Mulai Berbisnis Lagi

Setelah kurang lebih 3 bulan vakum menjalankan bisnis online shop, hari ini saya resmi membukanya lagi. Teringat banyak sekali customer yang menghubungi saya via Line, WhatsApp dan BBM yang tidak saya respon. Suami sampai mengingatkan, “Jangan dicuekin lho, gak sopan”, tetapi tetap saja bila saya sudah malas maka saya bisa tidak menghiraukan satu hal atau banyak hal 😀

Teringat bahwa saya beralasan untuk vakum sebelumnya karena saya sedang mengalami morning sickness trimester pertama. Saya juga beralasan kalau ternyata berjualan itu bukan sesuatu yang saya enjoy menjalaninya. Alasan lainnya adalah saya capek harus terhubung terus dengan handphone sehingga mata dan otak saya lelah karena setiap waktu harus siap bila ada order-an. Lalu saya beralasan kalau saya gak nyaman menjual barang orang karena stok tidak dapat dipastikan, kadang hari ini ada eh tapi ketika ada order-an barang itu kosong, saya sampaikan ke customer. Eh tiba-tiba beberapa hari kemudian barang itu tersedia di supplier. Yah, rasanya seperti dimain-mainkan saja dengan sesuatu yang tidak pasti. Saya beralasan kalau barang sendiri kan saya bisa bisa memperkirakan kapan barang itu ready, kapan nyetok ulang, dll. Tetapi nyatanya menjual barang sendiri itu entah kapan direalisasikan haha… karena masih banyak alasan-alasan juga.

Wah kok banyak alasannya ya? Haha.. Jadi kalau di dalam berpidato grogi adalah musuh utama, nah dalam bertindak,  alasan-alasan lah yang menjadi musuh utamanya *ngomong sama kaca*.

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang terlalu terorganisir. Saya senang dengan kejutan-kejutan bahkan untuk beberapa hal saya langsung terjun spontan tanpa berpikir risk and benefit. Tetapi, saya juga sangat bisa serius dan melakukan pemikiran panjang mengenai masa depan terkait sesuatu yang akan dipilih atau dihadapi. Seperti bisnis online shop ini, dulu saya spontan buat akun di instagram lalu langsung memasang foto-foto. Tidak terpikir harus dapat untung berapa dan nanti bagaimana, yang pasti saya ingin membiasakan berbisnis. Seiring perjalanannya, banyak alasan (tadi) yang menghambat konsistensi. Sampai akhirnya sekarang saya buka lapak lagi meneruskan sisa-sisa perjuangan (lebay) hehe..

And the show must go on! Sama seperti ODOP for 99 days yang terus berjalan untuk membentuk kebiasaan, saya mulai bisnis ini lagi dari awal. Bikin komitmen baru dengan diri sendiri. Mikir-mikir lagi strategi apa yang oke. Membuka peluang bisnis baru. Dan lain-lain. HEHE.

Advertisements

Bersyukur Memiliki Mimpi

Mimpi adalah bahan bakar penggerak akal, panca indra, naluri, dan seluruh anggota badan manusia yang diamanahi oleh Allah SWT. Manusia menjadi semakin keras berpikir bagaimana caranya meraih mimpi tersebut, apa yang bisa dilakukan oleh mata dan telinga? Apa yang bisa dilakukan oleh tangan dan kaki? Apa yang bisa dilakukan oleh hati?

Mimpi adalah motivasi untuk memanfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya dan optimis menyambut hari esok. Semakin bertambahnya hari, mimpi akan semakin dekat karena waktu mendekatkan manusia kepada deadline mimpinya. Mimpi dan deadline adalah kombinasi hebat untuk membuat manusia menjadi berusaha sesuai dengan kemampuannya.

Mimpi adalah persiapan menuju ketidakpastian tingkat tinggi karena segala daya upaya pasti banyak yang dikorbankan, tetapi pilihan tetap hanya ada dua, yaitu gagal atau berhasil. Siapa yang tau mimpi akan berhasil bukanlah sang pemimpi, pun yang menentukan berhasil atau tidak bukanlah manusia.

