Tentang Belanda

Tanah kelahiran saya adalah Indonesia, tanah yang dijajah oleh negara dimana saya tinggal saat ini. Sekarang saya disini, ya di Belanda. Bukan untuk balas dendam tentunya.. tapi untuk menagih balas budi hehe..

Becanda..

Kenapa saya di Belanda? Alhamdulillah saya disini jadi motivatornya suami agar lulus kuliah master tepat waktu dengan hasil yang memuaskan haha.. Alhamdulillah nya lagi suami saya dapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk kuliah di Belanda. Jadi sebenarnya kami sangat beruntung karena kami bisa melihat dunia yang MasyaAllah luasnya hanya dengan 0 rupiah dari kantong kami (karena sudah ditanggung oleh sponsor beasiswa). Tapi yaaaa berat konsekuensinya. Tanggung jawab terhadap negara tercinta Republik Indonesia harus kami tunaikan dengan sebaik-baiknya (mohon doanya yaaa semua.. hehe..

Anw back to Belanda. Gimana sih Belanda? Hal itu lah yang menjadi pertanyaan saya ketika harap-harap cemas mempersiapkan diri merantau ke Belanda. Saya mewawancarai beberapa teman yang pernah datang ke Belanda. Dari beberapa kesan yang diberikan, yang menjadi perhatian mereka adalah cuaca, cuaca yang dingin dan angin yang besar. Mungkin bukan hanya di Belanda sih yang cuacanya dingin, mungkin di sebagian besar negara Eropa lain juga sama cuacanya dingin. Hanya pas kebetulan saya membahas tentang Belanda jadi fokus utamanya adalah Belanda.

Okee.. sekarang saya disini, di Belanda. Akhirnya saya merasakan sendiri hawa Belanda seperti apa. Meski belum sepenuhnya menjelajahi negeri Belanda karena sebagian besar waktu saya habis dengan mengurus Aluma di rumah dan saya baru 2 bulan disini, saya akan menggambarkan sedikit mengenai kebiasaan orang Belanda yang cukup menarik perhatian saya. Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak maka disana langit dijunjung yang artinya kurang lebih, “sebaiknya kita selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada”, maka mari kita pelajari apa itu kebiasaannya.

20170406_153823

Kanal, icon di Amsterdam Central

Saya rangkum sebagai berikut:

1. Belanda itu lebih dingin daripada Indonesia. Jadi siapkan minimal 1 jaket dan syal ketika akan pergi ke Belanda. Meskipun kata orang Belanda ketika spring itu menghangat tapi bagi orang Indonesia yang baru datang pada saat itu, cuaca masih tergolong dingin. Ditambah angin yang besar menambah dinginnya hari.

2. Ramalan cuaca sangat bermanfaat ketika akan memutuskan kegiatan apa yang akan dilakukan hari ini. Dari ramalan itu bisa terlihat kondisi tiap jam dari cuaca hari ini, apakah hujan atau cerah dan sepengalaman saya informasinya cukup akurat.

3. Transportasi umum disini saling terintegrasi dan bisa diakses melalui Gmaps. Jadi misal kita mau ke A naik kendaraan umum, tinggal buka Gmaps lalu pakai menu Go To. Nanti akan tersaji kita bisa ke A dengan naik apa, misal naik bus no berapa dan jam berapa lalu lanjut kereta apa dan jam berapa. Intinya waktu kita akan sangat efektif dan kita ga perlu nunggu ngetem yang ga jelas kapan ini bis berangkat. Jadinya kita pun bisa memperkirakan jam berapa kita akan sampai ke tujuan, karena informasi itu akan tersaji.

4. Koneksi internet di area publik tersedia.

5. Kran air di rumah itu ada dua, air panas dan air dingin. Jika tidak ada keterangan bukan untuk diminum, sebagian besar air dingin disini bisa langsung diminum. Kalau air panasnya katanya tidak disarankan untuk langsunh diminum.

