Ibu Rumah Tangga

Ternyata oh ternyata menjadi ibu rumah tangga itu luar biasa sibuknya. Pekerjaan tiada henti selama 24 jam. Seputar anak, seputar suami, seputar dapur, seputar kamar tidur, seputar kamar tamu, seputar kamar mandi…. oh oh pantas saja ibu jadi mbah google di rumah. Coba saja perhatikan, “Bu, kaos kaki Bapak dimana?”, “Bu, lihat kunci motor aku nggak?”, “Bu, jam tangan aku dimana yaa aku lupa nyimpen”, “Bu, masak apa?” dll… Wahhhh segudang pertanyaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga ibu pasti tahu (biasanya). HEBAT YAAA IBU-IBU!

Setiap hari ibu rumah tangga selalu dapat kejutan. Pekerjaan memang berulang, itu lagi-itu lagi dengan tujuan akhir sama: RAPI, BERES, KENYANG, HEMAT, tapi prosesnya yang beda. Banyak distraksinya sis! Tapi mungkin beda cerita sih kalau anaknya sudah besar dan mandiri, oh ya, saya juga ga bermaksud men-generalisir ibu rumah tangga seperti yang saya ceritakan disini. Maksud saya adalah saya menceritakan tentang diri sendiri dan mencoba mengejawantahkannya melalui tulisan ini. Maklum, saya newbie jadi ibu rumah tangga, udah gitu baru punya bayi dan hebohnya lagi adalah sekarang saya sedang merantau di negara lain yang jauh dari keluarga #curcolkan haha.

Okaay but the show must go on! Alhamdulillah nya saya menetap di negara maju. Dimana kemudahan di segala bidang kerasa banget, tinggal pinter-pinternya saya beradaptasi dan bersosialisasi. Adaptasi dengan lingkungan yang heterogen, dengan cuaca yang ekstrim, dengan kehidupan mandiri yang (sebaiknya) tidak bergantung pada orang lain, dan dengan kehidupan dimana bayi bergantung pada saya.

Lalu bagaimana cerita saya menjadi ibu rumah tangga? Nano-nano. Saya pernah baca entah dimana bahwa ibu lah yang mengontrol isi rumah, I mean situasi dan kondisi rumah sangat bergantung dengan kondisi emosi ibu. Dan saya jamin itu benar 100%! To be honest saya adalah termasuk pribadi yang mudah emosional. Pada dasarnya sejak dulu saya suka kerapian dan kebersihan tetapi untungnya saya memiliki partner yang tingkat toleransi atas keadaan rumah yang acak-acakan jauh lebih tinggi di atas saya. Jadi kalau menurut saya berantakan, menurut dia belum, itu masih bisa ditoleransi katanya. Jadinya gak menggebu-gebu harus bersih perfect kan? Dan secara natural sejak bersama dia, lambat laun saya mengikuti ritmenya. Saya menjadi lebih toleran dengan yang namanya rumah berantakan. Ini ternyata bekal penting yang harus dimiliki oleh ibu rumah tangga newbie yang tidak memiliki ART, supaya tidak stress melihat rumah kotor, karena pasti akan kotor melulu dan tidak bisa dihindari. Apalagi bahaya kalau sampai memarahi bayi untuk tidak mengacak-acak rumah #ngomongsamakaca.

Lalu masalah me time. Ibu rumah tangga punya me time gak yaa? Saya punya me time gak yaa? Absolutely yes dan harus! Bedanya dengan yang dulu adalah sekarang kebutuhan me time untuk memuaskan saya jauh lebih sederhana. Kalau dulu me time harus ke salon, dipijet, dilulur… nah kalau sekarang dengan mandi dibawah kucuran shower air anget dengan tenang aja sudah lebih dari cukup. Kalau dulu makan steak adalah me time, nah kalau sekarang makan indomie dengan gak terburu-buru aja sudah lebih dari cukup. Kapan me time nya? Gak bisa anytime makanya precious banget. Jadi me time nya adalah pas bayi lagi bobo atau pas partner lagi senggang jadi bisa ganti pemain jaga bayi.