Mimpi adalah proses transformasi menuju pribadi yang berbeda. Bisa menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Setelah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti, manusia akan berpikir langkah selanjutnya. Mimpi berhasil, manusia akan berpikir. Mimpi gagal, manusia pun akan berpikir atau bahkan tidak berpikir sama sekali karena putus asa mimpi tidak teraih. Yang jelas pada titik ini manusia telah berubah karena telah melalui pandangan dan pengalaman baru.

Menjalani hari dengan memiliki mimpi tidak lah sama dengan menjalani hari dengan tidak memiliki mimpi. Mimpi mengharuskan manusia memiliki nilai dan komitmen untuk menjaganya. Nilai dan komitmen ini yang membuat manusia menjadi lebih terjaga dalam laku sehari-hari.

 

Menjadi Orang Tua

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik daripada dirinya. Pekerjaan rumah calon orang tua sebelum memiliki anak adalah bagaimana membekali diri agar ketika sudah dinyatakan pantas, bekal tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dari hari ke harinya. Tidak ada yang sempurna. Walaupun sudah mengalami asam manis kehidupan, akan ada kalanya kesalahan itu terjadi. Bukan salah yang sebenarnya, mungkin.

Saya adalah produk didikan orang tua saya. Waktu saya jauh lebih muda, mungkin tidak terpikir oleh saya bahwa didikan orang tua yang begini dan begitu akan berdampak sesuatu pada diri saya nantinya atau menyadari bahwa didikan itu akan membentuk saya yang seperti sekarang ini.

Pada awal pernikahan adalah masa-masa saya menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga suami. Saya mengenal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di tahun ke-5, saya mulai dekat dengannya (kalau istilah sekarang mah pacaran). Di tahun ke-8 kami berpisah dan di tahun ke-9 kami balikan lagi ha ha.. Sampai akhirnya pada tahun ke-10 kami menikah. Waktu 10 tahun cukup untuk mengetahui sifat dan kebiasaannya bukan? Ya, tentu. Lalu setelah menikah apakah semuanya sudah cukup? Tentu tidak.

Pernikahan membuat saya lebih memahami akan dirinya. Saya menjadi lebih mengerti kenapa sifatnya seperti itu setelah saya mengenal lebih jauh kedua orang tuanya… Oh ternyata sisi dia yang ini mirip ibunya, dan sisi dia yang itu mirip bapaknya. Hingga pada akhirnya saya pun menganalisa diri saya sendiri dan darimana sifat saya ini bersumber.

Inilah salah satu proses pembekalan diri saya untuk calon anak saya nanti. Setelah membedah sifat dan sumbernya saya menemukan kesyukuran, kegembiraan bahkan kekecewaan. Untuk sifat yang baik akan selalu dijaga dan dijunjung sedangkan untuk sifat yang belum sempurna, ada keinginan untuk menghindari sifat itu dan membuatnya jauh lebih baik. Agak naïf memang, bagaimana kalau sifat itu sudah tertanam dalam alam bawah sadar saya, dan bukankah tindakan kita sebagian besar dipengaruhi oleh alam bawah sadar?

Role mode. Saya juga mempelajari role mode orang tua yang baik menurut saya. Catat, bukan berarti orang tua saya bukanlah role mode ya, beliau adalah orang tua terbaik yang saya miliki dan saya semakin menyadarinya setelah saya akan menjadi orang tua. Saya banyak membaca referensi tentang orang tua yang sukses membimbing anaknya, yang terbaru adalah saya menelusur sosok orang tua di era modern, yaitu orang tua dari Isyana Sarasvati, dimana beliau ternyata orang hebat yang mampu mengarahkan bakat kedua anaknya, salah satunya bakat bermusik Isyana. Intermezzo, kenapa coba saya berhenti dan menelusur sosok Isyana Sarasvati? Ha.. ha.. sudah pasti karena sekarang Isyana sedang menjadi godaan para pria… saya masih geli membaca joke ini bahwa godaan pria sekarang ada 4, yaitu harta, tahta, Raisa, dan Isyana 😀

Pada akhirnya setiap orang pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Semoga tulisan ini menjadi penyemangat saya untuk terus belajar menjadi orang tua yang baik. Setiap saya merasakan ketidaknyamanan ketika sedang hamil, saya langsung ingat bahwa saya sedang diberi karunia yang luar biasa oleh Allah. Inilah titik dimana saya sadar bahwa menjadi orang tua itu tidak mudah dan sungguh membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan keihklasan sejak awal.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14)

Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya”

Sebagian besar orang seusia saya mudah menyerah dalam dunia pekerjaan dengan alasan “Ini bukan passion saya”. Saya tidak menyayangkan karena kita masih muda –dalam artian kita masih kuat melakukan banyak hal yang kita mau, bukan berarti usia kehidupan di dunia masih panjang. Namun yang menggelitik hati saya adalah mereka yang berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga mereka hanya bekerja rata-rata. Tidak pula mengejar apa yang sebenarnya “passion” menurut mereka karena tidak cukup keberanian.

