Paspor untuk Bayi

Ceritanya Aluna dan ibunya mau nyusul bapaknya ke Belanda. Udah pasti hal penting yang terlintas adalah: bikin paspor! Ya. Tentu saja. Tanpa dokumen ini mustahil kami bisa pergi ke luar negeri secara legal. Ilegal bisa aja sih, tapi sorry banget kita gak memilih jalan itu hehe..

Oke, ngomongin paspor, kebetulan ibunya pun belum punya dokumen itu jadi sekalian lah kami berdua mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor tersebut. Anw, mungkin sudah banyak sekali informasi yang bisa dicari di google mengenai syarat pembuatan paspor untuk orang dewasa, apalagi sekarang bisa daftar secara online. Nah, oleh karena itu, sekarang di blog ini saya mau cerita tentang syarat pembuatan paspor untuk bayi yang tidak lain adalah pengalaman Aluna yang saat membuat paspor itu masih berusia 4 bulan.

Secara umum, ini lah persyaratan pembuatan paspor untuk bayi (anak di bawah umur). Sederhana bukan? Nah, mari kita bahas satu-satu berdasarkan pengalaman Aluna.

screenshot_2016-11-16-20-44-33

Jadi ini kondisi dokumen Aluna saat membuat paspor:

1. E-KTP Ayah & Ibu. Pada saat akan membuat paspor, e-KTP ayah & ibu Aluna masih dalam proses di DISDUKCAPIL alias e-KTP nya belum jadi. Solusinya? Kami membuat surat keterangan pengganti e-KTP yang menyatakan bahwa e-KTP nya masih dalam proses pencetakan (tahu kan fakta sekarang di berita bahwa blanko e-KTP sedang habis). Tidak perlu waktu lama meminta surat keterangan ini, sehari langsung beres. Fyi, kami termasuk wilayah DISDUKCAPIL Kota Cimahi.

2. Kartu Keluarga. Kartu keluarga Wicaksono (nama belakang bapaknya Aluna) baru jadi setelah bapaknya Aluna pergi ke Belanda. Padahal kartu keluarga tersebut harus ditandatangani oleh sang kepala keluarga. Dipikir-pikir kalau mau dikirim ke Belanda dulu akan membutuhkan waktu yang lama. Solusinya? Kami membuat surat keterangan dari RT/RW yang menyatakan bahwa nama-nama yang tercantum di kartu keluarga tersebut adalah benar warganya dan kepala keluarga tidak bisa menandatangani kartu keluarga karena sedang berada di luar negeri. Jadi kolom tanda tangan masih tetap dikosongkan.

3. Akta Lahir. Ini aman, tidak ada masalah karena setelah Aluna dilahirkan kami cepat mengurus akta lahirnya.

4. Buku Nikah. Ini aman, karena dokumen inilah awal bersatunya Bapak & Ibunya Aluna secara sah 🙂

5. Pada Saat Wawancara Wajib Didampingi Kedua Orang Tua. Nah, ini juga gak mungkin bagi Aluna soalnya bapaknya sedang berada di Belanda, Solusinya? Ada dua pendapat. Pertama, menurut Kantor Imigrasi Bandung, bapaknya Aluna harus membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa memberikan kuasa kepada ibunya untuk pembuatan paspor Aluna karena beliau sedang ada di luar negeri. Surat kuasa tersebut harus ditandatangani diatas materai. Kemudahannya adalah surat kuasa ini boleh di-email-kan, jadi kami cukup membawa cetakan emailnya saja. Kedua, menurut Kantor Imigrasi Sukabumi (kebetulan mertua sempat membuat paspor di Sukabumi pada tahun ini), kami tidak perlu membuat surat kuasa. Kalau bapaknya tidak bisa hadir dan ada alasannya ya sudah, ibunya saja yang hadir. Fyi, karena kemudahan ini dan waktunya memungkinkan akhirnya kami memutuskan membuat paspor di Sukabumi. Ternyata mengenai ketidakhadiran bapaknya Aluna ini diselesaikan dengan menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa kepala keluarga tidak dapat menandatangani surat apapun untuk pembuatan paspor anaknya (Aluna) karena sedang berada di luar negeri (sudah ada blankonya dari Kantor Imigrasi). Surat tersebut ditandatangani oleh ibunya di atas materai dan ini lebih simple menurut saya.

Tiba lah saatnya Aluna datang ke kantor imigrasi. Akhirnya semua dokumen sudah bisa diterima oleh pihak Kantor Imigrasi dan kami mendapat nomor antrian wawancara+foto. Antrian Aluna sangat bayi friendly karena bayi memiliki nomor antrian sendiri dan tentu antrian bayi sedikit sekali. Aluna mendapat nomor antrian pertama (kategori bayi) sedangkan ibunya mendapat nomor antrian 041 (kategori dewasa). Namun Alhamdulillah nya rezeki anak shalehah, ibunya tertolong oleh Aluna. Pada saat Aluna diwawancara, petugas meminta paspor ibunya namun karena sama-sama baru mengajukan akhirnya kami berdua dilayani secara bersamaan. Jadi ibu tidak perlu mengantri lagi sampai 041 hihi.. terima kasih bu petugas.

Secara umum saya cukup puas dengan pelayanan Kantor Imigrasi tempat saya mengajukan pembuatan paspor, yaitu Kantor Imigrasi Sukabumi. Oh ya, tambahan lagi, paspor yang diajukan sudah bisa diambil 3 hari kemudian cepat sekali bukan? Saya berharap semoga semua instansi pemerintah memiliki kinerja yang sama baiknya, memiliki rencana kerja yang efektif, efisien serta tidak membuat prosedur yang menyusahkan dan bertele-tele. Kalau bisa mudah kenapa dipersulit, kalau bisa cepat kenapa diperlama hehe.. Apapun.. sekian yang ingin saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi bapak-ibu yang sedang mengurus paspor bayinya. Cheers!