Intinya jadi ibu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Kita lah yang mengatur pekerjaan sendiri, sekaligus mengatur emosi. Ruang lingkup kita adalah suami, anak, dan rumah. Kita boleh banget berharap suami dan anak dapat membantu tapi please ekspektasinya jangan terlalu tinggi haha karena pasti ada aja yang kurang menurut kita.

Akhirnya saya berada di titik apa yang mamah rasakan. Maafkan anakmu yaa , Mah. Semoga besok-besok masih ada waktu untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan jauh lebih baik dari hari kemarin. Aamiin…

Terakhir…. buat para ibu muda newbie, selamat berjuang juga yaaa. Welcome to the real real real world! Buat yang belum jadi ibu muda, selamat membekali diri ya. Semoga dimudahkan semuanyaaa… aamiin.

Regards,

12.27 AM waktu Netherland

 

Menjadi Orang Tua

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya. Pekerjaan rumah calon orang tua sebelum memiliki anak adalah bagaimana membekali diri agar ketika sudah dinyatakan pantas, bekal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dari hari ke harinya. Tidak ada yang sempurna. Walaupun sudah mengalami asam manis kehidupan, akan ada kalanya kesalahan itu terjadi. Bukan salah yang sebenarnya, mungkin.

Saya adalah produk didikan orang tua saya. Waktu saya jauh lebih muda, mungkin tidak terpikir oleh saya bahwa didikan orang tua yang begini dan begitu akan berdampak sesuatu pada diri saya nantinya atau menyadari bahwa didikan itu akan membentuk saya yang seperti sekarang ini.

Pada awal pernikahan adalah masa-masa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga suami. Saya mengenal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di tahun ke-5, saya mulai dekat dengannya (kalau istilah sekarang mah pacaran). Di tahun ke-8 kami berpisah dan di tahun ke-9 kami balikan lagi ha ha.. Sampai akhirnya pada tahun ke-10 kami menikah. Waktu 10 tahun cukup untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya bukan? Ya, tentu. Lalu setelah menikah apakah semuanya sudah cukup? Tentu tidak.

Pernikahan membuat saya lebih memahami akan dirinya. Saya menjadi lebih mengerti kenapa sifatnya seperti itu setelah saya mengenal lebih jauh kedua orang tuanya… Oh ternyata sisi dia yang ini mirip ibunya, dan sisi dia yang itu mirip bapaknya. Hingga pada akhirnya saya pun menganalisa diri saya sendiri dan darimana sifat saya ini bersumber.

Inilah salah satu proses pembekalan diri saya untuk calon anak saya nanti. Setelah membedah sifat dan sumbernya saya menemukan kesyukuran, kegembiraan bahkan kekecewaan. Untuk sifat yang baik akan selalu dijaga dan dijunjung sedangkan untuk sifat yang belum sempurna, ada keinginan untuk menghindari sifat itu dan membuatnya jauh lebih baik. Agak naïf memang, bagaimana kalau sifat itu sudah tertanam dalam alam bawah sadar saya, dan bukankah tindakan kita sebagian besar dipengaruhi oleh alam bawah sadar?

Role mode. Saya juga mempelajari role mode orang tua yang baik menurut saya. Catat, bukan berarti orang tua saya bukanlah role mode ya, beliau adalah orang tua terbaik yang saya miliki dan saya semakin menyadarinya setelah saya akan menjadi orang tua. Saya banyak membaca referensi tentang orang tua yang sukses membimbing anaknya, yang terbaru adalah saya menelusur sosok orang tua di era modern, yaitu orang tua dari Isyana Sarasvati, dimana beliau ternyata orang hebat yang mampu mengarahkan bakat kedua anaknya, salah satunya bakat bermusik Isyana. Intermezzo, kenapa coba saya berhenti dan menelusur sosok Isyana Sarasvati? Ha.. ha.. sudah pasti karena sekarang Isyana sedang menjadi godaan para pria… saya masih geli membaca joke ini bahwa godaan pria sekarang ada 4, yaitu harta, tahta, Raisa, dan Isyana 😀

Pada akhirnya setiap orang pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat saya untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik. Setiap saya merasakan ketidaknyamanan ketika sedang hamil, saya langsung ingat bahwa saya sedang diberi karunia yang luar biasa oleh Allah. Inilah titik dimana saya sadar bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah dan sungguh membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keihklasan sejak awal.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14)