6. Orang Belanda cenderung ramah. Dengan supir bus, dengan kasir supermarket, dengan tetangga dekat, dengan tetangga jauh, ketika masuk ruang tunggu dokter, dengan tukang maintenance apartemen…. biasakan saling sapa dengan hai atau hallo atau goedemorgen! (tergantung jamnya). Meskipun tidak ada perbincangan selanjutnya tetapi menyapa hai dan hallo itu sesuatu banget menurut saya.

7. Kalau belanja di supermarket, kasir hanya membantu menghitung belanjaan. Jadi yang memasukkan belanjaan ke tas belanja adalah kita. Dengan membawa tas belanjaan sendiri! Gimana kalau ga bawa tas belanja? Tenang.. disana ada juga tas belanja, tapi bayar πŸ™‚

8. Di setiap kota kecil ada Centrum. Di Centrum ini semacam pusat perbelanjaannya gitu deh. Ada banyak toko.. tapi kalo hari Minggu tokonya tutup semuaaa! Beda dengan Indonesia dimana kalo hari Minggu itu mall malah penuh. Disini hari Minggu adalah hari untuk keluarga.

9. Pasar tradisional disini cuma ada 2 kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa dan hari Sabtu.

10. Fasilitas publik di Belanda sangat friendly untuk bayi, orang tua, dan penyandang disabilitas. Baik itu di jembatan penyebrangannya, di stasiunnya, dan di kendarannya.

11. Biaya jasa disini sangat dihargai! Jadi kalau mau potong rambut, mau ngebengkel itu akan menghabiskan euro yang lumayan kalau dirupiahkan hehe.. jadi kalau bisa membekali diri dengan skill minimal bisa potong rambut sendiri itu sudah menghemat beberapa euro :p

12. Punya sepeda disini rasanya prioritas, karena bisa memudahkan mobilisasi dan prasarananya pun nyaman sekali untuk gowes. Jadi sayang kalau ga naik sepeda di sini..

13. Toko halal disini mudah ditemui. Toko asia juga ada. Mau cari beras juga gampang. Mau cari tempe ada. Yang suka rambutan ada. Bahkan Indomie juga mudah didapat πŸ™‚

14. Kalau mau beli perabotan rumah/ pakaian/ sepatu/ mainan kringloop bisa jadi pilihan. Kringloop itu adalah toko barang bekas dan harganya jauuuuuh lebih murah daripada barang baru. Dan babe disini lengkap dan bagus2 haha. Mulai dari sendok piring gelas sampai yang barang antik ada.

15. Kalau di Indonesia kita selalu menunggu jalan kosong dulu kalo mau menyebrang, nah kalau disini ada kalanya para pejalan kaki dan pesepeda mempunyai prioritas untuk didahulukan. Jadi mobil-mobil akan mengalah untuk kita.

Okeee nampaknya cukup sekian dulu yaaa. Saya masih harus mempelajari lagi tentang Belanda. Fyi saya tinggalnya di Enschede, Belanda. Saya kurang paham kalo di kota lain sama atau nggak yaa dengan apa yang saya ceritakan di atas. Tapi mudah-mudahan highlight ini bisa bermanfaat untuk yang benar-benar ngeblank tentang Belanda.

Cheers!

Advertisements

Naik Pesawat Bersama Bayi

Bulan Februari 2017 kami berangkat ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia transit Singapur selama 2 jam. Ini adalah kali pertama Aluna melakukan perjalanan jauh darat dan udara. Kami berangkat dari Bandung sehingga apabila ditotal, lama perjalanan kami seluruhnya Bandung-Belanda adalah 32 jam. Saat itu Aluna berusia 7 bulan. Usia dimana sudah mulai aktif dan reaktif terhadap lingkungan baru.

