Tegur Sapa

Jumat kemarin saya diajak buka puasa bersama oleh adik angkatan, mantan teman kantor saya yang akan pindah ke kota Jember mengikuti suaminya yang bekerja di sana. Hari itu adalah hari kedua bulan ramadhan namun saya tidak berpuasa karena keringanan dari Allah yang Maha Bijaksana membolehkan tidak berpuasa bagi ibu hamil. Walaupun begitu saya mengiyakan untuk bertemu dengannya di waktu berbuka, sekalian menunggu suami pulang, saya pikir. Sebelum bertemu, kita sempat whatsapp-an untuk menentukan dimana kita akan bertemu. Dia menyerahkan pemilihan tempat kepada saya karena ternyata dia pun sedang tidak berpuasa. Sedang datang bulan ujarnya. Diam-diam saya terharu.. jadi esensi kita bertemu pada saat itu adalah murni dia ingin bertatap muka dan bersilaturahim dengan saya sebelum dia pergi ke Jember. Ternyata bukan hanya sekedar ingin berbuka puasa bersama.

Dia memang memiliki pribadi yang supel, ramah, dan senang bercerita. Saya sering kagum dengan pribadi seperti itu karena mereka selalu menghidupkan suasana. Singkat cerita akhirnya kita bertemu di suatu cafe yang bertempat di Dayang Sumbi. Setelah bercerita agak lama saya pun tahu bahwa besok di rumahnya akan diadakan buka bersama angkatannya dan dia yang menginisiasi, alasannya pun serupa, dia ingin bertemu teman-temannya di Bandung sebelum berangkat ke Jember.

***

Pagi tadi saya menerima pesan melalui whatsapp dari nomor yang tidak ada di phone book saya. Isi pesan awalnya seperti ini… ” Assalamualaikum Purwa, apa kabar?” Sesaat saya tidak menjawab, beruntung foto profil beliau terpampang jelas di informasinya… oh ibu itu. Ketika saya tahu dan yakin, saya langsung menjawab pesannya tanpa bertanya maaf ini dengan siapa.

Ibu tersebut adalah wanita hebat penggerak kegiatan sosial yang berhubungan dengan bidangnya, yaitu kesehatan. Kami sama-sama seorang apoteker. Beliau merupakan pengurus organisasi dan saya sempat menjadi anggota organisasi tersebut, namun sudah lama saya tidak mengikuti kegiatannya. Di dalam hati saya bertanya-tanya, waduh.. malu ditanya duluan, kira-kira ada apa ya.. obrolan terus berlanjut namun beliau sama sekali tidak menyinggung tentang sesuatu yang serius. Beliau hanya bertanya kabar, tinggal dimana setelah menikah, lalu obrolan ringan lainnya. Lama-lama saya penasaran, akhirnya saya bertanya tentang tumben. Hehe.. tahu lah ya maksudnya apa.. “kok tumben”. Dan, ibu itu hanya menjawab dengan simple.. “Biasa kalau ramdhan suka inget sama orang-orang yang udah lama gak disapa”.

Gotcha! saya dapat dua jackpot.

***

Pertama, saya bersyukur masih ada orang yang ingat dan perhatian sama saya. Kedua, saya kok sombong sekali ya… saya sering membuka social media tapi saya hanya mengamati saja tanpa niat berkomunikasi dengan orang lain, dunia maya saja begitu, apalagi dunia nyata. Lama tidak bertemu dengan orang-orang baru dan kembali bertegur sapa dengan orang-orang lama membuat dunia menjadi sempit. Pantas saja begitu.

Advertisements