumpuni. Kata beliau mengatasi marah tidak lah mudah. Pada awalnya beliau menjelaskan tentang mengapa anak marah. Pada umumnya marah merupakan efek dari kekecewaan, keinginan yang tidak terpenuhi, tidak diikuti, tidak dihiraukan, atau karena tersakiti. Tetapi sebenarnya tahu kah wahai ibu bapak apa akar masalahnya… yaitu emosi yang tidak tersalurkan! Sederhananya dia tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia rasa. Ujung-ujungnya nangis. Ujung-ujungnya marah. Pada saat marah, komunikasi yang baik tidak terbentuk. Para orang tua cenderung membiarkan sang anak ketika marah, dengan alasan membuat jera dan supaya dia berpikir atau malah langsung memborbardir dengan kata-kata keras yang sebenarnya ingin tegas padahal tidak. Ketika masih anak-anak, mana tau anak itu salah atau benar, baik atau buruk. Orang tua beranggapan apabila anak menangis atau marah lalu diikuti kemauannya, itu akan membentuk sifat manja yang akan menjadi senjatanya. Ya, memang benar. Tetapi tidak seharusnya juga membiarkannya agar diam. Menurut pembicara itu, yang benar adalah memberi tuntunan, dengan cara mengarahkan agar dia mampu bercerita apa yang dia rasa dan dia mau. Apabila apa yang dia mau tidak baik menurut orang tua, maka orang tua membuat keputusan yang komunikatif dengan sang anak.

Jika saya rangkum menggunakan format CAPA *mentang-mentang kerjaannya bikin CAPA :D*, inti pesan yang saya tangkap dari nasihat beliau adalah sebagai berikut:

Problem: Anak marah

Root cause analysis:

  • Emosi tidak tersalurkan
  • Anak tidak mampu menyampaikan perasaannya
  • Anak tidak tahu cara berkomunikasi

Corrective Action & Preventive Action to be completed:

  • Melatih anak agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar
  • Olah rasa anak mengenai perasaan sedih, senang, marah, malu dll dan ajarkan penyampaian perasaan tersebut melalui kata-kata komunikasi yang baik dan benar
  • Beri tuntunan
  • Beri aturan
  • Orang tua harus bekerja ekstra menangani kondisi ini, jangan sama-sama panas

Implementation: Lakukan CAPA sejak anak masih kecil untuk menguatkan proses pembentukan karakter.

Verification: verifikasi bahwa ketika ada suatu kebutuhan anak tidak terpancing untuk marah/ tidak didahului marah.

Jika berhasil, CAPA closed.

Fyi, narasumber yang menjadi pembicara di seminar itu adalah Ust. Mohammad Fauzil Adhim.Saya tahu beliau dari facebook dan saya sering mengikuti tulisannya.

Thanks ilmunya pak. Semoga bermanfaat bagi ibu bapak jugaa 😀

Salam,