Passion, menurut kamus Bahasa Inggris, artinya adalah gairah, semangat, nafsu, keinginan besar, kegemaran.

Benar menurut buku yang saya baca, bahwa beruntung lah mereka yang bekerja sesuai dengan passion mereka. Tetapi apakah jika pekerjaan itu bukan passion mereka lalu mereka  tidak akan semangat bekerja? Tidak juga, saya pikir.

Setidaknya ada beberapa kondisi yang pada akhirnya seseorang membuka diri dengan pekerjaan yang bukan menjadi passion mereka, menerima dengan penuh kesadaran, bersungguh-sungguh, penuh semangat, sampai mereka menghasilkan produktivitas tinggi namun dengan tetap mengatakan “ini bukan passion saya”. Ya, bukan passion saya, tetapi ini adalah mata pencaharian saya.

Dengan pengalaman menjalani kehidupan yang masih minim, saya mengamati teman-teman saya yang akhirnya mereka bekerja dengan memberikan gairah pada sesuatu yang sedang mereka jalani, yaitu, pertama, mereka yang pernah mengalami kegagalan di pekerjaan sebelumnya yang sama-sama bukan passionnya namun tetap menjalaninya karena belum berani mengejar “passion” yang mereka mau. Kedua, mereka yang memiliki rasa tanggung jawab besar atas keberlangsungan hidup seseorang atau beberapa orang. Dan ketiga, mereka yang senang bekerja keras dan berjuang (karena salah satu cita-citanya adalah mewujudkan passion yang sebenar-benarnya). Bukankah gairah itu membuat mereka tetap hidup?

Menurut saya makna luas passion itu sendiri adalah gairah, semangat, keinginan besar, kegemaran. Pada kondisi tertentu jangan persempit maknanya dengan sesuatu yang hanya kita sukai yang dengan tidak dibayar pun kita sanggup mengerjakan. Masukkan makna luas passion tersebut ke dalam pekerjaan yang bukan “passion” kita. Maka benar adanya beruntunglah mereka yang bekerja sesuai dengan passion mereka, karena mereka tepat berada pada energi aktivasinya.

Namun sekali lagi, jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga produktivitas kita rata-rata. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga menghambat rencana hidup yang lain. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga lambat berproses. Jangan berlindung dari “Ini bukan passion saya” sehingga setiap hari kita menggerutu.

 Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat..

GREAT ESCAPE! eksotisme Kidang Pananjung

Oke, wedew baru kesampean mau nulis great escape Kidang pananjung! Berjalan ke bumi kidang pananjung. Suatu desa di lereng gunung, tepatnya di daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini terpilih sebagai lokasi Farmasi pedesaaan XIII.Semoga kita dimudahkan ke desa ini dan apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak (warga desa dan panitia Fardes) bisa terlaksana.

Inilah eksotisme Desa Kidang Pananjung:

  • Masalah yang paling utama berdasarkan musyawarah adalah pendidikan. Walaupun pendidikan sudah gratis, untuk SD, SMP dan SMA, tetapi warga merasa berat untuk masalah transportasi. Jarak yang cukup jauh antara tempat sekolah dan desa bisa membuat warga perhari mengeluarkan uang Rp 20.000 untuk membiayai pergi kesekolah. Sedangkan pernghasilan rata2 perkapita perhari adalah hanya sebesar Rp 8360. Emang daerahnya jauh dari pusat masa, jalan rusak dan menanjak.

jalan yang bagus. tapi menanjak meen..