Pengalaman kami membawa bayi naik pesawat cukup menegangkan karena nampaknya Aluna tidak enjoy naik pesawat. Entah itu karena tidak nyaman, takut karena baru pertama kali, atau mungkin karena capek. Karena tidak enjoy itu jadinya yaaa sering nangis bahkan sampai sulit didiamkan. Saya dan bapaknya sampai bergantian menggendong Aluna sambil berjalan-jalan di lorong kabin untuk mendiamkan Aluna. Yang kami khawatirkan adalah orang sebelah kursi kami terganggu dengan tangisan Aluna yang cukup keras. Terbukti… setelah landing di bandara Schipol, bule yang duduk tepat di samping suami berkomentar, “She’s cute when she slept”. Dag! apa bulenya serius ngomong itu atau nyindir yak? :p

Okee… berdasarkan pengalaman itu, saya akan merangkum beberapa hal mengenai perjalanan naik pesawat dengan bayi:

  1. Pastikan sebelum terbang bayi menggunakan pakaian yang nyaman dan diaper sudah diganti dengan yang baru.
  2. Kalau bisa memilih, pilihlah kursi paling depan karena space di kursi paling depan cukup lebar sehingga mommy bisa meregangkan kaki lebih leluasa, selain itu kita juga bisa request bassinet kepada pramugari sehingga bayi bisa ditidurkan disana. Pengalaman Aluna kemarin, bassinet ini sangat berguna ketika Aluna sedang tidur. Kami bisa beristirahat dengan bebas dan supaya tidak pegal selalu memangku bayi. Kecuali ketika ada turbulence bayi diangkat dari bassinet karena bassinet tidak dilengkapi dengan sabuk pengaman.
  3. Siapkan makanan kesukaannya baik snack maupun makanan berat, karena siapa tau bayi tidak suka dengan makanan instan yang disiapkan oleh maskapai. Pengalaman Aluna kemarin kejadian, Aluna tidak suka makanan dari maskapai. Beruntung kami membawa bubur homemade yang dibuat sebelum berangkat (kami sempat memasukkannya ke dalam freezer beberapa saat) dan Alhamdulillah rasa dan baunya masih bagus jadi Aluna bisa makan dengan lahap. Untuk air putih panas atau dingin kita bisa minta ke pramugarinya.
  4. Siapkan mainan yang menarik baginya untuk meminimalkan kebosanan pada bayi.
  5. Jika bayi rewel, hadapi dengan tenang. Saya sarankan sih kalau pergi dengan bayi pertama kali naik pesawat perjalanan jauh, ada yang mendampingi untuk bergantian menjaga kalau repot tapi kalau terpaksa pergi sendiri dan percaya diri atau sudah sering bolak-balik naik pesawat ya tidak apa-apa. Cara mendiamkan Aluna kemarin adalah dengan mengajaknya jalan-jalan dan melihat lampu! Maksudnya adalah alihkan perhatiannya ke sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga dia lupa dengan menangisnya dan menjadi lebih tenang. Kalaupun menangis terus sepanjang jalan, harap sabar hee.. yang bisa kita lakukan adalah menjaganya, mencoba meredakan, minimal tidak sampai mengamuk. Mommy pasti punya caranya masing-masing πŸ™‚
  6. Yang bahaya bagi bayi ketika naik pesawat adalah adanya perbedaan tekanan, terutama pada saat take off dan landing. Coba perhatikan, apakah mommy pernah merasa telinga mommy sakit/tidak nyaman pada saat take off/landing? dan ketidaknyamanan ituΒ  menghilang ketika mommy menelan ludah? Nah, pada orang dewasa saja kadang ketidaknyamanan itu terasa apalagi pada bayi. Jadi jangan lupa membantu bayi untuk menelan untuk menstabilkan dirinya. Kalau saya menyarankan sambil memberinya minum, entah itu direct breastfeeding atau melalui botol, yang penting bayi menelan. Kalau bayi tidur bagaimana? Amati dan siaga siapa tau di tengah-tengah bayi terbangun.

Begitulah sedikit catatan saya ketika membawa Aluna naik pesawat. Mudah-mudahan informasi ini membantu mommy yang sedang bersiap-siap membawa bayinya naik pesawat.

Cheers,