  • Masalah kedua menurut warga adalah masalah kesehatan. Sebenernya pemerintah sudah mengadakan jamkesmas untuk warga desa KP ini, sehingga mereka bias gratis ke puskesmas. Tetapi yang jadi masalah adalah tempat puskesmas yang sangat jauh dari desa bahkan sampai memakan biaya rp 300.000 untuk ongkos perjalanan. Karena hal ini masyarakat cenderung malas untuk pergi ke puskesmas, dan memilih untuk menahan penyakitnya atau mengobati sendiri.
  • Masalah MCK, masih banyak RW yang belum dilengkapi MCK disetiap rumahnya. Seperti RT03, RW 02 & 01. Masih banyak warga yang sudah mempunyai rumah dari batu bata, tapi tidak membuat MCK karena sudah terbiasa di ‘luar’.
  • Masalah kesehatan air. Hamper seluruh warga desa KP mengambil air dari sumber mata air. Tapi masalahnya pada saat hujan air nya yang biasanya bening berubah menjadi putih keruh. Mereka bertanya apakah ini berbahaya untuk dikonsumsi atau tidak. Apakah butuh filter ato bgmn baiknya. Karena ada seorang  warga yang menggunakan sumur yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air, tetapi pada saat musim hujan tidak mengalami kekeruhan seperti sumber mata air itu.

MCK-nya kayak geneee.. menurut lo?

Nah lhoo kesadarannya juga kan. Ayo ayo!


  • Masalah ketiga adalah mengenai ekonomi. Karena menurut mereka perekonomian tidak merata. Komoditas utama dari desa KP adalah singkong, yang biasa mereka buat menjadi tape. Tapi ada banyak kendalanya karena dalam 3 hari saja tape itu sudah busuk. Juga mereka mengeluhkan kurangnya pemasaran karena mereka tidak terlalu mengerti bagaimana caranya.

Peyeum bandung asik!

Ini teh kayak chiki aja dijual pelastikan. Oh My GOD! *rokok lho itu*

  • Masalah keempat adalah mengenai sarana. Banyak jalan yang longsor dan rusak berat. Maka dari itu desa KP sulit dijangkau.

Yaah begitulah sekilas tentang Desa Kidang Pananjung. Di samping masalah mereka ada juga keeksotisan masyarakat dan kondisi alam di sana. Ketika pertama kali datang kesana,  kamu akan melihat daerah hijau di sekeliling, really really green. Bahkan gak ada sifat komparatif atau superlatif tentang hijau di sana karena kehijauan adalah milik mereka semua. That’s why I mean it’s great escapes! Kalo kamu stress datang deh ke sana liat yang ijo-ijo. Tapi miris memang, kebersihan dari masyarakatnya kurang.

cocok buat kontemplasi

Can you do this everyday?

Foto-foto yang lain ada di saya.. kalo mau liat hubungin saya kawan! 🙂

 

Matematika Sedekah

Begini konsep matematika sedekah itu:
Menurut pelajaran matematika yang kita kenal di sekolah dasar,
10 – 1 = 9,
tetapi, di dalam matematika sedekah,
10 – 1 = 19,
sebab setiap kali kita bersedekah dengan memberikan satu unit rizki (harta) kita, Allah akan menggantinya (membalasanya) 10 kali lipat.

Jika matematika sedekah itu dilanjutkan, maka kita memperoleh hasil perhitungan sebagai berikut:
10 – 2 = 28
10 – 3 = 37
10 – 4 = 46
10 – 5 = 55
10 – 6 = 64
10 – 7 = 73
10 – 8 = 82
10 – 9 = 91
10 – 10 = 100

Jadi, setelah 10 unit harta kita habis disedekahkan, maka kita memperoleh balasan dari Allah SWT 10 kali lipat dari semula, yaitu 100 unit. Matematika sedekah ini juga menjelaskan bahwa seseorang tidak akan jatuh miskin karena sering bersedekah, sebaliknya rizkinya makin bertambah. Subhanallah. Karena itu tidaklah perlu seseorang mempunyai sifat pelit atau kikir kepada orang lain.

Apakah balasan dari Allah SWT yang 10 kali lipat itu? Apakah berupa rezki yang jumlahnya 10 kali lipat dari harta yang kita sedekahkan? Wallahu alam, bisa begitu atau dalam bentuk yang lain, hanya Allah yang tahu. Balasan dari Allah SWT bisa berupa bantuan yang tidak terduga datangnya, bisa juga berupa dikabulkannya doa dan keinginan yang selama ini selalu dipinta.